Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yang sering dipepet sama radio-radio kampung nggak jelas, sepertinya demikian.

Kampanye #RadioGueMati adalah sebuah panggilan, baik praktisi radio, pendengar Spotify setiap hari sampai 2017 wrapped mencapai di atas 50 ribu menit, bahwa begitu pentingnya radio FM. Mematikan radio selama 5 menit saja akibatnya gawat, bukan sekedar ke kedekatan dengan penyiar, namun bisa berakibat fatal kalau yang dimatikan adalah information center.

Bukan hanya masalah nafkah orang ya. Bukan juga masalah "ah gue anak Spotify, mana peduli gue sama siaran radio." Ingatlah bahwa di tahun 1980an pasti ada segelintir orang yang nggak pernah atau jarang dengar radio karena terbuai enaknya koleksi tape dari minjem temen atau mampu beli sendiri. Silakan tanya ke kolektor tape dan piringan, yang udah bisa bikin radio sendiri ya, jangan yang koleksinya cuma satu rak kaset doang.

Dananya nggak kecil buat beli koleksi segitu banyak, dan rasanya seorang yang mendapatkan tape dari hasil nyolong juga nggak akan sampai satu dua lemari perpustakaan.

Soal berita, ya jaman dulu juga saingannya sama koran dan VHS. Kalau tahun 70 ke bawah, rakyatnya yang nggak kuat dana beli radio, sehingga nggak setiap hari bisa dengerin. Akhirnya minjem punya Pak RT atau wong tajir. Zaman now, tantangannya juga mirip ah.

Menjaga frekuensi radio dari tangan jahil udah termasuk kategori bela negara dan mempertahankan teritori NKRI bahkan. 

Frekuensi Radio Adalah SDA

Frekuensi radio bukan fenomena buatan manusia. Ingat itu, itu karunia dari Tuhan! Hanya memang cara mendapatkan frekuensi radio seperti emas, tidak melalui cara-cara mekanis alamiah, layaknya kita memetik bunga di kebun atau panen padi. 

Frekuensi radio nggak akan pernah hilang selama ilmu untuk mendapatkannya masih dikuasai orang. Selama fisika gelombang elektromagnetik dan beberapa kuliah yang jadi spesialis Teknik Elektro itu masih diajarin, ya akan tetap ada terus.

Radio Mirip Jual Beli Tanah

Konsep frekuensi radio ini hampir sama dengan jual beli tanah bangunan. Dalam jual beli tanah kan dikenal yang namanya tukang serobot tanah orang, penghuni liar, dan pengguna berizin. Dikenal juga satu tanah yang punya atas nama dua orang, itu namanya sengketa.

Ketika frekuensi radio ditinggalkan sebuah radio FM, katakan radio RRI pindah frekuensi lalu frekuensi tersebut jadi kosong. Frekuensinya akan tetap ada bukan? Nah, tiba 3 orang yang akhirnya menggunakan frekuensi tersebut secara berurutan.

Pengguna satu kayak orang yang suka main bikin bedeng di pinggir kali Ibukota. Frekuensi bekas RRI itu diserobot dan udah nggak izin dulu ke Postel dan KPI, langsung disikat digunakan begitu aja. Permasalahan lain adalah kualitas pemancarnya jelek sehingga radio lain, bahkan gawatnya penerbangan kalau di frekuensi 107.7-108, akan terganggu.

Pengguna dua sudah izin nih, sudah dikasih izin juga sama Postel, KPI, dan PRSSNI (persatuan radio swasta). Radio ini tapi akhirnya penggunaan menyeleweng. Suka dibiarkan dead air atau nggak ada yang siaran, sekalinya siaran dipakai buat yang nggak-nggak kayak mengajak permusuhan umat beragama, menghina suporter bola tetangga sampai bisa bikin tawuran, dll. 

Pengguna tiga izinnya lengkap, alim - dengan tidak menggunakan radio sembarangan seenak jidat. Hanya kekurangannya ya dalam penanganan konten yang "itu-itu aja", "khas radio zaman now", "bosenin". Lalu dimarahi pendengarnya di masa depan, akhirnya rebranding jadi fokus ke satu pasar.

Kamu pilih RRI mengalihkan penggunaan radio ke orang yang mana? Gue mah orang ketiga. Macam lagu HiVi hahaha.

Jaga Frekuensi Radio Itu Wajib

Terserah kamu mau dengar radio apa. Nggak suka radio juga nggak masalah. Kaum kontra radio akan selalu begitu, sudah dari zaman CD beredar. Hanya di zaman now, dengan terjangkaunya Spotify dan miripnya radio dengan Spotify (entah siapa niru siapa) maka banyak yang akhirnya beralih. Pilihan media sudah disediakan setidaknya selama 55 tahun ke belakang kan?

Kaum pro radio juga selalu mencintai radionya dan tentu paling kehilangan dan kesel saat proyek #RadioGueMati dijalankan. Kaum setengah-setengah antara radio dan Spotify? Tergantung orangnya lah, motivasi mendengarkan radio apa.

Yang jelas, apapun pandangan kamu ke siaran radio sekarang, penggunaan radio harus dikawal banget. Radio sama berharganya dengan media online karena gratis, lalu radio-radio Jakarta juga masuk kampung dan daerah udik di Banten tanpa kalian sadari, sehingga memutuskan alasan radio Ibukota mati nggak akan berpengaruh karena masyarakatnya sudah "tech-savvy".

Di tangan salah, radio akan berubah menjadi salah. Masih mending salah kelola seperti lagu playlist jadi asal-asalan, itu-lagi-itu-lagi-sampai-kambing-bertelur, dan penyiar yang nggak oke. Yang berbahaya adalah kalau radio dijadikan alat propaganda untuk permusuhan. Penggunaan radio yang salah juga termasuk untuk kegiatan tidak senonoh, udah sempat ada yang terciduk karena memutar lagu dangdut erotis. 

Bahaya juga dijadikan alat propaganda politik, menjadi tidak adil karena daya jangkau radio ini luas dan sifat radio yang seperti mading kelas, bisa cuma didengar sekali lewat. Sementara ada politisi susah payah menebar jala ke masyarakat, eh ini ada yang seenaknya aja pakai aset publik.

Nggak Mau Itu Semua Terjadi?

Ayo dengar radio! Nggak cuma mendengarkan radio ya, tapi memantau radio kalau menemukan aktivitas mencurigakan.

Semacam ada yang ngerusuh - rusuh beneran lho seperti omongan yang bisa memancing tawuran dan pengerahan massa, siaran radio mengeluarkan pernyataan menyinggung agama lain, siaran radio yang "ganggu" saat peliputan bencana seperti terdengarnya suara tembakan - Elshinta pernah kena. Tentunya siaran esek-esek yang sangat frontal juga harus kita ciduk bersama.

Lapor ke KPI kalau terjadi di radio terdaftar di PRSSNI. Untuk radio gelap lapor ke Dirjen Postel, kalau perlu gandeng radio yang frekuensinya dirugikan, contoh melaporkan 98.6 FM akibat mengganggu Gen FM plus siaran aneh. Kalau sudah terkait teror(isme), lapor juga ke Densus 88 dan BNPT.

Nikmati Radio yang Ada

Satu lagi, nikmati radio yang udah ada. Beri masukan buat mereka, terutama buat bos-bos tingkat atasnya. Minta bos-bos tersebut mau rebranding kalau memang pasarnya ada, dengan meyakinkan didukung dengan data feedback sosmed yang jujur.... 

Semua radio ada kecocokan, kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terserah kamu mau sakit hati sama bosnya (mungkin ditolak ngelamar kerja di radio itu hehhe), mau sensi sama radio apa, tapi tetap jaga radio-radio besar itu mengudara. Kalau nanti ada radio besar yang wafat, biarlah digantikan sama yang profesional juga - atau mengerti apa yang dimau radio siaran setidaknya.

Janganlah radio kita "dikasih" ke teroris apalah itu, kayak yang baru kejadian di Swedia..... Wilayah frekuensi radio termasuk wilayah tak terlihat NKRI. Beda dengan internet yang memang virtual, kalau radio itu ada wujudnya gelombang transversal, tapi kan nggak bisa dilihat mata telanjang..... 

Mengosongkan radio dari orang yang benar-benar paham radio tambah memberi ruang untuk tangan jahil perusak negeri ini. Walau cuma di Jakarta.

Business image created by Whatwolf - Freepik.com Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yan...


Belakangan, lagu-lagu keras dan ngerock tambah gencar di radio dengan nama baru ini. Semua gara-gara demo massal ke akun Kis FM, terkait hilangnya Rock Weekend. Sayang media nggak berani memberitakan ini, kecuali Info Twitwor.

Ketika gue membuat tulisan ini, lagu-lagu yang keluar dari Most Radio salah satunya Metallica - Nothing Else Matters, Wild World versi cover Mr. Big, dan Protonema dengan Rinduku Adinda. Waduh, ini golongan lagu-lagu yang bisa dibilang rock, meski nggak keras-keras amat sih.

Enaknya penyiarnya adalah Andrian Eswe, salah satu "biangnya" Kis FM dulu. Ya, kebanyakan penyiar Ramako jaman dulu cuma bertukar-tukar radio. Ada yang memang keluar permanen atau mungkin hiatus lama, seperti Arief Okep Presiden Rock Indonesia, Febicil yang isunya mau ke Delta FM, The Koma, dan lainnya.

Kalau nggak salah mereka masih di lantai 38, dan sepertinya akan tetap di lantai 38, nggak pindah ke Imperium P7. Malah gue berharap Gen FM juga pindah ke lantai 38 GI, caplok lahan tetangganya Ramako yaitu Qatar Airlines.

Back to topic, kenapa mereka, grup Mahaka, nggak membiarkan namanya Lite FM? Kenapa juga nggak dikembalikan ke Ramako 105.8?

Simple, nama Ramako dan Lite udah identik dengan musik-musik enteng dan galau. Sementara Anda tahu sendiri lagu-lagu di Most FM belakangan, semakin didominasi musik-musik gahar, keras, dan "laki". Apalagi, Most FM juga dipromosikan sebagai 'radionya laki-laki' secara nggak langsung dari Instagram mereka.

Selain itu, kalau pake nama lama, iteration alias pengulangan pakai nama, setahu gue gak boleh deh. Lihat aja penggantian nama Sindo Trijaya jadi MNC Trijaya, nggak bisa langsung jadi Trijaya karena keganjal peraturan ini.

Pihak Mahaka ngerasa harus mengubah sensasi dari mendengarkan radio ini dari namanya. Ya udahlah, diganti aja jadi Most Radio. Apalagi kabarnya radio ini akan menjadi radio news and sports. Tapi gue ragu sih, secara untuk kategori itu kayaknya Jak FM deh. Jak FM mulai berubah ke politik, apalagi sejak interview carpool Ahok dan Anies. Kemarin Sandiaga Uno juga diundang ke sana.

Dengerin Jak FM di saat-saat tertentu, apalagi bahas Pilkada itu berasa dengerin Elshinta, nggak pake debat kusir dan tentu ada lagunya. Kemungkinan, Most FM jadi sports and oldies radio, Jak FM jadi adult contemporary and politics radio. Di antara grup Mahaka, yang paling berani nyerempet politik cuma Jak.

Tentunya Most FM ini sangat fenomenal gara-gara nggak ada saingannya untuk saat ini di Jakarta. Untuk kategori oldies lagu Barat, Most FM gak ada saingan. Kalau lagu Indonesia, saingannya ada Pro 1 RRI kalau lagi nggak muterin dangdutan, ditambah rajanya yaitu Camajaya 102.6 FM.

Apalagi ditambah lagu-lagu oldies, udahlah, generasi jaman old ngumpul semua.

Tulisan ini cuma opini terkait radio, lebih jelasnya buka aja kategori soal radio. Gue nggak ada afiliasi dengan grup radio manapun, selain sebatas kenal dengan beberapa penyiar dan petinggi. Itu nggak akan memengaruhi penilaian objektif gue. Hehehe.

Belakangan, lagu-lagu keras dan ngerock tambah gencar di radio dengan nama baru ini. Semua gara-gara demo massal ke akun Kis FM, terkait...

Penelitian Nielsen tahun 2016 bilang bahwa radio menempati penetrasi (penjangkauan penduduk di 11 kota utama tempat Nielsen melakukan survei) sebanyak 38%, sementara Internet 40%! Layar kaca nggak usah ditanya, 96%. (sumber)

Penelitian Nielsen tahun 2016 bilang bahwa radio menempati penetrasi (penjangkauan penduduk di 11 kota utama tempat Nielsen melakukan sur...



Minggu lalu, sebuah situs baru sudah online, bisa dikatakan terlahir. Twisctre.com

Minggu lalu, sebuah situs baru sudah online, bisa dikatakan terlahir. Twisctre.com



Website tertua di Indonesia dimiliki kampus UI (ui.ac.id). Internet di negara kita juga bermula dari kampus ini.

Website tertua di Indonesia dimiliki kampus UI ( ui.ac.id ). Internet di negara kita juga bermula dari kampus ini.


Memang banyak website yang mengulas beginian. Namun, gue akan mengulas lebih mendalam.dan menjelaskan situs apa aja yang ada di top 50 situs Indonesia versi Alexa. Tentunya update terbaru 2017. Cekidot yap di sini.

Memang banyak website yang mengulas beginian. Namun, gue akan mengulas lebih mendalam.dan menjelaskan situs apa aja yang ada di top 50 ...


Juli ini kayaknya banyak banget kabar duka ya?

Siang-siang bolong Jumat, di tol, gue buka twit dan baca Chester meninggal. Ku tak tahu awalnya siapanya Linkin Park itu - sekalipun gue cukup doyan lagu Linkin Park, dan gue KAGET SETENGAH MATI ketika baca itu vokalisnya. Yupz. Vokalis adalah kekuatan utama sebuah band, apalagi yang unik seperti Chester ini. Kalau sudah tidak ada mending bubar sajalah.

Terus gue kaget juga ketika di radio kesayangan gue kalau Sabtu-sabtu, announcer kesayangan gue dari gue tahu radio di luar pilihan ortu, RESIGN! I feel it. Ketika gue harus pisah dengan radio sekolah, sekitar 8 Mei 2015 ya pas angkatan gue ujian praktek seni, it is so damn so speechless. 

Secara defacto, siaran terakhir gue di radio sekolah sebenarnya pas udah jadi mahasiswa aktif UI sih. Ya, apalagi itu gw di ruang siaran pakai embel-embel FTUI. Waduh. Yah, emang tujuannya buat sosialisasi kampus ke angkatan bawah. CGTS ala-ala gitu. Siaran apaan? Gue bajak radio sekolah dan menginfokan pengeboman di Thamrin.

Lalu, Jumat seminggu setelah kematian Chester Bennington, gue dapat kabar dari Line bahwa senior gue meninggal. Gue awalnya nggak percaya, gue pikir jarkom orang tua meninggal. [jadi teringat salah seorang dosen gue yang ayah dan ibunya meninggal di saat berdekatan :'( ] Setelah ditelaah chat "Innaillahi" yang ada di grup, ternyata... senior gue yang meninggal karena kecelakaan di Klaten. Nggak percaya gue.

Apalagi kakak yang sudah lulus itu adalah salah satu panutan gue juga, bagaimana seorang bisa memimpin di lembaga mahasiswa. Sebelum gue merilis tulisan ini, sempat gue cari beritanya dan ternyata confirmed kak Shofiyyah Taqqiyah (Shofi) meninggal. Beritanya di sini (Tribun) dan di sini (Solopos).Ternyata beritanya dirilis saat gue masih di jalan pulang dari Bandung, dan sialnya HP lowbatt sehingga tidak internetan untuk sementara waktu. Kecelakaan ini memakan korban jiwa dan terjadi di jalur utama Jogja-Solo sehingga membuat media merasa perlu memberitakan juga.

Terakhir gue mendapatkan pelajaran sedalam ini saat kelas 11. Waktu itu, sempat lho setiap bulan ada orang tua siswa, guru, bahkan ada 2 siswa dan 1 guru yang meninggal. Di sekolah gue. Kalau Ibu Guru itu meninggal karena serangan jantung (ini praktis membuat kepanikan satu sekolah, sampai sekolah dipulangkan cepat karena guru-guru melayat), kalau yang masih siswa karena kecelakaan motor yang mengenai kepala.

Source: twitter @saelsaelz ex @m_sael

Gue masih ingat ketika anak Pahoa yang meninggal itu menjadi buah bibir tujuh hari tujuh malam satu sekolahan. Dari waktu ramai-ramai "pray for" di BBM dan Twitter - dulu Line belum memasyarakat, kondisi fisik akibat kecelakaan yang sangat menyedihkan, sampai akhirnya meninggal. Ada satu lagi yang karena kecelakaan motor di daerah sekitaran Tangcity, padahal sudah mau lulus dan meninggal saat mengurus sesuatu buat wisuda!

Semua kisah itu bermuara di tempat sama. Ketika segala sesuatu yang lo suka, lo sayangi, lo kenal berakhir mendadak, itu sangat berat meski harus dijalani.

None of you want to lose someone that you love forever right?

Kehilangan benda mati seperti HP dan bahkan hal yang dengan lumayan mudah bisa dibeli kayak kartu Commuter Line dengan saldo di bawah 13 ribu aja bisa bikin nangis-nangis. Bukan karena nilai barangnya secara nominal, tapi how precious it is to you.

Apalagi orang? Entah dia pergi resign dari kerjaan atau tidak lagi berkuliah bareng, apalagi meninggal dunia?

Jadi, pesan moral dari cerita ini adalah:

  1. Selalu jadikan momen bersama teman dan saudara dan rekan dan apa yang lo suka sebagai momen terakhir. Banyak kejadian, ketika sedang menganggap seorang teman akan bersama kita selamanya, eh datang kabar duka bahwa teman yang kita maksud meninggal. Ingat cerita obat bunuh diri yang sangat legendaris itu? 
  2. Banyak-banyak berdoa, berkabunglah kalau lagi benar-benar sedih karena ditinggal orang tersayang, tapi ya jangan berlebihan karena dilarang agama. Sebaiknya ya, berdoa supaya Tuhan angkat kesedihan dan bikin lo bisa move on dari rasa sedih itu.
  3. Selalu ingat, tak ada yang abadi. Tak ada yang tahu apa yang terjadi besok.
Begitulah kira-kira. Bukan begitulah Seword yang gambarnya kura-kura, beda website itu. Tolong.

Juli ini kayaknya banyak banget kabar duka ya? Siang-siang bolong Jumat, di tol, gue buka twit dan baca Chester meninggal. Ku tak ta...