Pengen nulis soal Seword.com tapi gak boleh di dalam Seword, sekalipun status gue saat ini penulis di sana. Ya udah, masih ada blog pribadi.

Media yang lahir dari tangan dingin Cak Alifurrahman ini didesain awalnya untuk pelarian Cak Alif dan beberapa orang lain dari Kompasiana. Ada Mak Ifani Emak Menjawab, ada Mbak Hima Qurrotur yang ketika Seword rame malah ga pernah nulis, ada Cak Anton dan segelintir dari penulis Seword sekarang. Seword ini dulu sama kayak blog gue yang sepi tapi berharga ini. Coba cek tulisan Cak Alif di bawah November 2016.

Seiring waktu, karena fans Cak Alif di FB banyak, belum hashtag #NCI yang ngetren saat Seword mulai dirintis, banyak yang ingin coba menulis di sana. Kayaknya sesama pengguna hash NCI? Masuklah sejumlah sesepuh Seword.

Gue sendiri masuk ke dunia tulis-menulis terkait perpolitikan setelah aksi 212. Agak jauh dari hari itu sih. Sebenarnya tulisan gue yang mulai nyerempet politik itu ada di "9 tanda haters" yang covernya demo tolak angin, eh tolak Ahok. Nah, saat hari itu, Sari Roti menyeret gue tambah masuk lagi ke dunia tulis. Nggak nyangka tulisan gue panas juga yang bahas kejahatan kaum onoh boikot roti-rotian itu.

Apalagi gue menulisnya dengan dasar kemanusiaan. Yaudah, sebar ke mana-mana, salah satunya Seword, kalo ga salah gue pertama kali kenal dari link terlarang BP Kaskus. Seword ramah terhadap penitip tulisan blog pribadi, beda dengan web lain yang dianggap spam dan dihapus. Nah, gue juga menerapkan ke blog ini yang boleh titip lapak, asal bukan tukang judi tukang obat aja.

Seiring makin seringnya gue titip lapak blog ini di dalam Seword, banyak komentator menyarankan gue pindah menulis di sana. Gue jawab "ntar dulu", namanya juga masih padat jadwal. Nah, gue coba dengan mengirim tulisan blog di Seword. Eh gak boleh, harus buat tulisan baru dan fresh.
Ya udah, tulis baru, dan setelah perjuangan dan menunggu cukup panjang, gue diterima jadi penulis Seword 31 Desember 2016. Saat itu gue kalo ga salah penulis termuda yang masuk! Yang lain udah bapak-bapak ibu-ibu dan beda lah ya dengan anak muda.

Tapi gak ada artikel Seword gue tahun 16? Gue kan lagi liburan saat itu wkwkwkw. Fokusan gue juga kebagi dua, bingung nulis di mari apa di Seword. Nah, sejak Februari, awal semester, gue fokuskan ke Seword. Lebih "menjanjikan" opini gw dibaca orang. Wkwkwk

Akhirnya beberapa kali artikel gue masuk trending. Salah satunya yang membahas Marissa Haque dari sisi background check. Menulis cuma saat weekend pun menjanjikan lho di Seword. Maaf akibat semester mulai tinggi.

Tapi blog pribadi ini agak ga keurus. Ya apalagi dengan gue mulai nulis di Line yang entah kenapa lebih cepat rame, mungkin dianggap praktis karena nggak usah klik lagi?

Ya karena gue mengikuti terus perjalanan Seword. Dari situsnya sering susah dibuka karena servernya mabok melayani request pembaca, Seword kena serang peretas yang mungkin nggak suka web ini hadir menyudutkan ruang gerak mereka. Ada penulis yang setiap keluar trending sementara gue mah apaan atuh, facebookan ga pernah nulis jarang. Wkwkw

Nah, karena ini gue semakin mencintai Seword dan nyaman menulis di sini. Gue banyak konsultasi dengan beberapa penulis terkenal di sana. Mereka ramah dan sangat terbuka untuk orang yang mau memperbaiki diri. Banyak belajar juga deh. Akhirnya teman gue juga bilang, kenapa tulisan lu makin bagus el wkwkwk.

Nah, masih ada bagian duanya tentang pandangan pribadi gue ke Seword. Nah, tunggu aja ya, masih bulan ini kok.
Begitulah Seword, yang gambarnya kura-kura! (ganti tagline wkwkwk) (karena tulisannya membahas Seword jadi nggak afdol pake tagline itu)

Pengen nulis soal Seword.com tapi gak boleh di dalam Seword, sekalipun status gue saat ini penulis di sana. Ya udah, masih ada blog prib...


This is my article for SBE magazine Biosphere, but this is the damn, raw version. I hit them harder, like I wrote in Seword.com and other websites, including here. In progress, I nearly inserted some politics.

This is my article for SBE magazine Biosphere, but this is the damn, raw version. I hit them harder, like I wrote in Seword.com and oth...

Entahlah, gue nggak mau nulis politik dulu. Nulis yang panas-panas bentar aja lah. Yah, gue merasa udah terwakilin sama jagoan-jagoan penulis di Seword sih. Hahahaha, aku mah apa atuh cuma pemula. Yaudah ngomongin pulang. Yakin?

Entahlah, gue nggak mau nulis politik dulu. Nulis yang panas-panas bentar aja lah. Yah, gue merasa udah terwakilin sama jagoan-jagoan pen...

Seiring gue dapet tawaran dari Lazada, eh temen gue yang nawarin affiliate program, buat ikut semacam affiliate program, gue mau gak mau minta maaf atas hmmm, kelancangan gue di salah satu posting yang nggak akan mengadsensekan blog pribadi ini. Nggak pake adsense gue juga pasti bakalan ngiklanin itu portal online, jadi intinya blog ini nggak murni adless lagi :D

Seiring gue dapet tawaran dari Lazada, eh temen gue yang nawarin affiliate program, buat ikut semacam affiliate program, gue mau gak ma...

Kehilangan hari ini emang bener-bener bikin sakit hati. Bikin orang gagal fokus. Yang bukan KTP DKI aja banyak yang sedih, berduka, malu, apalagi yang KTP DKI atau sering berkegiatan di DKI. Feed bikin kesal orang yang pada dasarnya nggak peduli amat sama pulitik politik dan segala jenisnya. Semuanya isinya RIP Jakarta, siap-siap dipimpin DP nol persen, awas program oke oce, dan risiko Indonesia menjadi negeri super intoleran. Ya ini memang belum melihat hasil dari sidang penistaan agama besok, tapi... hancurlah hati warga Jakarta.

Okelah, Ahok can go wherever he wants to. Whatever offered to him. Ahok memang orangnya oportunis dan inilah yang kira-kira terjadi pasca lepasnya orang ini dari tampuk kepemimpinan DKI. Ahok belum meninggal ini. Bisa diarahkan ke mana-mana, dan yang paling diharapkan orang jadi  Mendagri, sehingga hmmm, mau gubernurnya Anies juga sama aja rasanya minimal dengan Pak PLT (Soni Sumarsono) memimpin.

Dan ingat, bisa jadi beberapa hari ke depan adalah kemenangan dari hasil hitung total Ahok, karena ada perbedaan signifikan dengan QC. Hehehe.

Ya sudah, Ahok Djarot juga legowo, biarlah Jakarta jadi milik kaum oke ngoceh, eh oke oceh dan saya bisa istirahat setelah lelah memimpin DKI kok digontok-gontokin kaum bumi datar dan orang-orang yang kurang teredukasi.

Masalahnya, kesedihan kita adalah, banyak. Hujan yang mengguyur Jakarta dan kayaknya satu Jawa bisa agak menggambarkan kesedihan gue. Feed yang bertebaran tulisan dan segala sesuatu berbau politik juga, begitulah. Kemudian pendukung oke ngoceh gencar menyerang akun-akun yang meledek ketidakmampuan Anies-Sandi dalam menghadapi pertanyaan debat Jakarta.  Ditambah komentar-komentar terhadap sumbu pendek yang bikin rebek suasana aja.

Jakarta jatuh ke tangan orang gajelas. Anies-Sandi mungkin masih bisa diwaraskan dan diajar selama 6 bulan ke depan untuk yah, lupakan segala pilkada dan fokus kerja benahi Jakarta. Tapi, ngerinya orang-orang di belakangnya itu. Cagub dan cawagub baik, tapi di belakangnya gontok-gontokan terus.

Jakarta mau dibikin bersyariah lah, dibikin cuma buat kaum bumi datar lah (gue gak tega sebut agama), wah ngeri. Orang-orang otak teroris yang tahunya cuma intimidasi dan tanpa sadar dipake buat alat politik. Mereka yang junjungannya menang aja masih sering menghina yang kalah.

Sementara itu, kalo nggak ada apa-apa dalam 6 bulan ke depan, steady state, yah salah satu kesedihan gue terwujud. Banyak yang akan lebih parah dari zaman SBY atau di daerah-daerah lain kalau nggak Jokowi segera bertindak.

It is not about Ahok. Dari kemaren gue juga memperjuangkan Ahok cuma karena nggak ada calon lain yang konsep dan kerjanya bener. Bahkan sampai kata pak PLT ketinggian standarnya. Yang lain modal pasukan bumi datar semua - pasukan yang mudah dicekoki ini itu ini itu. Sementara Ahoker dalam hati menyimpan banyak kritikan ke Ahok dan menumpahkan semua itu di Balai Kota atau dinas terkait.


Ketakutan gue, yah, sebut aja satu deh, sia-sia gue nulis. Nggak akan ditanggepin. Muka tembok semua tuh pejabat. Cuma bagi-bagi duit dan yang parah akan membagikan uang ke orang-orang intoleran macam yang suka mengkafir-kafirkan orang itu - nah seharusnya ini juga bisa disikat 

Usulan gue soal infrastruktur cuma jadi debat rumpi di forum skyscrapercity dan bahkan Seword yang seberpengaruh itu terhadap isi otak rakyat Indonesia. Usulan gue soal perbaikan fasilitas lah, pembangunan taman, SDM, kayak ngomong sama batu. Mangkrak. Yang ada ya proyekan yang nilainya begitu nikmat buat dikorupsi macam reklamasi.

Ketakutan gue juga, kaum bumi datar kembali meraja. Itu sudah, ah sudahlah. Pemikiran sesat mereka masuk DKI dengan mudah. Intoleransi bawa-bawa agama makin hari makin naik, apalagi dengan Anies banyak pernyataanya tempo hari yang dukung kelakuan nakal FPI dkk ini... Gue sangat berharap plintat-plintut Anies di sini ke bumi datar, sehingga nanti dia dikatain syiah lah apa lah sama mereka, macam Ridwan Kamil. Hehehehe

Yah, harapannya Anies-Sandi jalankanlah tugas Ahok. Itu aja, jangan ditambah jangan dikurangin. Para menteri tolong dimarahin dan dihukum kalau nakal anak-anak ini! Yah, semacam DP nol persen itu, tolong dikondisikan OJK! Oke Ngoceh Mart, tolong dikondisikan Mendag! Dengan keterbatasan akibat otonomi daerah, ingat, pusat masih bisa "bermain" dan menekan gubernur yang nggak mau kerja. Ada aja caranya.

Kehilangan hari ini emang bener-bener bikin sakit hati. Bikin orang gagal fokus. Yang bukan KTP DKI aja banyak yang sedih, berduka, malu,...

Tulisan ini adalah bagian dari #1Tema4Tempat, tulisan gue tentang Majalah Bobo yang disesuaikan ke berbagai pangsa pasar dan berbagai macam pembaca. Di mana aja sih? Di Seword, Kompasiana, Kaskus, dan blog ini tentunya. Yang udah jadi ada di Seword https://seword.com/umum/anak-indonesia-tanpa-majalah-bobo/ 

Meskipun hari ini Jumat Agung, gue akan memulai, hmm, marathon writing ini. Dari gue nulis di Seword itu, gue cuma break sedikit dan makan siang aja. Habis itu lanjut lagi. Hahahah. Padahal untuk beberapa orang, menulis sampai 700-900 kata itu susah banget - di luar nulis yang terkait akademis ya hehehe.

Oke tak beroce, gue langsung lanjut! Berhubung Bobo adalah majalah kesayangan gue dan adek-adek gue dari kecil sampai sekarang. Bobo adalah media massa yang pertama gue kenal dan sampai sekarang, hmm well, masih juara di hati. Media yang lain nggak ninggalin kesan segitu dalam di hati gue selain Bobo.

Tenang, gue gak ada hubungan apa-apa sama majalah ini. Bukan post berbayar, itu panggilan hati bro. Gue nulis di Seword juga masa bodo selama ini dengan duit, toh itu bukan situs gue juga dan cuma numpang. Eh malah curcol, geblek. Lagian emang Bobo rela apa keluarin duit, sementara Kompas Gramedia tempo hari isunya gonjang-ganjing karena medianya pada ditutup? Yah, salah satunya adalah wafatnya majalah Kawanku berganti versi online. Yang oplahnya setinggi Bola juga habis.

Cuma kenangan doang. Kangen gue sama Bobo. Salah satu yang gue cari kalo lagi di Tangerang dan bosen. Hampir setiap liburan, gue baca majalah Bobo terbaru punya adek gue. Apalagi edisi ulang tahun gini, gue pasti nanya bonusnya apaan. Kalo bonusnya jaket hoodie ya bisa tekor itu majalah, nggak mungkin. Tidak mungkin, tidak mungkin tidak mungkin (macam orang lagi suporteran).

Mau gue bawa buat dibaca di KRL, takut hilang dan takut lecek. Belum lagi kalo gue dimarahin sama sesama roker Tangerang-Duri, katanya sih bikin orang gak bisa masuk. Iya sih, gue bahkan kadang buka HP aja harus diangkat buat ngasih space orang masuk.

Dari dulu gue paling nunggu kalo ada majalah ini. Karena dulu SD gue deket rumah, gue nunggu tukang koran lewat rumah sekitar jam 6 buat lempar majalah Bobo. Terus dibaca-baca dan dibawa-bawa pergi. Emang dasar pemikiran anak SD. Hahahaha, ohiya gue juga merintis blog dari SMP, gak jauh dari lulus SD, tapi bukan langsung pake Blogger, pakai Wordpress. Sekarang ketika gue menulis di Seword, gue balik ke Wordpress.

Isinya jangan ditanya. Gue selalu merasa kurang, apalagi ketika gue beranjak SMP-SMA dan gue masih sering baca majalah ini. Ya, asal gue masih tiap hari di rumah. Dulu Bobo itu 60 halaman sekali terbit, kadang juga 68 halaman kalau editornya lagi rajin kali bikinnya. Isinya cerpen, dongeng, dan segalanya. Gue dulu baca Bobo dari era separo berwarna separo hitam putih asal tahu aja. Bobo itu baru 10 tahun menerapkan full color ke majalahnya, dari Februari 2007.

Pengetahuan, wah ini sih jelas mencerdaskan banget dan bikin gak bego amat, meski gue banyak yang udah lupa semakin ke sini. Nggak ngomongin yang panas-panas kayak koran kompos yang diboikot setengah ribu umat itu.... Pokoknya adem, mencerdaskan, dan pengetahuannya masuk kepala gitu lho.

Potret Negeriku, wah ini sih memang gila. Fulus Kompas Gramedia memang gede. Hahahaha. Mereka bisa sampai meliput langsung ke pedalaman Indonesia, ke tempat jauh, dan ini dibuktikan dengan credit foto: Foto: Ricky Martin. Beda dengan media online yang cuma comot foto kasarnya, ini Potret Negeriku niat banget cuyyy!!! Gue aja masih mikir dua kali buat keliling Indonesia, kota besar aja masih belum tergapai kasarnya hahahaha (doain ya, gue emang punya mimpi keliling Indonesia).

Bahkan dulu pernah ada majalahnya, semacam catatan perjalanan dari 1 kota begitu. Sayang, nggak bertahan lama, 2011 gak pernah kedengeran lagi. Patut diburu koleksinya, sebelum dipost pihak Bobo nanti di bobo.id


Cergam. Wah, this is a real legend. Bona, Rong-rong, Nirmala, Oki, Bobo, adalah tokoh dengan tingkat konsistensi super tinggi. Beberapa juga konsisten tapi pindah lapak aja, kayak Sirik Juwita pindah lapak ke Mombi. Kalau kalian sebut nama tokoh itu, atau sebut Bobo sahaja, pasti langsung rame deh nostalgia cergam ini. Haaaa, dulu gue kangen pernah baca majalah ini. Lah, fanpage Seword aja bisa beralih 180 derajat dari pulitik melulu jadi ngomongin si Bobo.

Apa lagi ya? Cerpen? Belakangan gue jarang baca, because I switched to my age. Tapi cerpen Bobo yang anak-anak emang gak ada matinya. Gue aja mau ngirim lupa mulu. Hahahaha lumayan cari tambahan honor hehehe.

Peran Majalah Bobo nggak usah diremehkan. Kalau ada sumbangan buku anak-anak, Bobo mendominasi. Karena gue dan orang lain mikirnya Bobo ini bahasannya ringan gak seberat buku pelajaran lah kasarnya. Bisa buat hiburan, tapi buat belajar pasti bisa dong. Memang banyak majalah lain jaman gue kecil, tapi itu entah ke mana semua. Bobo aja perlu gue knock door, eh ketuk pintu hati orang dulu melalui tulisan ini supaya sadar dan kalau bisa belikan Bobo buat anaknya.

Sampai majalah ini tutup, gue orang yang pasti nangis dan berbelasungkawa. Kalau perlu mendesak ke kantor Bobo supaya tidak ditutup majalahnya. Bisa didemo beneran tujuh juta umat ini, MASAK ANAK-ANAK KAMI TIDAK ADA BACAAN?????? Ya kali disuruh baca Kompas bocah umur 5 tahun, kecuali Kompas Anak.

Through I don't read Bobo as intense as my childhood. Tapi gw masih ada adek yang kecil, jauh bener gila (dan temen-temen kampus gue kaget pas tahu itu adek kandung). Masih langganan Bobo, eksplorasi dunianya dan menyiapkan diri ke arah dewasa (yaelaaah). Gue juga pasti masih baca Bobo dan baca perkembangannya, jangan sampai nanti sekarat kayak majalah lain. KASIHAN BOCAH GAK ADA BACAAN.

Dengan kondisi sekarang ada Bobo aja bocah-bocah masih bisa dipengaruhin dan di-stibet-kan, eh disesuatukan sehingga jadilah bocah bawa-bawa bendera organisasi radikal kayak H**, F**, F**. Bocah bukannya nyanyi lagu anak malah lagu dewasa. Sedih.

Apalagi gak ada? Masak mengandalkan gadget doang buat hiburan anak? Masak baca bacaan anak aja harus buka website, print dulu? Nggak efisien bro. Selain itu, malah tambah males baca. Anak-anak nggak ada bacaan murah, tahu sendiri print full color bikin duit cekak - Bobo juga pasti dibantu banget sama iklan itu.

Jangan sampai Bobo gulung tikar dan tak ada penggantinya versi cetak. Bahaya banget buat nasib anak-anak di negeri ini.



Bobo, teman bermain dan belajar. Be-o-be-o, BOBO!

Bagian satu (seword): https://seword.com/umum/anak-indonesia-tanpa-majalah-bobo/
Bagian tiga: https://www.kaskus.co.id/post/58f0ea4f12e257d3758b456f/1 
Bagian empat: http://www.kompasiana.com/misael/44-tahun-majalah-bobo-krisis-bacaan-anak_58f0f35eb09273a93facf441

Tulisan ini adalah bagian dari #1Tema4Tempat, tulisan gue tentang Majalah Bobo yang disesuaikan ke berbagai pangsa pasar dan berbagai mac...


Maaf selama ini menghilang karena nulis di Seword. Masalahnya tulisan gue di Seword dengan di blog ini beda gaya penulisan, jadi pada males kayanya baca Seword itu pembaca gue di kampus. Gue gak khawatir amat sih dengan Seword yang diserang sana-sini. Gue kan gak terlalu nyerang politik, bukan spesialis gue kok. Kalo ada tulisan politik jatuhnya cuma curhat.
Penasaran apa itu Seword dan apa yang terjadi dengan tempat gue bernaung itu?

26 Desember 2016, salah satu tulisan fenomenal gue naik tayang. Nah, ketika tulisan itu dikaji sama para komentator Seword (gua suka nitip lapak maklum di Seword) gue didesak buat join Seword. Ikutan nulis (bukan berarti mengakhiri misael.id ya) dan belajar nulis juga. Ternyata masuk Seword susah juga, tata bahasa dicek sama adminnya dan tentunya info harus bebas hoax kandang sapi dan tidak menyebarkan kebencian bahkan terhadap musuh.
Lalu kenapa Seword kayak gak suka dan marah terhadap mafia dan salah satu cagub? Singkatnya ini kayak gue marahin tetangga kosan yang suka berisik kalo malem-malem. Apakah gue membenci mereka? Tidak! Hanya mengingatkan bahaya laku mereka semacam DP 0% dan hate speech yang akan kena ke mereka sendiri. Kita masih mengharap insyafnya mereka dari kelakuan jahat mereka. Kalau mereka masih membela diri, yah ada parameter jelas secara agama. Sudah ditafsirkan bagaimanapun pasti salah.
Masalahnya orang-orang begini membahayakan bangsa bro. Seword ngingetin nih bahwa mereka yang katanya ada di bumi datar itu biar taubat nasuha lah ya. Sadar, kamu tuh jangan cuma dengar apa yang kamu suka aja. Jangan lakukan yang kamu suka tanpa lihat parameter.
Berkampanye itu kayak elo dikasih soal ujian coy. Seword berperan kayak asistensi lah ke para ahoker dan aniesers. Kasihtau bahwa cara ngerjain soalnya Anies salah. Ahok yang bener. Nah, asumsikan politik ini ilmu eksak semua yang memang harus begitu kejadiannya dan cara mengerjakannya. Tentu kalau gak sesuai petunjuk pengerjaan soal ya akan kena marah. Anieser ini kalau marah sama Seword sama aja kayak bilang si asdos itu ngebenerin cuma karena pro Ahok tanpa peduli benar salah, sementara studi literatur dan solutions manual emang nunjukin ini loh cara ngerjain soal yang bener. Padahal itu kuliahnya kan udah ada dari Ahok belom lahir... Juga Ahok gak kenal asdosnya.
Masalahnya, asistensi yang dilakukan Seword itu membuka kedok kelompok sebelah yang sok bisa padahal otak kopong. Sok jadi dosen ke mahasiswa lain, padahal ajarannya salah. Eh gue kok jadi inget sindiran Mak Sylvi ya?
Apa yang terjadi? Kelompok sebelah teriak-teriak dosennya pro Ahok sehingga pelit nilai ke Aniesers. Mereka pengen jegal Ahok biar nilai mereka at least imbang lah (sama-sama ancur). Masalahnya si Ahok licin kayak belut bro, mana bisa dia dipegang sama tangan-tangan jahil. Iri dan pengen kekuasaan kok segitunya ya?
Tunggu dulu. Si dosen ini tahu kubu Anieser itu raja nyontek dan ngajarin yang sesat ke orang-orang supaya nanti nilai kelompok Anieser bagus, Ahokers jelek. Kalau kebuka kedoknya sama dosen mukanya mau ditaro di WC. Ya udah, bermain dramalah dia di kelas supaya dosen lupa kesalahan Aniesers yang suka nyontek ini.
Begitulah analisis ala mahasiswa. Udah balik. Balik. Balik.
*/*
Lalu lintas Seword mendadak naik tajam, parah. Kenapa? Diberitakan sama media Heri Panuan, eh Hary Tanoesoedibjo. Gara-garanya adalah sejumlah tulisan menyerang Anies yang kurang sumber kalau tidak salah. Media panuan yang gedeg diserang terus junjungannya sama Seword mulai beringas. Seperti biasa, kepada junjungan jangan memberitakan yang buruk. Tapi selama beberapa bulan kemarin sejak Seword open for public, belum dapat momen aja media panuan.
Belum analisis Seword yang emang menyakitkan bagi kaum sebelah. Dibuka kedoknya dan langsung ketakutan. Banyak yang kena tuh, semacam si ahay dan si dp 0%, juga inner circle mereka kayak prahara, bibib, dan lain-lain. Some people that cannot receive the fact that they are wrong get mad and crazy.
Gue ngerasanya nulis di Seword belakangan sama beratnya dengan gue nulis, hmm, laprak sama presentasi. Gue harus mikirin apa yang ditulis jangan sampe bikin penilaian dosen atau asisten jadi jelek. Masalahnya kalo presentasi dampaknya gue pribadi doang, paling banter sekelompok, nah kalo tulisan Seword, seindonesia raya bro pengaruhnya. Belum orang jadi pada kuatir dengan gue kalo sampe emang tulisan gue jadi trigger tindakan "mbau rekso". Belum banyaknya tukang copas biadab yang sebenernya bikin naik awareness Seword juga.
Kayak kasus sama media panuan itu.... Okezonk dan sahabat-sahabatnya. Apa karena kepanasan nama heri panuan disebut kah? Beritain Seword mulu, sementara media lain adem ayem. Yang paling kocak ada salah satu neh.

Udah jelas Seword punya Alif kok terduga sih. Aduuh mau ngakak rasanya. Udah punya alamat jelas, facebook semua penulisnya asli dari zaman bahela kebanyakan. Apalagi dari facebook dan untuk generasi gue kayaknya Line juga masuk, konon katanya HRD mudah sekali menilai rekam jejak orang. Ownernya Alifurrahman jelas, masih bisa cawe-cawe dan bahkan ada contact person di setiap halaman Seword. Cuma namanya alamat bahaya bagi privasi seseorang kalo sampe kesebar, apalagi banyak tuti dan tute (tukang teror). Apa dikiranya ini situs punya antah berantah kali? Hahahaha. This http://m.okezone.com/read/2017/02/24/338/1627365/polisi-sudah-ketahui-pemilik-dan-lokasi-seword-com
Noh yang antah berantah model partai socmed, gerpol, laskar cikeas, dan sejenisnya. Yang terbuka ya model kita sama Kurawa masbor. We are human. Gue sendiri sih sampe setor muka di salah satu post biar ketahuan, wah ini emang beneran akun punyanya Sael yang itu. Ada yang nyeletuk "oh nama asli Sael itu Misael ya" kayanya sih (pas Kersos masih ada yang nanya dari dept lain)
Bodo amat, orang muka gue pernah diliatin satu teknik pas November lalu. Mana deketan sama salah satu wajah paling recognized di teknik. Otomatis diliat anak alay yang nangkring di gazeb juga kalo lagi gak ada kebersihan dan mahasiswa. Masa di Seword ga bisa.
Intinya, Seword bukan media anonim dan data penulisnya dipegang adminnya (bukan cuma sama Bos Alif). Penulis bahkan pemiliknya bukan kerja jadi penulis kayak wartawan. Seword cuma media semacam Kompasiana yang dimoderasi ketat dan data pribadi dipegang para admin untuk memudahkan follow up. Kita mengubah tata cara beropini jadi santun dan beretika, juga kita selalu berubah menjadi lebih baik (meski the bumi datars ga bisa melihat dengan jelas).
Kita juga antihoax. Tulisan yang diduga ada sumber abu-abu aja gak dikasih. Pake referensi wiki dan situs opini aja gaboleh, udah kayak bikin makalah akademis. Soalnya memperkecil peluang tulisan kita diragukan orang-orang.
So, kalau bakat nulis, kenapa gak gabung di Seword aja? Nonpolitik juga diterima kok dan banyak juga yang nulis nonpolitik kayak di kanal Urusan Hati, Motivasi, dan Movie. Ada blogger terkenal yang gue ajakin nulis di Seword tapi gamau karena alasan ini (padahal dia ga ikutan soal pilkadut DKI). Sayang aja gitu.
Salam kura-kura pake kaca pembesar.

Maaf selama ini menghilang karena nulis di Seword. Masalahnya tulisan gue di Seword dengan di blog ini beda gaya penulisan, jadi pada mal...