Ngobrol Online: Kalau Ada yang Lebih Cepat, Kenapa Tidak?

8/27/2013 07:16:00 AM Sael 0 Comments


Tidak ada yang statis di dunia maya, tak terkecuali media sosial. Selalu berubah setiap ada yang baru.


Sejak internet dibawa ke Indonesia sekitar tahun 1996, kebutuhan bersosialisasi di dunia maya sudah mulai ada yang mengakomodasi. Dimulai dari kehadiran milis atau mailing list, di mana orang saling berhubungan melalui email (cara kerjanya mirip seperti group whatsapp, tinggal didaftarkan admin milis tersebut untuk masuk). Pengguna milis membeludak sejak yang menjangkau internet tidak cuma kalangan Pondok Indah-Menteng dan WNI di luar negeri, sekitar zaman Gus Dur sampai Megawati.

Kehadiran forum menggunakan platform vBulletin (salah satunya Old Kaskus) pada awal abad ke-21 menghadirkan warna baru bagi jejaring sosial Indonesia. Komunitas tertentu (waktu itu masih terbatas pada WNI di luar negeri dan masyarakat jetset) membuat forum masing-masing, yang khusus bidangnya. Lama-lama forum sering dipakai alat interaksi, meskipun masyarakat masih memilih SMS dan kalau bisa bertemu langsung, karena harga internet tidak semiring saat ini (dulu Rp 20-50 ribu adalah biaya internet sehari)

Diperkenalkanlah paket internet yang lebih murah, modem lebih murah dan tidak repot seperti zaman dulu, maka pengguna internet via laptop makin banyak. Forum dan media tumbuh subur meskipun tidak sesubur beberapa tahun sesudahnya.

Tahun 2005-2008, blog jadi andalan para netter indonesia dalam mencurahkan isi hatinya dan pikirannya. Ketika Kaskus beroperasi kembali tahun 2008, banyak orang yang mulai sering curhat di forum itu (wah bahkan ada forum khusus Ask Da Boys dan Ask Da Girls untuk curhat). Semuanya terlihat dari waktu saya iseng buka artikel super jadulll di dunia maya dan untuk ukuran dunia maya.

Ingatkah waktu blog sering dipakai forum diskusi antarteman segrup (apalagi untuk orang yang berkepala tiga-empat)? Kalau tidak salah sekitar tahun 2008 itu. Facebook penggunanya masih sedikit, twitter? Penggunanya mungkin baru @reza dan 10 orang lain (bukan twitter officer tapi bikin dari 2006)...

Lama lama komentar blog makin sepi. Angka hits/jumlah kunjungan ke artikel tidak menjamin bahwa blogmu akan penuh komentar ramai. Bahkan banyak situs berita yang punya badan usaha, yang lalu lintasnya luar biasa tinggi pun komentarnya kosong melompong, bahkan di artikel yang menurut saya sensitif dan menuai banyak komentar (nyaris SARA, menyinggung selebritis, dll).

Operator seluler berlomba memurahkan paket internet dan blackberry mereka, dari yang harganya mungkin hanya bisa dibayar yang tinggal di Bintaro (paling tidak), jadi bisa dijangkau masyarakat biasa, masyarakat kampung dan bahkan tempat yang cukup jauh dari ibukota kabupaten/provinsi. Akibatnya, penggunaan internet sebagai media mengobrol semakin menjadi.



Setidaknya sejak kehadiran BBM tahun 2009, banyak yang berubah. Waktu itu BBM masih layanan premium dan mahalnya selangit ketujuh mungkin. Penggunaan BBM masih sesuai tujuan dari RIM yaitu untuk komunikasi pebisnis semata, bukan tempat berkumpulnya alay BBM. Ya, kalian tahu sendiri kan?

Sekitar tahun 2010, penggunaan Facebook menjadi-jadi. Tahun itu mungkin menjadi tahun keemasan bagi social media biru tua itu. Wah, sampai dibuat banyak buku berbau Facebook: "status facebook lucu", "humor facebook", "Facebook games", dan lain lainnya.

Banyak orang menggunakan facebook dan aktif di sana, sampai tahun 2012. 2012 menjadi tahun kepindahan pengguna facebook ke twitter, line, kakaotalk, dll.

Kenapa orang orang pindah dari facebook? Facebook dipenuhi postingan alay dan postingan tidak penting. Tapi sebetulnya masalahnya bukan di situ. Banyak sekali penipuan via facebook, makin banyak spammer facebook yang tiba tiba berteman, tertutupnya facebook dengan dunia luar (karena kerapkali harus like fanpage hanya untuk satu dua informasi), dan facebook sering mengalami masalah keuangan internal dan masalah pada webnya, baik masalah teknis biasa sampai masalah menyangkut privasi.

Masyarakat yang bosan facebook tapi tidak tahu chatting app semacam whatsapp dan teman temannya memilih Twitter sebagai teman curhat. Seakan mereka tidak peduli postingan di twitter bisa menyebar cepat di jagat maya, setidaknya di lingkungan teman mereka. Dari curhat senang senang sampai curhat tidak penting.

Di sisi lain, BBM makin sering dipenuhi masalah. Sejak saya meninggalkan BBM pada April 2012 karena terpaksa (BB hilang), maka saya beruntung tidak ambil bagian mencicipi masalah ini. Masalah BBM seringkali adalah lemot, gadeliv, sering hang, dan sering "mati total", sementara sinyal sudah EDGE dan masih bisa membuka browser (full service). Masalah ini sering sekali datang dari server RIM, sehingga pengguna BBM geram.

Whatsapp dan Line menjadi pelarian para pengguna BBM yang benci lemot. Whatsapp, yang menjadi aplikasi pertama yang menjangkau berbagai ponsel dan kemunculannya di negeri kita diawali iklan kontroversial tentang Cut Tary (klik disini), memulai kiprahnya dari ponsel Nokia saja, tetapi pihak Nokia membuat aplikasi itu bisa diakses Android dan iOS, menyusul untuk PC, Blackberry dan Samsung. Whatsapp menggunakan nomor telepon kontak, sehingga tidak usah repot menunggu approve dari pihak yang mau dimasukkan kontak seperti di BBM. Tinggal test chat, beres.

Pengguna Whatsapp memang tidak terlalu ramai awalnya, karena pengguna BB awalnya harus menggunakan full service untuk menggunakan Whatsapp ini. Tetapi sejak beberapa operator memperbolehkan LINE, Whatsapp masuk paket social media, maka penggunanya semakin banjir.

Bagaimana dengan LINE dan Kakaotalk? Awalnya Kakaotalk dinamain Kakao (seingat saya), dan Telkomsel sudah menawarkan paket Opera Mini, LINE dan Kakaotalk jauh sebelum mereka booming, sejak 2010-2011. Setelah BBM sering mengalami masalah tahun 2013, dua aplikasi chatting multi platform asli Asia menggempur habis-habisan televisi dan radio Indonesia. LINE membawa Agnes Monica, Kakaotalk membawa Gisel OVJ (ex-Idol) ke iklannya. Untuk persaingan global, LINE punya Siwon Super Junior, Kakaotalk punya Psy anak didik yang managernya Scooter Braun.

iklan line 

iklan line agnes 

Alhasil, pengguna LINE dan Kakaotalk makin membeludak, apalagi setelah stiker LINE yang beda dari yang lain mulai bermunculan. Kebanyakan netter menggunakan aplikasi ini bersamaan, atau memiliki dua-duanya di dalam handphone/tablet. 

Beredar juga di kalangan pengguna Android dan iOS aplikasi saingan BBM yaitu Path. Sering sekali ditemui tweet yang dikirim via path (tahu maksudnya?) Jujur aku kurang mengerti soal Path ini, yang jelas ini mirip BBM dan Line, hanya bisa dishare ke Twitter. Path ini seperti twitter digabungkan dengan LINE digabungkan dengan BBM. Jadi semuanya ada di satu tempat. Sayang hanya untuk pengguna dua OS tersebut.

Instagram dan Youtube sering dianggap media sosial oleh beberapa pihak, padahal dasar semuanya diciptakan bukan itu (coba dibaca di sini). Sejak banyaknya artis ngetop via Youtube dan banyak video Youtube menjadi sensasi, juga sejak instagram tidak eksklusif milik iPhone dan teman-temannya, maka nama situs berbagi ini melejit.

Setiap hari jutaan foto dan ribuan video dishare melalui Instagram dan Youtube (untuk Indonesia mungkin hanya ratusan video baru per hari mengingat internet di sini tidak terlalu memadai untuk upload video (baca: lambat)) dan jutaan dishare melalui Twitter. Setiap hari ada trending topic (kurang penting?) dari Indonesia. Dan Indonesia membuka diri lebar-lebar dari pagar yang dibuat pemerintah sebelum SBY. Indonesia lebih dikenal masyarakat dunia.

Google mulai membunyikan genderang perang persaingan. Google plus alias Google+ diluncurkan untuk menyaingi Facebook. Google+ terhubung dengan Youtube, Google Search, Google IM, dan Google Maps yang terlihat membuat orang mau memakainya. Mengapa? Langsung share, tidak usah pakai pihak ketiga seperti share ke Facebook dan Twitter.
Kejatuhan BBM pun semakin membuka lebar peluang untuk Whatsapp dari Finlandia, LINE dari Jepang, Kakaotalk dari Korea, Path dari Amerika, belum kehadiran Google+ . Apalagi beberapa lama sejak rencana kehadiran BBM di Android, dan masih banyak berita berita mengenai media sosial.

Itulah perkembangan social media alias media sosial. Entah apa lagi perkembangan dari cerita ini, entah apa lagi media sosial baru yang diluncurkan? Kita tunggu saja.

Tangerang, 27 Agustus 2013

Tidak ada yang statis di dunia maya, tak terkecuali media sosial. Selalu berubah setiap ada yang baru.

0 comments: