Ya, ini kenapa reaktivasi jalur KA sesungguhnya SANGAT SULIT

10/15/2016 11:33:00 PM Sael 0 Comments



PJKA itu memang membuat kita geregetan kalau selalu membaca beritanya. Jalur dinonaktifkan lah, apa lah. Ya, at that time it is reasonable. Tempat-tempat keramaian sekarang banyak yang dulunya tempat jin buang anak kan? Kalo gue baca, banyak jalur yang mati tahun 1970an kok, bahkan jalur sepadat Tangerang-Duri dulu sempat mati selama 3 tahun. Isu dari Semboyan35 sih, ada rel dari depan stasiun Tangerang sampai Cisadane, saat ini memisahkan gedung DPRD sama Masjid Agung, hilang karena sempat mati ini. Kalau aja nggak dimatikan jalurnya, udah dari kapan tahun jalur itu diperpanjang sampai Serang.

Kok jadi OOT... Gue mau bahas tentang susahnya, SUSAHnya mengaktifkan kembali rel KA, di samping ambisi gila pemerintah dan Kemenhub (apalagi di bawah Jonan) untuk mengaktifkan semua rel mati di Indonesia. Yah bahkan yang baru mati barang 5 tahun aja susahnya setengah mampus kayak Citayam-Nambo. Apalagi yang udah mati berpuluh tahun, sampai terpaksa mengubah jalur/trase karena tidak lagi sesuai dengan zaman sekarang.

Secara umum masalahnya gue bagi 2 jadi masalah lahan dan non lahan.

MASALAH LAHAN
1. Nabrak rumah warga

A picture is worth than a thousand words. Ini jalur mati ke Blora. Tapi... Kemarin gue lupa nemu di blog mana ada foto rel KA benar-benar ditimpa bangunan rumah di Jogja!!!

2. Terlalu sempit

Maksudnya di sini lahan KAI terlalu sempit untuk membangun dengan kondisi zaman sekarang. Namanya double track itu baru ramai 1990an, bahkan yang sepadat JAKARTA-BOGOR baru double track sekitar 1994-1995 setelah tabrakan Ratujaya Depok, ada bekasnya tanda silang tunggal di dalam kampus UI depan gedung PLK.

Kebutuhan saat ini untuk beberapa rel mati menuntut buat double track. Contohnya jalur Ciwidey-Cikudapateuh, kalau direaktivasi dan KRL, wah jelas jelas butuh Double Track karena banyak melintasi daerah rame dan kalau sistemnya jadi kayak Jabodetabek, dijamin sardenisasi.

3. Menghilangkan akses penduduk

Banyak rel KA mati yang jatohnya jadi gang, iya gang akses perumahan. Kalau ditutup dan diaktifkan lagi, waduh. Waduh. Waduh. Contohnya ini di sekitar Buah Batu, Bandung

4. Permukiman liar
Gawatnya, yang begini ada undang undang di mana kalau sudah 20 tahun menempati akan dilayani sebagai pemilik, dan harus direlokasi. Bayangkan itu relokasi Rawajati yang perasaan baru permukiman "kemarin sore" ributnya kayak apa.... Apalagi kalau mau bongkar jalur buat rel baru.

5. Jalur nggak jelas

Beberapa rel banyak yang hilang udah dari jaman Jepang atau kemerdekaan karena diangkut angkutin, karena relnya bermuara ke tempat jin buang anak sehingga dicopot sajalah. Bahkan tinggal sisa jembatan. Jalurnya udah jadi hutan. Contohnya Jembatan Cincin Unpad di Sumedang, Jembatan Bolang di Pandeglang (sekarang bekas relnya dipakai alternatif karena jembatan utamanya bolong), dan Jembatan Cihara di Lebak, Banten. Gue ada gambarnya yang Jembatan Cihara kalau gak salah di Instagram.


6. Terlalu mepet jalan

Rel KA jaman dulu banyak yang didesain pinggir pinggir jalan pake banget, kasarnya jalan inspeksi KA. Masalahnya, banyak pelebaran yang akhirnya akan menggerus rel KA pada jaman Orde Baru (di mana, haduh, kereta api nyaris dimatikan karena sudah seperti gak berguna).

7. Alih fungsi
Ada yang jadi toko lah, jadi warung lah, jadi rumah, tapi ada banyak juga yang dijaga. Contohnya Stasiun Menes, Banten jadi rumah warga.
Ada stasiun Banjaran, Bandung jadi bengkel dan warung. Padahal....coba aja aktif lagi, macet ke Kawah Putih ada obatnya


MASALAH NON LAHAN
1. Nggak sesuai dengan kondisi zaman sekarang
Contohnya tadi jalur Bandung-Ciwidey, pernah ngobrol di SkyScraperCity, ternyata ada yang bilang tidak sesuai dan realistis kalau jaman sekarang. Kalaupun jadi ya bakal kayak jalur Tangerang-Duri yang sekarang banyak banget perlintasan sebidang. Lebih realistis bangun rel di atas Jalan Buah Batu, like Jakarta MRT. Ada juga yang usul mending diganti LRT.

2. Double Track
Tadi yang saya singgung soal "lahan gak cukup/sempit". Banyak jalur yang diramal akan padat di masa depan sehingga reaktivasinya sekalian doubel track.

3. Infrastruktur Ketuaan

Saking lamanya rel KA mati dan diperparah dengan anda tahu kan PJKA, infrastruktur pasti banyak yang menua dong. Lah jalur Sukabumi sempat ditutup dengan alasan infrastruktur tua ini. Itu rel KA nanti fungsinya hanya patok pembangunan, pasti nanti bakal dibuang atau paling paling jadi kursi kayak bangku stasiun KRL sebelum jemuran menyerang.

4. Ego sektoral

Biasa lah. Orang sini kan pada serakah dan egois. Bener bener yang namanya ganti rugi jadi ganti untung. Nah makanya Ahok kemarin gusur gusur itu pake Rusunawa mengingat takut akan hal begini bikin tekor Pemprov. Gue berharap PT KA Property membuat rusun juga buat mereka mereka ini.

Ego sektoral juga bisa dari BUMN dan pembangunannya. Ya karena alasan politis jadi dipending, karena intervensi si A proyek batal, dll.

5. Keuangan

Mereaktivasi jalur KA emang lebih murah dari jalan tol, tapi anda tahu kan sekarang tol didewakan karena memang yang kecipratan untungnya banyak. Rel KA mangkrak banyak yang ah sudahlah.
Butuh puluhan triliun loh mengaktifkan semua jalur yang ditinggalkan Belanda supaya kembali seperti sediakala.

Masalahnya akan rugi terus kalau cuma buat penumpang, sehingga saat ini KAI dan Kemenhub prioritas buat yang bisa kereta barang.



Sekian tulisan gue, dan semoga pemerintah benar benar sadar, dan terutama warganya juga sadar ya untuk memajukan perkeretaapian, sadarlah Anda juga terbantu nantinya dengan dibangunnya rel KA. Apalagi kalau jalur komuter.

Jangan lupa baca blog cahsepur.com, blog SangNanang, dan blusukanjalurmati.blogspot.com kalau mau baca informasi lain dan lengkap soal ekspedisi jalur mati. Ane ambil banyak foto jalur mati di artikel ini dari sana.

PJKA itu memang membuat kita geregetan kalau selalu membaca beritanya. Jalur dinonaktifkan lah, apa lah. Ya, at that time it is reasona...

0 comments: