Aspirasi Itu Isi, Bukan Jumlah

12/16/2016 05:45:00 AM Sael 0 Comments


Reformasi banyak disalahpahami sebagai ajang show power dengan alasan ingin mengetuk pintu hati pemerintah, padahal mengetuk pintu hati banyak jalan. Udah ngerti kan apa yang akan gue bahas sekarang? Ini ngomongin demo masak, eh demo teriak teriak, eh demo pemerintah. Zaman sekarang, menyampaikan aspirasi banyak cara lebih elegan.
Reformasi 1998 dianggap sebagai awal bahwa sebuah demonstrasi dapat mengubah dunia. Oleh karena itu, banyak yang izin sama pak polisi untuk menyampaikan aspirasi mereka di jalanan. Beberapa ada juga yang memanfaatkan momen seperti car free day atau adanya perkumpulan massa besar, tak lain tak bukan adalah mencuri atensi dunia atas sebuah isu.

Tapi, setelah gue ngobrol dengan beberapa orang, sekarang sudah bukan zamannya lagi bro demo turun ke jalan, global warming (HAHAHA). Sekarang hanya bacot di sosial media dan membuat trending topik, atau membuat fenomena tidak cukup untuk menyampaikan aspirasi. Nggak cukup, kalau aspirasinya kosong belaka. Kalau yang diperjuangkan nggak jelas. Isu yang mau disampaikan retorika, nggak konkret.

Kalau begitu, lebih baik elu curhat di blog atau bikin status di FB aja iya kan?

Yaa, bukan gue melarang penyampaian aspirasi dengan besar-besaran kayak begitu. Cuma ada kegelisahan aja ketika banyak yang bilang turun ke jalan begitu nggak penting, lebih penting aksi nyata dan diplomatis. Banyak juga yang berpikir bahwa cara kita menyampaikan aspirasi kita di publik harus diubah total. Zaman sudah berganti, masak elu menyampaikan aspirasi ke pemerintah masih teriak teriak kayak zaman batu?

Sebelum elo menyampaikan sebuah aspirasi, baik itu kepada teman sendiri sampai kepada pemerintah, pikirkan dulu apa yang mau disampaikan. Pastikan aspirasi lo konkret sehingga elo gak ditertawakan - setidaknya. Masih mending diketawain, kalau udah worst case bisa hancur nama lo di mana mana, contoh kasus Mas Eko, hanya karena ngomong pengalihan isu, kena deh.

Pastikan juga elo menguasai aspirasi lo itu, menguasai data, menguasai fakta lapangan sebelum bicara. Dan pastinya menguasai penyelesaian masalah dan peluang peluang orang akan mengkritik aspirasi lo, kalau bisa elo tahu orang akan mengkritik dari sisi mananya, nanti ketika dikritik tinggal menambal, ditambah ketika dikritik balik tidak baperan, kayak Bapak Prihatin Sedunia, atau golongan bigot agama. Oot, golongan bigot agama dan pecinta kebencian ini selalu gue ingatkan dalam memberikan pencerdasan tentang tulisan kajian strategis. Komentator dan penanggap isu dan artikel elo ada tiga macam: setuju, tidak setuju, dan kaum bigot yang suka memaksakan pendapat.

Kembali ke judul, Aspirasi bukan hanya masalah jumlah bro. Tapi... isinya. Jumlah memang penting karena ingat, kebohongan sekalipun kalau banyak yang mengatakan bisa tampil sebagai kebenaran, apalagi kebenaran itu sendiri. Tapi yang gue kritisi di sini adalah banyak yang sok sokan mengerahkan massa, tapi tujuannya apa nggak jelas bro. Demo demo tapi yang didemo harusnya gak perlu didemo lagi kayak aksi 212 atau urusan demo buruh minta naik gaji. Datang rame rame ke suatu tempat, ternyata cuma karena beraninya keroyokan - yah di sini gue ngomongin tawuran pelajar. Ngomong ke pacar hal yang harusnya nggak usah diomongin lagi juga termasuk.
Maka di sini gue mengingatkan, kalau bicara ya harus ada isinya. Kalau nggak ya tong kosong nyaring bunyinya. Tanda-tanda suatu aspirasi itu tidak jelas apa yang dikaji adalah isunya berputar putar, tujuannya tidak jelas - sebenarnya tidak ada tujuan yang tidak jelas di bumi, tapi tujuan yang tidak dikuasai atau tujuan yang ditutup tutupi macam tujuan ingin berkuasa. Retorika. Khas pejabat negeri kita, katanya mau menyampaikan pendapat eh taunya menghina orang.

Kalau bicara suatu aspirasi juga jangan cuma beraninya keroyokan, seperti kalau tidak setuju akan kebijakan pemerintah, elo sebagai diri sendiri harusnya menjadikan teman hanya sebagai penasihat atau pemberi masukan, bukan malah majunya bareng bareng menyampaikan aspirasi, apalagi temannya dipaksa atau dimanfaatkan. Lah kan itu omongan elo, boleh mengajak teman juga, tapi juga jangan berani keroyokan, dalam arti jangan ketergantungan pada orang lain sehingga tidak berani menyampaikan aspirasinya sendiri. Memang keroyokan itu akan membuat semangat bertambah, tapi kalau elo orang yang berintegritas kuat, berarti gak mencla mencle atau malah jadi boneka orang, ya harus berani sendiri dong.

Dan sekali lagi, percuma aspirasi banyak bicara tapi isinya kosong. Percuma bawa banyak orang kalau omongannya tidak jelas - kayak presentasi di kelas tapi nggak ada yang ngerti. Percuma bawa massa banyak kalau tujuannya cuma jalan jalan tapi nggak tau yang mau disampaikan dan diaspirasikan apa, hanya ikut leader, hanya supaya dapet duit. Percuma suatu organisasi isinya banyak tapi otak kopong dan gabutan semua. Ya tapi jumlah massa juga menentukan keberhasilan menyampaikan opini sih, tapi ya opininya harus rasional, jumlah massanya juga rasional. Gitu.

Sekian opini tidak jelas ini, dan selamat malam!

Reformasi banyak disalahpahami sebagai ajang show power  dengan alasan ingin mengetuk pintu hati pemerintah, padahal mengetuk pintu hat...

0 comments: