Catatan Buat Troller Timnas

12/17/2016 08:57:00 AM Sael 0 Comments



Tim nasional kita, apapun yang terjadi, udah melakukan yang terbaik. Terserah mau dibilang apa lah apa lah. Tentunya ini bisa jadi ajang kita mengkritisi penampilan timnas dong? Tapi caranya. Tolong.


Benar timnas kita memang imperfect, kita nggak tahu kondisi Thailand di kandang juga on fire kayak kita di kandang sendiri. Dua duanya jago kandang sob, apalagi sistem AFF yang begini, bisa bisa good luck doang yang pengaruh kalau dua duanya jago kandang. Benar, pengelolaan sepak bola kita memang lagi gempa bumi dan hebat aja sih di tengah gonjang ganjing lapangan hijau masih stand out kayak gini. Bandingkan dengan antara 2011-2015 pas belum ada pembekuan, malah melempem.

Bagaimanapun, gue apresiasi banget buat timnas malam ini. Dengan adegan ribut ribut dengan negeri gajah putih di menit terakhir yang sangat menjadi sorotan, gue sangat apresiasi kalau tujuannya itu untuk mengkritisi kelakuan wasit dan segala jenisnya. Hanya, sangat disayangkan timnas sendiri terlihat agak agak santai saja, padahal anda tahu kan di sini Thailand sangat agresif? Belum beberapa blunder dari gawang - ya mirip kasus Kawin Lari, eh Kawin di Pakansari (kok judulnya LOL sih, padahal kiper Thailand). Mereka mereka itu juga kurang mempelajari keadaan lapangan, lah kayak kemarin sore di Pakansari sekarang cepet banget udah dibawa ke Gajah Putih, lepas dari rumahnya tanah Gajah Mada. Oke, udah kritis kan? Haha.



Di sini gue menyorot satu hal. Orang gak punya hati karena niatnya ngetroll. Saat gue ngelive di YouTube, golongan yang nyumpahin Indonesia kalah banyak juga. Bahkan dikait kaitkan ke Ahok, ke Habib Rizieq lah. Astaga, kepinteran lu. Dikatain cepu selamanya dan dibilang meninggalkan sepakbola dan fokus ke tempat lain. Astaga elu menghalang halangi kontribusi orang.

Patut juga kita tahu bahwa di Indonesia fans sepak bola banyak banget, jadi ya... wajar sekali kalau persepakbolaan benar benar mencuri perhatian, apalagi Indonesia yang jarang masuk runner up AFF (!) sampe temen temen gue yang kebanyakan kaum wanita dan tidak aware dengan bola bolaan juga sampai bikin status di Snapgram, gue yang panteng bola aja gak, langsung aja diblogkan. Berarti, pemerintah juga harus meningkatkan cabang olahraga yang peminatnya luar biasa ini, selain buat glory (Indonesia berjaya di lapangan hijau), Ya jelas, kemenangan kita di sepakbola internasional sangat memengaruhi keadaan sosial politik negara. Orang badminton aja lumayan pengaruh itu ke nama kita di luaran... Apalagi sekaliber seakbar sepakbola.



Jadi, kalian janganlah ngetroll Timnas sebisa mungkin, ngedoain kalah, apalagi kayak tulisan pertama gue yang dihubung hubungkan ke Jokowi. Mengkritik gak sampe selalu ngetroll dengan kata kata kasar, ngedoain kalah, kasihtau yang jelek jelek, apalagi ... aduh, disambung sambungin. Nggak semua pelaku beginian alay caper loh! Beberapa yang berumur atau sedang "test the water" atau malah iseng iseng tidak lucu melakukannya. Oh sadarlah, ini mereka membela negara lu di kancah olahraga, ini muka negara lu masa dibikin kalah sih? Mau negara lu diketawain master runner up? Seperti disindir orang negeri sendiri, walau fakta tapi ya jadikan evaluasi bukan jadi bahan tertawaan.

Pula jangan pernah lupa bola itu bulat kawan. Semua bisa terjadi, statistik di atas kertas bisa sia sia kalau bola sudah menunjukkan bulatnya. Ilmu fisika saja hanya bisa melakukan pendekatan saja pada nasib suatu bola (contohnya lambangnya Adidas di atas atau di bawah kalau ditendang pada kecepatan dan waktu tertentu). Jangan menghina apalagi ngetroll timnas dengan mendoakan kalah atau memaki maki, seperti kalian saja pelatihnya padahal kalian juga hanya pemirsa kan. Apalagi timnas ini membela negara dan membawa ke puncak tertinggi, mengapa tidak dihargai? Kadang kadang caci makinya juga nggak berdasar, kalau yang gue tau, haters di Spectre Kaskus untuk beberapa tim juga... ada alasannya kali benci, contohnya karena tim medioker atau pelatihnya payah. 

Sebenarnya, sangat oke kalau kritis terhadap timnas dengan memberikan kritik agak pedas dan menohok untuk membangun mereka lebih baik lagi. Tapi kalau mencaci maki, aduh... itu TIMNAS loh, memperjuangkan negara lo. Bikin negara kita nggak jadi bulan bulanan. Seringkali bangsa kita jadi malu juga kalau Timnas kalah, setidaknya sampai orang lupa sejarah Timnas. Yang gue anggap benar ya yang mengkritik pemainnya atau kinerja Timnas, bukan malah ngejek ngejek gak jelas sampai bawa bawa nama Jokowi atau apalah, bahkan ada kait kaitan sama azab Ahok. Aduhhhhh dunia.

Buat yang ngetroll, apalagi pakai kata kata kasar dan cocoklogi, apalagi ditujukan ke Timnas (ke gajah putih masih mending bro, karena hina hinaan ini biasa di kancah kritikus sepakbola), sebaiknya hati nurani anda dibawa ke dokter deh. Patut diingat juga bahwa adik adik kita banyak yang ikut memantau pertimnas-timnasan ini, beda dengan kalau misalnya tanding Chelsea (demn, berlangsung bersamaan dengan timnas!) gitu. Sehingga, ada baiknya janganlah mengkritik timnas seperti kalian mengkritik tim yang bukan tuan rumah sendiri.



Jadi, rangkumannya adalah, boleh saja mengkritisi timnas kita setelah kalah dengan Thailand, toh gue juga ada kegelisahan. Hanya, jaga dong kata katanya. Jangan juga mengkritiknya malah nggak nyambung dan jadi ajang buat cari kerusuhan dan cari perhatian, macam alayers aja. Apalagi kayak kolom komentar live streaming YouTube, ini komentatornya dididik apa nggak sih - ya meski gue juga tau kali YouTube live Indo yang menebar keramaian pasti deh komentarnya.... minimal nama kelamin kesebut.

Tim nasional kita, apapun yang terjadi, udah melakukan yang terbaik. Terserah mau dibilang apa lah apa lah. Tentunya ini bisa jadi aj...

0 comments: