Dukung Ahok Gak Cukup "Nangis Bersama"

12/21/2016 03:26:00 AM Sael 0 Comments


Oke, kita semua yang tahu kebenaran dan kesalahan sepertinya kondisinya sudah mulai kalah vokal di dunia tarik argumen. Ya, terutama bicara Koh Ahok ini. Ketika ada hal aneh aneh mengenai sidang penistaan agama Ahok tempo hari, semacam hakim tiba tiba setuju menyatakan engko ini bersalah, sepertinya kita hanya bercuit di linimasa. Itu kurang powerful kawan.
Seorang pernah mengatakan padaku bahwa media sosial fondasinya rapuh dan kekuatannya sebenarnya bisa semu bisa tidak - tetapi cenderung tidak banyak pengaruhnya dibanding interaksi langsung. Makanya di dunia kampus, meski organisasi mahasiswa atau bahkan urusan akademis bisa dilaksanakan di grup chatting, tetap aja yang namanya pendekatan langsung terus dan terus dilakukan, bahkan dianggap salah satu metode efektif, ketimbang sosmed yang orang sekali lewat.

Berarti, kalau kita para pendukung kebebasan Ahok melakukan tindakan nyata, akan sangat besar impact yang ditimbulkan. Meski ujung ujungnya kalau beneran duplikasi atau tandingan ala ala akan berbuntut serangan luar biasa seperti aksi 412. Ya karena 412 nggak ada koordinasi semengoordinasikannya 212, karena tau tau ada aja, belum mereka juga salah sih bilang gak tandingan padahal sebenarnya gue juga merasakan nuansa tandingan itu.

Pesan gue, kalau mau demo dukung Ahok, setidaknya dalam penistaan agama ini karena gue tahu dia victim, ya terang terangan sob. Jangan cuma teriak dan orasi di jalan, jangan pake cara itu dulu. Kita coba cara yang lazim semacam datang ke Rumah Lembang dan memberikan dukungan, seperti para selebriti yang memang merasakan banyak perubahan di zaman Ahok. Jadwalnya jam 8 sampai 10 pagi, habis itu si bapak udah blusukan sana sini... Nggak tau sih kalau berubah semacam sidang sidang tempo hari. Ntar gue juga mau ke sana tapi tunggu ada kosong hehehe.
Kenapa gue nulis artikel ini?

Orang orang yang anti Ahok sudah sangat sangat sangat sangat gencar dan vokal dalam mem-buzz orang itu, tetapi dengan aura negatif. Bicara terus di media, terus menekan nekan penegak hukum, memanipulasi dunia, dan tujuan akhirnya adalah ingin mengembalikan budaya wani piro di Indonesia. Orang orang yang memiliki tingkat literasi dan akademis rendah, dan ada juga yang tinggi, mau mau aja dibegitukan dengan tidak berpikir matang dan memaksakan kehendak. Mau sampai kapan trial by the mob yang salah ini berlangsung? Sampai kiamat kali?

Kita yang pro Ahok bebas juga harus gencar bro. Bukan cuma buat Ahok naik jadi gubernur ini! Tapi juga biar harapan akan keadilan masih terdengar di bumi. Ibarat orang yang terzalimi dalam kasus kasus selebritis kawin cerai masih bisa teriak teriak di media. Ibarat orang sudah sekarat akibat dibegal masih bisa teriak perlawanan. Kasarnya, kalau kita diam diam saja atau hanya mengandalkan media sosial, itu sama aja menghilangkan natur manusia sendiri yang akan melindungi yang dianggapnya benar dengan sekuat tenaga! Kita belum mengeluarkan tenaga terbaik kita!

Eh, di sini gue gak meminta kalian gegabah. Nggak meminta kalian meniru aksi bela sebelah. Kalau mau dilakukan ya silakan, tapi ya tunjukkan bahwa pendukung Ahok itu intelek, kritis, dan bahkan bisa mengkritisi Ahok - idolanya sendiri. Karena orang yang sayang sama idolanya adalah yang mengkritik idolanya atau bisa memberikan masukan-saran bagi idolanya. Bahkan dalam mengidolakan Tuhan, Tuhan membuka lahan untuk kita mengomentari tindakanNya pada kita, memberitahukan apa yang harus Ia lakukan dalam doa, meski sebenarnya itu tidak boleh karena Tuhan sudah tahu apa yang kita mau.

Yang penting adalah kita, pendukung keadilan dan Ahok bebas, harus vokal karena terbukti sekali kasus ini dipolitisasi, beda dengan kasus Arswendo yang masih ada kemungkinan kesengajaan di meja redaksi Monitor. Kalau kita nggak vokal, mereka berhasil memenjarakan Ahok, mau jadi apa generasi muda sini? Kalau yang mau jadi pemimpin, akhirnya ya ada aturan kalau mau baik baik sekalian sampai mendekati Tuhan, jahat sih bebas...

Karena kasus ini udah masalah tekanan masbro. Siapa lebih kuat menekan, ya dialah yang menang. Seharusnya yang baik ya jangan diam aja!!! Hanya bercuit di media sosial kurang menekan, bahkan gue ngeblog mungkin hanya angin lalu. Apalagi diam... Seharusnya kita yang baik baik juga ikut mendesak dan memberikan suara - entah melalui tren viral atau boleh juga bikin aksi di Rumah Lembang, atau pake cara kreatif ya semacam konser musik. Supaya dunia tahu,

Supaya dunia tahu, bahwa masih banyak orang yang menyuarakan keadilan di negeri ini. 


Oke, kita semua yang tahu kebenaran dan kesalahan sepertinya kondisinya sudah mulai kalah vokal di dunia tarik argumen. Ya, terutama bi...

0 comments: