Ini Ujung. #1

12/20/2016 11:40:00 AM Sael 0 Comments


Cerita ini fiksi belaka. Hati hati yang cari cari soal proyekan Tangerang Serang, jangan dianggap beneran.

Hari itu hujan di ujung peron stasiun Balaraja. Proyekan jalur kereta yang dilanjutkan hingga ke Serang tidak ujung kelar, di Balaraja sendiri sedang giat pekerja menggarap. Aku duduk di situ, menunggu hujan, sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan ke sisi barat Serang, Cikande. Dengan suatu rasa yang tak tertahankan untuk balik, dengan satu alasan. Cinta.
Setelah beberapa tahun, dunia sudah berubah. Aku sudah keliru sehingga aku bisa merasakan dunia perubahan luar biasa di tanah lahirku sendiri. Hari ini adalah hari kedua setelah kebebasanku, sejak aku terjebak selama sekitar 10 tahun disekap lalu diperbudak di ibukota. Bahkan temanku yang baru keluar dari penjara juga mengatakan lebih enak dia hidup di penjara. Aku dijebak, dalam keyatimpiatuanku dan ketidakpedulian sanak saudara yang mengira aku sudah hilang ditelan bumi, setelah hilangnya aku secara misterius menjadi bahan obrolan satu Tangerang. Meski aku juga mengerti lelahnya sanak saudaraku ini, aku juga mengerti aku tidak bisa meloloskan diri dari dunia itu, bahkan aku terisolasi dari dunia luar.

"Oh, sekarang ini ujungnya ya?" gumamku. Setahuku, KRL hanya operasional sampai Tangerang terakhir kunaiki, 3 hari sebelum hilangnya aku entah ke mana. Aku pun sudah diamnesiakan orang-orang itu, tapi aku seharusnya masih ingat di mana rumah keluargaku. Bahkan pada hari kebebasan yang aku tidak ketahui itu, aku naik dari Stasiun Pasar Kemis setelah diarahkan supir angkot yang belakangan ngetem di dekat stasiun baru ramai tersebut. 

"Pak, ke Balaraja bagaimana ya pak?" tanyaku lirih karena tidak tahu, sudah lupa jalan pulang karena perubahan terlalu drastis.
"Oh, kamu bisa naik kereta dari Pasar Kemis."
"HAH? Ada stasiun kereta? Perasaan dulu nggak ada mas."
"Mas, ini udah ada dari 2019. Mas ini nggak pernah naik KRL dari kapan?"
"Nganu, dari 2015 udah gak pernah naik lagi." Aku menjawab pertanyaan bapak itu, merasa betapa bodohnya aku bisa terasing di tanah sendiri karena suatu hal ini. Tidak lama, aku membeli tiket kereta - yang aku juga sangat kaget sudah berubah ke kertas NFC, hal yang setahuku mimpi saat aku pertama naik KRL.

Di luar Stasiun Balaraja, aku menghitung uang. Ternyata masih cukup ya uang yang aku dapat dari "tangan Tuhan". Padahal sudah tiga hari dan itu sangat tidak seberapa untuk survival. Aku yang juga diberikan telepon pintar oleh "tangan Tuhan" itu memesan ojek online dan langsung duduk di jok motor, hal tak pernah kurasakan selama 10 tahun.

"Mas, astaghfirullah, Balaraja udah berubah banget ya?" tanyaku.
"Udah maju. Udah dibangun sana sini mas. Mas ini sudah berapa tahun nggak ke Balaraja? Apartemen yang dekat sawah itu udah 4 tahun lalu loh Mas." Abang ojek membalas.
"Wah maaf mas, 10 tahun saya nggak ke sini."
"Mas e orang mana? Kalau orang Karawaci masih wajar lama gak ke sini, saya juga lagi main-main ke sanak saudara di daerah Tigaraksa, eh ada yang minta dianterin ke stasiun. Ya sudah, sekalian kejar rezeki."
"Saya orang asli sini, KTP sini mas."
"Astaghfirullah al adzim." Abang ojek itu tertegun. Terdiam, sambil motor terus melaju. Kemudian, motor lewat di depan lapak cermin saat sedang macet, ketepatan abang ojek sedang melihat kendaraan dari kiri. Ia semakin tertegun ketika seakan mengenali aku. Lagaknya seakan habis melihat kuntilanak.
"Mas ini Wirawan Cisoka yang hilang 10 tahun lalu? Atau cuma mirip?" Abang ojek seakan tidak percaya.
"Saya orangnya mas." Aku jujur.
"Astaga mas... Bisa jadi berita besar ini mas. Pantesan dari tadi di stasiun kok orang orang kayak liatin ente. Ente nggak nyadar ya mas?"

"Dari tadi saya gak nyadar sampai penjaga stasiun pada melihat kaget begitu sama saya. Persis lah kalau orang tiba tiba nyadar Justin Bieber lewat." Aku mulai melontarkan kelakar untuk, umm, pengalihan isu.
"Mas, Justin Bieber udah nggak ngetren lagi mas, udah beberapa tahun gak keluar lagu sama sekali, sama kayak Atut yang kena penjara lagi habis bebas noh gara gara ada korupsi doi lagi ketahuan, sekarang di Banten udah habis keluarga Atut, masuk bui semua." Abang ojek keheranan melihat aku terlalu tergagap dengan isu terkini - padahal aku tidak pergi sejauh itu, dan hanya 10 tahun.
"Mas ini update betul berita ya." Aku menggumam sekaligus mengiyakan sajalah perkataan abang ojek itu. Aku juga lama tidak mengikuti dunia ini. Perbudakan itu sudah mengikatku jauh dari dunia luar, semua karena entah apa yang aku lakukan dulu. Aku tak akan menceritakan kepada siapapun kecuali keluarga di rumah.

Di papan reklame, terpampang tanda waktu "2 Februari 2025, 15.00 WIB". Setelah itu - aku ingat betul, itu belokan ke rumahku. Lalu aku turun, dan melihat alamat yang sudah yakin adalah rumahku. Kemudian abang ojek meninggalkanku setelah dibayar. Tentunya dengan terima kasih. 
Aku mengetuk pintu rumah itu, dan mendapati... mengapa penghuninya terlihat jauh berbeda? Mengapa rumahku sudah terlalu indah, jauh lebih indah dari gambaran yang kudapatkan tahun 2015? Ternyata setelah dicek...

Isinya masih sama, hanya bertumbuh kembang saja. Tiba-tiba adikku menengok keheranan, terkaget-kaget.
"TANTEEEE!!!! KAK WIRA DATAAANGG!!!" Teriaknya juga kencang seakan-akan terdengar sekompleks. Kompleks langsung heboh, pagar-pagar tetangga seakan akan terbuka sekejap, penasaran seperti orang habis menemukan wasiat, atau mungkin emas Soekarno yang masih dicari cari?
"Wirawan?" Tetangga-tetangga terperangah. Kaget. Kemudian tanteku yang berperan sebagai pengasuh juga kaget. Seakan akan baru melihat artis. Aku juga kaget, mengapa diriku disambut sedemikian itu. Tak lama, seluruh tetangga berpelukan melihatku. Apalagi tanteku yang aku sudah ada perasaan kangen padanya setelah puluhan tahun. Mereka juga bingung bagaimana caranya aku pulang. Ketika aku juga bingung dan masih kaget seperti orang habis dengar suara petir di jarak dekat, tiba-tiba pak RT dan perangkat kompleks langsung keluar.

"Ada apa ini? Rame bener kayak pasar?" Pak RT juga terperangah, "Oh, WIRAWAN! Kamu sudah berapa lama hilang Wir? Katanya orang di Whatsapp saya kayak lihat penampakan kuntilanak di komplek. Kamu udah dikira mati Wir."

"Hmmm, setelah saya lihat, dan saya lihat jam di tempat itu, 10 tahun."
"Kamu diapain Wir? Kok lama bener 10 tahun baru nampak. Kok bisa?" tanya seorang ibu ibu terkaget kaget.
"Diculik."

Satu kampung langsung kaget luar biasa dan semakin penasaran, siapa yang membebaskanku dan siapa yang.... ah sudahlah.

Bersambung

Cerita ini fiksi belaka. Hati hati yang cari cari soal proyekan Tangerang Serang, jangan dianggap beneran. Hari itu hujan di ujung pe...

0 comments: