Jasa Warung dan Tongkrongan Begitu Besar Bagi Negeri Ini

12/27/2016 08:10:00 AM Sael 0 Comments


Warung sering menjadi simbol perjuangan wong cilik dalam menafkahi diri mereka. Warung juga menjadi simbol kebutuhan primer kita, hayo ngaku siapa yang gak pernah ke warung? Warung juga Indonesia sekali, sekalipun bertransformasi jadi modern, juga tetap berjasa dan berasa Indonesia. Kenapa?


Jasa warung-warung di Indonesia, selain menyediakan kebutuhan sehari-hari, juga salah satu yang sangat gue soroti di sini. Interaksi. Sebuah interaksi sederhana bisa mengubah dunia, apalagi interaksi yang penting - sering terjadi di warung-warung.

Gue memang belum tahu kondisi negara lain itu bagaimana karena memang belum pernah ke luar negeri. Ya, tetapi yang sering gue rasakan, nuansa warung tak tergantikan. Setidaknya di Indonesia. Pokoknya mau tempat makan itu mewah sampai biasa saja, asal ada kehangatan ketika datang ke sana, ia layak menyandang predikat kewarungan.

Ah sudahlah. Lanjut lagi.

Warung kopi sering menjadi tempat keputusan penting sekalipun dari sini juga lahir obrolan "warkop" yang ngalor ngidul tak tahu ujung awal. Sama dengan warteg dan warung tradisional lain tetapi tentu gaya interaksinya agak beda. Asal ada temennya juga sih kalau sekarang... Di warkop seorang mahasiswa bisa menentukan keputusan se-sepele dia balik ke kosan atau numpang kosan orang. Di warkop sama, keputusan lebih penting seperti mencalonkan diri jadi ketua BEM atau apalah juga bisa terjadi.



Kalau warung kelontong, orang nggak cuma belanja tapi bisa bicara gosip terkini sekomplek sampai berita politik. Bukan sekadar bayar tapi lama-lama juga berlanjut ke obrolan ngalor ngidul seputar keluarga masing-masing sampai politik terkini. Budaya ini juga kebawa ke Indomart Alfamart, kalau udah saling kenal juga biasanya beda sekali pelayanannya dengan ke orang baru hahaha. Hal yang sama juga terjadi pada warung fotokopi atau warung internet, kalau sudah kenal atau ketepatan ketemu rekan teman dan semua yang sejawat, ya sudah, langsung akrab, berbicara khas orang Indonesia.

Warung-warung begitu juga sering menjadi sumber inspirasi selain tentunya seperti membuat ruang sendiri kalau kata Om Tulus. Di setiap negara, pasti ada sumber inspirasi yang datang dari duduk-duduk. Di Indonesia juga, inspirasi datang ketika duduk sendiri ataupun bersama di warung-warung seperti itu. Soal inspirasi lebih tinggi laju alirnya kalau bersama atau sendiri, itu urusan lain. Yang penting ada ide dulu. Ini termasuk ada ide atau tidak untuk menyelesaikan tugas.

Ya memang budaya duduk-duduk dan nongkrong, baik sendiri atau berjamaah, sudah menjadi budaya di Indonesia. Nggak heran media sosial menjadi banyak pengguna kecanduannya di Indonesia karena orang sini ada kecenderungan suka ngumpul itu loh. Nggak heran Sevel sampai menuai fenomena di luar negeri, karena konsep ngobrol ngalor ngidul tak mengenal kasta sosial ini hanya ada di Indonesia. Konsep Sevel ala warkop hanya ada di Indonesia. (referensi https://www.merdeka.com/uang/7-eleven-menuai-fenomena-hanya-di-indonesia.html dan http://www.whateverbackpacker.com/2012/03/perbandingan-sevel-di-indonesia-dan.html )


Untuk menindak PKL pinggir jalan yang bisa gue golongkan ke dalam warung-warungan karena sering juga dipakai buat nongkrong murah-meriah, pemerintah juga harus hati-hati... karena ini berhadapan dengan budaya nongkrong masyarakat. Bahkan di Ibukota, masih ada PKL gerobakan di JALAN JENDERAL SUDIRMAN DAN GATOT SUBROTO, BUSINESS CENTER, itu gue pernah lihat sendiri meski foto ngambil dari internet. PKL ini juga punya pelanggan setia, sehingga pinter pinternya Cagub-Cawagub terpilih nanti yang menata PKL tapi tidak menghilangkan budaya nongkrong. Salah satu yang bagus ya idenya Ahok menata PKL Kota Tua dengan seleksi PKL yang jualannya bener dengan yang jualannya asal-asalan.



Balik lagi ke mengapa warung bisa berjasa begitu besar bagi negeri. Warung-warung yang menjadi tempat tongkrongan bisa menjadi awal penyebaran informasi baik atau buruk. Warung nongkrong bisa menjadi tempat orang yang emosi menjadi dingin, tempat orang yang sedang dingin menjadi panas, tempat orang yang berbeda pendapat dipersatukan, tempat orang yang berselisih paham bisa berdamai, tempat obrolan politik yang keras-keras di medsos bisa melunak luar biasa, padahal itu diskusi di antara pendukung berseberangan luar biasa. Tempat orang yang sedih bisa dihiburkan, tempat orang yang tidak semangat berorganisasi menjadi semangat lagi, tetapi bisa juga menjadi tempat patah semangat orang. Masih banyak jasa lain, intinya jasa warung adalah mengubah kehidupan pribadi hingga bangsa negara.

Oleh karena itu, janganlah masukkan obrolan negatif ke dalam warung kopi. Dari bisik-bisik memfitnah selebritis, rumor tentang cinta satu sama lain (dua hal itu bisa dibawa bercanda), sampai pilihan sikap politik yang umumnya tidak dianggap main-main. Sudah, obrolan-obrolan warkop itu cukup hal yang positif saja, hal negatif seperti aib orang atau hal yang kira-kira bisa merusak bangsa ya cukup sampai selesai ngobrol, setelah bayar dan angkat kaki dari warkop lupakan semua itu. Lagi-lagi berlaku juga untuk semua tempat tongkrongan, gak cuma warkop...



Mau nggak lo kalau ketemu teman atau rekan (siapapun dia) di warung, tatapnya sinis hanya gara-gara ada fitnah kaum onoh masuk ke obrolan warkop? Mau nggak lo kalau lagi makan di warteg ketemu temen bawaannya cemberut padahal kitanya cenderung pelupa terhadap masalah jadi tetap menyapa sang temen, ya tapi ujungnya dicuekin? Mau nggak obrolan warkop yang santai-santai dan bikin ketawa-ketiwi menjadi marah-marah sehingga terjadilah berantem dan bukan gak mungkin tawuran? Mau gak sebuah obrolan di warung Padang bikin kekacauan satu negara, gara-gara obrolan di warung itu isinya menghasut?

Maaf kalau bikin gak mudeng. Selamat Natal dan selamat istirahat liburan!

Warung sering menjadi simbol perjuangan wong cilik dalam menafkahi diri mereka. Warung juga menjadi simbol kebutuhan primer kita, hayo ...

0 comments: