Natal Tanpa Atribut, Tanpa Ucapan: Gue Gak Masalah, tapi Mereka?

12/19/2016 02:37:00 AM Sael 0 Comments

PAS 46 RIBU VIEWS!!! Exactly 46000 ketika artikel ini rilis.
Gue sebagai bagian umat Kristen ingin menguatkan teman teman yang, gue tau, lagi gatel mengomentari orang orang bersumbu satu senti yang sepertinya gue lihat sedang merenggut kebahagiaan Natal dari saudara-saudara kita, dan berharap kebahagiaan Natal itu juga terenggut dari kita. Dimulai dari Atribut, lalu perlahan mulai menghantam perayaan Natal itu sendiri.
Gue inget banget, sebelum sekitar 2013, perasaan masih biasa biasa aja saat Natalan. Kemudian... negara api menyerang. Ada yang mengeluarkan haram mengucapkan Selamat Natal, lalu rame deh. Ada yang ngebalikin "itu yang bikin aturan mau terima hadiah Natal doang, alias Angpau ya?". Hmmm, sejak saat itu, tiap akhir tahun pasti ada hal yang kata sebagian orang - tak mengenal agama - adalah lawakan akhir tahun.

Padahal, baguslah kalau penuansaan Natal dilarang. Nggak usah keluar duit dong buat hiasan Natal, bahkan di gereja hal ini juga insentif positif, karena panitia Natal nggak usah merogoh kocek dalam dalam buat beli hiasan Natal. Nggak ada orang yang pamer pamer hiasan Natal di rumahnya yang harganya puluhan juta. Nggak usah memasang hiasan Natal yang susahnya setengah mati dan sebenarnya meregang nyawa juga untuk hiasan langit langit. Mantap nih, penghematan keuangan di masa masa susah, WAHAHAHAHAHA.

Itu semua nggak ada esensinya buat yang udah Kristen bener mah. Cuma atribut kultural kok Santa Klaus dan sahabat sahabatnya semacam topi Natal dan pohon Natal. Keluarga gue juga udah lama gak pasang pohon Natal karena pas natalnya ke luar kota terus. Semakin ke sini, gereja gereja juga melakukan pendekatan Natal ke budaya populer sini kayak dangdutan, modern dance, EDM, dan pokoknya yang menurut mereka bisa menjangkau makin banyak jiwa.

Masalahnya, hal gini gini - pelarangan - menghalangi nuansa Natal itu bisa dirasakan saudara saudara kita. ITU YANG GUE SEDIHKAN.



Padahal esensi kita Natalan adalah: Natal bukan buat kita saja, tapi buat mereka juga. Kan katanya garam dan terang dunia, masa sih nggak mau berbagi Natal ke saudara saudara kita? Kalau untuk yang sudah cukup berani ya penginjilan. Nah, tapi untuk memberitakan Natal ke saudara saudara kita kan salah satu cara efektif-sederhananya adalah penuansaan. Dengan penuansaan, itu media juga dong untuk berbicara ke saudara saudari kita, oh ada Natalan di sana. Oh, bentar lagi ada Natal. Oh, lagu gereja enak didenger juga ya - ketika mendengar lagu lagu natal, baik sekuler ataupun rohani, diputar di mall.

Ketika atribut dan perayaan Natal besar besaran di-banned, otomatis media penyampaian berita Natal dan "sekarang mau Natal" hanya dari mulut ke mulut, yang bisa jadi juga di-banned sama mereka mereka itu. Dunia bukan cuma orang Kristen Katolik doang isinya, dan kembali lagi ke tadi, budaya populer seperti sinterklas dan topi Natal adalah alat efektif buat saudara saudari kita mengetahui Natal, persis yang Kristen tahu ada perayaan Idul Fitri ikut ikutan bikin ketupat, katanya enak. Ada nyepi, langsung matikan lampu dan tidur seharian. Hahaha.

Kalau mereka tahu, mereka bisa mendapatkan damai Natal juga dong, mungkin dari wangi parfum yang dipancarkan baju-baju Natal. Mungkin dari duit berlimpah yang didapatkan dari jualan baju di Tanah Abang, atau jualan aksesoris di Asemka. Mungkin dari aksi Natal yang memberikan sembako sampai pelatihan keterampilan. Atau dari hal hal kecil semacam lagu lagu Natal diputar di mall, pohon Natal megah yang meski mereka dilarang seharusnya masih bisa mengagumi, gambarannya seperti gue pegang sepatu harga jutaan di mall. Ketika tidak ada lagi penuansaan Natal, memang buat kita umat Kristen nggak ngefek, toh masih ada dunia maya dan tentunya kita sudah mengerti apa arti Natal yang sesungguhnya. Tapi buat mereka mereka yang tahunya Natalan cuma lagu gereja, sinterklas, dan pohon Natal? Mereka lama lama gak aware kalau ada Natalan, like most people right now ke perayaan Hindu Buddha, baru ngeh setelah lihat kalender. Sedih.

Tapi Yesus pernah berkata bahwa dunia tidak mengenal kasihNya, mengenal Dia pun tidak, benci iya (Yohanes 15:18). Ya wajar wajar saja kalau orang orang itu selalu menghalangi mereka yang ingin memberitakan Kristus melalui Natal. Mereka - beberapa, apalagi mastermind - juga tahu bahwa dengan Natal ini banyak orang yang akan mengganti kepercayaan. Ya sudahlah, mereka kejet kejet dan langsung hantam jaya, Natal dilarang di sini, sana, sono. Mereka bahkan mungkin berpikir secanggih gue - pengharaman mengenai Natal ini bisa memengaruhi agar orang orang dan pak polisi tidak mengamankan Natalan karena katanya larangan agama. Beraksilah mereka yang pengen NKRI kebakaran.

Padahal sebenarnya, lagi lagi, keyakinan itu berasal dari hati nurani sob!!! Kalau lo ngucapin tapi hati nggak bermaksud mempercayai ajaran, ya gak masalah. Pertebal keyakinan agamamu setelah mengucapkan Met Natal. Kayak kebanyakan orang yang biasa biasa aja bahkan gak tau ada pengharaman selamat Natal. Peraturan atribut Natal.

Ke depannya, gue berharap umat Kristen melakukan nyepi aja deh ketika natalan. Selain bagus buat lingkungan - gak buang buang energi dan duit, memang cocok kayak suasana Natal yang di Alkitab, sunyi senyap bukan berisik kayak pasar malem.

PAS 46 RIBU VIEWS!!! Exactly 46000 ketika artikel ini rilis. Gue sebagai bagian umat Kristen ingin menguatkan teman teman yang, gue tau...

0 comments: