OM NATALAN OM

12/24/2016 07:09:00 AM Sael 0 Comments



Memanfaatkan tren Om Telolet Om yang membuat ramai blog gue - tapi karena gue tinggal seharian tanggal 23 itu jadinya viewer anjlok lagi LOL, gue juga membuat artikel seputar Natalan karena seorang blogger Kristen rasanya perlu membuat artikel Natal. Om, Natalan Om, jangan mikir lain lain dulu!

Om Telolet Om yang ngetren sebelum natalan jangan sampai membuat kita lupa kita mesti siap siap buat natalan. Om Natalan Om! Ayo ke gereja pas tanggal 25 dan rasakan apa itu Natal. Tapi jangan jadi Kristen Napas (NAtal PASkah) juga keles, apalagi Kristen KTP yang saking fenomenalnya sama sodara sodara kita jadi nama sinetron, mengingat fenomena agama di sini yang sering cuma jadi, ah sudahlah.

Gue mengingatkan lo tentang apapun kegiatan lo pada saat Natal, selalu ingat esensinya. Natal gak cuma simbolik!

Lagu Natal yang merdu bisa membuat orang melupakanlah sejenak masalah di depan mereka, sama kayak beberapa orang ke gereja mencari penghiburan atas kedukaan. Ya tapi jangan jadikan gereja dan lagu gereja tempat pelampiasan emosi juga keles. Lo itu menyembah Tuhan bro bukan lagi karaokean. Boleh banget, nggak ada yang larang nyanyi nyanyi lagu rohani pake curhat. Cuma, ingat terus bahwa elo di sini menyembah Tuhan bukan mencari kesenangan sendiri. Hormati TUHAN.

Buat yang lagi latihan atau mempersiapkan diri buat mengisi ibadah Natal, wah ini udah banyak yang ingetin di situs situs renungan harian, do it not for you but for God. Ingatlah hukuman akan datang bagi orang orang yang melayani asal asalan. Bukan hanya asal asalan di teknis, tapi kadang ada yang asal asalan di esensinya, esensi melayani jadi belok bro. Harusnya beneran buat Tuhan, eh malah fokus menyenangkan kuping jemaat semata - meski enaknya kuping jemaat salah satu parameter keseriusan suatu ibadah. Melayani manusia emang salah satu bentuk melayani Tuhan yang konkret, tetapi selalu ingat bahwa tujuan utama lo adalah membuat jemaat ingat dan kembali sama Tuhan. Ingat juga Tuhan sering pakai prinsip jalanKu bukan jalanmu.

Hiasan Natal dan pohon Natal yang entah di gereja gereja atau di rumah rumah bisa mengikat suatu keluarga menjadi satu, mempertemukan keluarga keluarga yang biasanya kumpul enam bulan bahkan sampai 20 tahun sekali (iye jaman gua belom lahir udah gak ketemu ketemu). Selfie selfie di pohon Natal memperlihatkan keintiman dan keakraban keluarga di tengah masalah keluarga yang beda beda tiap tempat. Tapi gereja bukan tempat selfie doang kali. Momen kumpul keluarga juga jangan cuma pas Natalan doang kali kalau masih keburu.

Belanja Natal mungkin merupakan ajang di mana kita bisa beli baju baru. Ajang kita juga buat memperhatikan saudara-saudara, karena nggak jarang loh belanja Natal itu termasuk belanja buat aksi sosial. Tapi, ingat, selain belanjanya jangan sampai kalap, ingat juga bahwa baju baru bukan segalanya bro. Kalo hatinya nggak baru sia sia buat Tuhan Yesus sih.

Buat yang jualan di saat Natal, meraup untung dari dagang saat Natal, ya silakan saja. Tuhan tidak melarang kalian jualan aksesoris Natal. Beberapa teman gue juga untung besar saat Natalan lapaknya. Tapi jangan mengomersialisasi Natal dan malah menggeser makna Natal jadi belanja belanji. Itu udah pelecehan terhadap Natal tanpa disadari, karena udah gak liat esensi Natal yang sederhana, sementara perayaan besar besaran itu diperlihatkan ke Tuhan loh sebagai tanda keniatan lo menyambut Natal, bukan buat (pinjem istilah sebelah) riya ke sodara sodara lu!

Buat yang melakukan aksi sosial Natal, bagus banget karena elu udah mengingat teman teman kita yang masih belum beruntung. Ya, tapi penting juga untuk mengabarkan berita Natal kepada mereka yang belum tahu sama sekali tentang berita Natal. Dua duanya penting, nggak ada yang mengoverlap satu sama lain, karena Paulus mengajarkan lo harus perhatian sama saudara saudari seiman meanwhile juga harus perhatian kepada yang belum percaya... Gue ingetin lagi, jangan sampai aksi sosial Natal malah dipakai ajang show off gereja dan denominasi, yang lebih kejam lagi sampai dipakai berpolitik secara kotor alias money politics yang sangat dibenci di sini, astaga, ini bikin malu nama Kristen.

Buat yang mau mudik Natal dan silaturahmi Natal, jangan lupa jaga keselamatan diri, hilangkan kesan kesan yang kemarin menyebar saat kasus Brexit, bahwa banyak yang balik kampung cuma show-off. Yang harus kita tunjukkan ya kasih Tuhan pada saudara saudara kita. Ingat juga bahwa Tuhan Yesus selalu mengajarkan kita buat humble, rendah hati. Kembalikan esensi mudik yang acara kangen kangenan... bukan ajang pamer pameran. Kalau yang liburan Natal tanpa mudik, selalu ingat Tuhan di perjalanan aja deh, dan beritakan Kasih Natal kepada orang yang berhubungan dengan lo sepanjang jalan :).

Tentunya masih banyak kegiatan Natalan yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Gue mengingatkan lo dan mengingatkan diri gue sendiri juga sih agar mengingat esensi dari Natal itu sendiri. Kembalilah padaNya, terutama buat kaum Natal Paskah dan kaum asal Kristen. Natal adalah pencerahan, sama seperti setiap hal yang dilakukan Tuhan Yesus selama Ia di dunia. Kita merayakan Tuhan Yesus dan kita wajib menyembah sebagai prasyarat kita bisa merayakan dan merasakanNya. Tanpa Yesus, bukan merayakan Natal namanya, di mata Tuhan gak jauh beda sama pesta kondangan. Lah, penyembahan terhadap Tuhan itu kan yang membedakan orang pergi Natalan sama pergi ke kondangan, hehehe.

Selamat merayakan Malam Natal, gue ngebut banget nih artikel jangan sampe kelarnya tanggal 25 biar masih bisa disebar ke teman teman... Hehehe. Selamat Natal, jangan lupa doa sebelum tidur!

Dan, OM NATALAN OM JANGAN SIBUK SENDIRI!!! HAHAHA.

Memanfaatkan tren Om Telolet Om yang membuat ramai blog gue - tapi karena gue tinggal seharian tanggal 23 itu jadinya viewer anjlok ...

0 comments: