Saya Menyudutkan yang Salah

12/26/2016 06:00:00 AM Sael 0 Comments


Bukan hal yang baru kalau saya dikata menyudutkan salah satu kaum, atau dikata tulisannya terlalu panas. Gue juga sadar tulisan tulisan di blog ini panas. Gue juga tahu dan bersiap akan konsekuensi itu ketika memutar balik arah blog dari berbagi tips tips dan curhat ala anak muda menjadi blog nyerempet nyerempet politik ala ala Denny Siregar, Kompasiana, Fadjroel, dan apalah itu. Sudah tahu lah ya.
Memang jujur saja, saya dan banyak blogger, belum beberapa kontributor media sosial, menyudutkan orang juga jatuhnya. Ya, tapi kami menyudutkan apa yang kami anggap salah. Salahnya sendiri pun ada parameter yaitu nilai-nilai yang berlaku di masyarakat plus hukum yang berlaku di NKRI. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung, tapi memang kecenderungan manusia ya, gitu.

Ngapain gue menyudutkan suatu agama? Gue punya teman dari kelima agama, hampir semua ada teman dekat bahkan. Ya, ngapain gue menyudutkan agamanya? Kalau menyudutkan umat, benar itu, tapi umat yang salah. Kalau sudah benar ngapain disudutkan, psikopat itu namanya. Sama halnya dengan suku. Kenapa terang-terangan mengatakan menyudutkan?

Setiap kritik yang pedas pasti akan memojokkan bukan? Seorang penyanyi yang dikritik tajam sama juri kontes akan merasa terpojok bukan? Seorang anak yang ditegur orang tuanya pasti akan merasa terpojok, kalau nggak merasa begitu namanya ngelunjak. Begitu juga dalam perdebatan, dalam mengalahkan suatu pendapat yang gue anggap salah, secara gak langsung gue akan memojokkan orang itu sehingga pendapat gue yang menang, ditambah gue juga bisa mengambil hal hal positif dari si lawan.



Hanya, gue memojokkan mereka mereka yang memang salah, seperti yang mau mengacak acak negeri ini, yang memboikot roti sampai kesenangan kalau tidak laku dan tidak menghargai makanan halal, yang mau berekspresi tapi caranya salah, yang suka menghina legenda musik demi cari perhatian, yang terlihat sekali kalau berdebat hanya bisa memutar kaset yang bisa dipatahkan secara logika, dll. Setelah mereka terpojok, gue mengajak mereka agar mau menerima kebenaran. Ibarat membangunkan teman yang ketiduran sampai mau telat kuliah, memang membangunkan orang itu membuat ribut ribut bahkan marah marah, tapi itu demi kebaikan dia juga supaya nggak terbenam terus di alam mimpi.

Kalau soal golongan yang mau acak acak Indonesia, gue juga sudah banyak membaca di banyak situs, ternyata yah, kenyataannya banyak golongan sakit hati yang beruntung punya loyalis dan massa banyak sehingga yah, begitu. Kenyataannya, orang yang merasa Indonesia hanya demi dia dan kroni kroninya salah. Orang yang merasa Indonesia adalah milik bersama adalah orang yang benar. Orang yang menggunakan Indonesia (tanahnya, namanya, produknya, hasil alamnya, manusianya) seperlunya itu adalah orang yang baik menurut saya. Orang maruk dan orang yang memanfaatkan Indonesia seakan akan seperti orang lagi kasmaran - dunia ini serasa milik berdua - ya itu yang salah. Indonesia punya kita semua bos!

Untuk menyadarkan golongan maruk dan egois gini, cara yang dilakukan memang memojokkan dan menyudutkan, karena mereka dinasihati juga tidak bisa. Dalam seni melawan debat juga, balik lagi, intinya pojok memojokkan kan? Tapi gue gak pernah menyudutkan suatu agama, suku, atau apapun. Gue punya keyakinan di dalam suatu perkumpulan kecil saja tidak semua orang searah sependapat, apalagi kalau bicara agama dan suku. Dalam suatu kumpulan orang banyak, tidak mungkin alur berpikir dan sama semua. Oleh karena itu, penganut agama pasti ada baiknya, ada jeleknya, gak semua orang penganut suatu agama satu sikap. 

Catat, penganut, bukan agamanya. Gambarannya dalam negara ini sudah dibuat peraturan tapi tetap ada yang melanggar. Agama itu seperti negara, sudah dibikin aturan, sudah dibikin sikap sikap yang harus ditaati, eh ada aja yang langgar.

Jadi, maafkan gue kalau suka terkesan menyudutkan. Memang gaya bahasa gue gitu. Maaf sekali lagi kalau ada salah dalam penulisan, apalagi momen Natal ini adalah momen persatuan dan maaf maafan umat Kristen. Hehehe

Bukan hal yang baru kalau saya dikata menyudutkan salah satu kaum, atau dikata tulisannya terlalu panas. Gue juga sadar tulisan tulisan...

0 comments: