Tidak Punya Hati Kalian (2)

12/15/2016 10:59:00 AM Sael 0 Comments


Kelanjutan tulisan gue tentang ketidakpunyahatian masyarakat sini. Sedih gue, citra bangsa kita peramah sudah luluh gara gara pemberitaan tidak jelas ini. Bigot-bigot heartless sebelum jaman sosmed memang banyak, tapi tak semenggelora sekarang.

Memang sejak 2014 bahkan sebelum sebelumnya, kita sudah tahu bahwa heartlessness seseorang akan terlihat ketika ia menginginkan jabatan - terutama politik. Apapun dikatakan, hal tidak penting dihantam. Gue melihat ini ada di kedua kubu saat 2014, di mana kubu Jokowi banyak yang blunder mempermasalahkan alat kelamin dan istri Prabowo! It is not essential issue bro, terlebih siapa laki yang gak sakit dibully gitu, banyak setau gue yang curhat di Kaskus apalagi dulu (DAMN, NSFW). Kubu Jokowi? Aduh, bochor rakyat!

Sifat heartless ada di dalam diri setiap manusia, setiap kubu karena adanya dosa. Tanpa sadar kubu petahana juga agak heartless dengan membully kapan jatuh dari Monas, kapan potong anu, dll. Meskipun itu hanya tujuannya buat kasih pelajaran bahwa nggak boleh loh nyebar janji apalagi nazar palsu! Nanti dibahas di artikel berikutnya.


Kali ini, gue membahas ke-tidak-punya-hatian dengan merenggut dan memanfaatkan mereka yang tidak tahu apa-apa. Ini rakyat kecil yang sesungguhnya sedang ditekan preman, dijadikan objekan penguasa, persis lagu Iwan Fals dan seangkatannya yang memang kritis. Ya contohnya Sari Roti, meski tulisan gue kemarin menunjukkan ini sentimen positif bagi Sari Roti, tetap aja ada yang terimbas, iya kan bro? Nggak usah belajar ekonomi juga udah tahu.
Bahkan dapat gue katakan yang begini justru sesungguhnya juga teroris! Kenapa? Karena ingat banyak kasus bullying di sekolahan yang sering dikatakan merusak mental anak dan masa depannya juga pasti terdampak. Nah! Ini namanya terorisme mental, bahkan lebih nyata daripada bullying: terorisme terhadap ekonomi. Persis kayak yang suka ngancam PT KAI gara gara gangguan kereta yang nggak disadari karena salahnya sendiri, sampai separah isu rush money. Ujung ujungnya ada pelemahan ekonomi bangsa.

Kalian itu nggak pikir panjang, nggak ada hati dengan seenaknya bilang "ah rakyat kecil kan bisa jualan roti lain dengan sistem jual putus". Apalagi si Setyardi Bochor, eh Obor Rakyat. Aduh... Kalian ini heartless bener. Memulai suatu usaha dikira gampang ape? Startup aja banyak yang terseok seok di awal dengan modal cekak, contoh usaha Om Nadiem (Gojek) itu udah ada dari 2010, cikal bakal Go-Food atau penggojekan makanan udah ada dari 2012 tapi yang pegang bukan Gojek. Terkenalnya? 2015! Blog gue juga dimulai tahun 2012, tapi baru benar benar menikmati view sebanyak ini setelah ganti jadi misael.id hehehehe.

Banyak pedagang model model begini, persetan apa macam gerobakannya, yang memang kasihan. Sudah berumur lanjut, sudah tidak tahu mencari nafkah apa, dan too little too late mencari pendidikan, lah makan saja susah kok. Nggak enak bilang kurang pendidikan karena sekarang kan ada kejar paket, yang tamatan SMA masih ada D3, masih bisa minta beasiswa ke luar negeri. Tapi karena kondisi ekonomi dan usia, gue mengatakan too little too late. Ini juga alasan sulitnya mengusir PKL dari Jakarta Raya - bahkan di Jalan Sudirman, gue lihat sendiri fenomena ini.

Selain itu, kalau jualan roti lain, apa nggak makin menurunkan brand Sari Roti yang nanti disebut pedagangnya jualan oplosan? Berarti biar nggak buruk citra Sari Roti, minimal beli cat buat hapus Sari Roti, keluar duit lagi. Apalagi isunya margin keuntungan untuk penjual Sari Roti ini tipis kadang. Sehingga nggak logis lah kalau menyuruh mereka (para pedagang Sari Roti keliling) mulai invest roti lain.

Kalau bicara suruh pindah kerjaan lah, astaghfirullah. Jaman sekarang, gue baca di salah satu artikel karier bahwa kerjaan harus settle, tidak boleh kutu loncat. Kelas menengah ke atas aja kalau kerjanya jadi kutu loncat aka serabutan malu, nggak iya sih? Selain itu, kalian kelas menengah juga kalau pindah kerjaan takut kan, selain takut tidak bisa perhitungan gaji, tidak bisa time management, juga tidak bisa adaptasi dengan lingkungan kan? Maka dari pada itu, pindah kerja hanya dilakukan saat urgensinya tinggi, semisal bosnya mata keranjang dan situ terancam jadi korban bos; kantor terancam secara finansial seperti guncangan yang terjadi pada media cetak; rumah ente pindah terlalu jauh dari sana sementara untuk ngekos juga nggak feasible karena mahal.

Nyuruh pindah kerja yang udah enak jualan Sari Roti? Situ sehat? Lah, pada saat pemindahan penduduk pinggir kali di Jakarta ke rusun jauh banget alias Marunda, pemprov juga mikir itu bagaimana kerjanya warga sana setelah dipindahin, apalagi yang kerjanya dekat situ. Makanya diberikan pelatihan keterampilan, dan harapan gue sih mereka juga diberikan rekomendasi tempat kerja, sekalian di Bekasi Utara dibangun aja biar meriah hehehe. Mereka yang nyuruh pedagang SR pindah kerja nggak mikirin pelatihan keterampilan gini, mungkin yang gue sempat baca ada pelatihan bikin roti, tapi ada lagi embel embel SARA nye. Hadeh.

Pelatihan keterampilan di Marunda oleh Pemprov DKI

Beberapa yang injak-injak kayak di cover tulisan pertama gue tentang Sari Roti, wah situ gak punya hati bener. Banyak ah trik bagi bagi roti begini ketimbang harus boikot tidak jelas. Apa mereka takut kalau mereka bagi bagi Sari Roti akan ada inkonsistensi dan... ah sudahlah, semakin dikatain munafik mereka. Masih banyak orang kelaparan masbro! Kenapa nggak dibagikan aja? Eh, lupa, kalau mereka bagi bagi gratis Sari Roti maka pelintiran mereka gagal....

Kalau beberapa toko yang menghentikan suplai Sari Roti, situ menghalangi rezeki diri sendiri. Sudah. Apalagi Sari Roti belom dikatakan haram secara fisik bukan? Ya sudah, situ terlalu banyak dengar kata tuannya jadi boikot deh... Tanpa sadar mereka lagi diperalat buat menteror Sari Roti supaya bangkrut beneran, nanti ujungnya Om Anthony Salim ownernya marah, udah deh, byebye.

Belum kalian pikirkankah mereka yang kerjanya terancam terguncang kalau secara ekonomi boikot boikotan ini bisa memengaruhi keuangan SR? Kalian pikirkan admin website yang mungkin saja sudah mau natalan tapi harus kerja reparasi situs itu -  memang bisa diakses di archive.org => https://web.archive.org/web/20161017102036/http://www.sariroti.com/ tapi siapa yang tahu? Kalian pikirkan tidak karyawan yang akan terimbas kalau bangkrut beneran - di segala lini? Yang belum pernah manajerial organisasi pasti bakal bodo amat, oh aja ya kan?

Dan dampak tidak punya hati itu adalah ke elo... Selalu. Nggak cuma dalam ekonomi makro semacam kasus Sari Roti ini. Melakukan hal buruk terhadap orang lain imbasnya akan kembali kepada lo, dalam berbagai bentuk. Ingat, karma is a b****h. Karma itu rasional makanya kenapa dunia Barat juga mengakui hal yang udah ada dari jaman Hindu ini, dosen gue pernah bilang bahkan setiap perbuatan kecil kembali kepada lo, kalau udah bisa berpikir sistemik. Kalau pada kasus Sari Roti, kalau ada gangguan pada perusahaan besar bahkan collapse, berapa banyak yang akan terguncang? Berapa stakeholder yang kena? Lah, minyak gonjang ganjing aja banyak banget yang sampai... aduh, ah sudahlah...

Btw gue membahas ketidakpunyahatian ini seharusnya juga bahas soal orang tidak punya hati yang banyak berkeliaran di sosmed. Segala jenis. Di tulisan ini juga harusnya gue nulis ke yang memanfaatkan orang kecil seenak jidat mereka. Tapi kemaleman, udah ah!

Selamat malam dan selamat bertugas, pula selamat ujian! Biar kepala adem, dengerin ini dulu dong! Aku Cuma Punya Hati - Mytha, salah satu video YouTube Indonesia paling banyak ditonton!


Kelanjutan tulisan gue tentang ketidakpunyahatian masyarakat sini. Sedih gue, citra bangsa kita peramah sudah luluh gara gara pemberita...

0 comments: