Tidak Punya Hati Kalian

12/14/2016 05:38:00 AM Sael 2 Comments


Gue kemarin nonton Ahok lagi disidang secara nggak sengaja pas lagi makan, sebelum UAS. Ya, kasihan aja sih lihatnya. Ini gue sering bicara Ahok bukan berarti gue mendukung, lah gue aja gak bisa milih. Tapi hanya karena demokrasi DKI nggak sehat, mosok cuma 1 calon incumbent doang yang beneran cerdas?

Sebenarnya kalau orang punya logika, nggak setengah setengah mikirnya, nggak dikotorin sama pemikiran yang merusak otak, bisa pakai nalar sehat. Gue beruntung kali ini bisa mantengin sidang Ahok yang beneran - meski di TV O'on. Nggak kayak kasus Al Maidah di mana gue baru liat video aslinya beberapa minggu setelah rame!

Di sini gue lihat, betapa nggak punya hatinya orang yang menghina Ahok caper, nangis. Kondisinya sama kalau gue ingatkan kepada elo tentang orang tua yang sudah meninggal ketika habis nyekar. Ah, mungkin politik emang bener bener heartless seperti kata orang... Tega teganya ada temen gue yang hmmm, masuk golongan onoh, tertutup pula (jarang gaul), yang ngelike postingan "Ahok caper, tangkap dan penjarakan Ahok! di IG. Ya meski gue gak pungkiri ada juga sih pendukung onoh yang dekat sama teman teman, tapi gue merasa itu jarang terjadi karena pertemanan yang baik bisa mencegah lo melakukan hal aneh-aneh, seperti fitnah Perkumpulan Kandang Sapi.

Kasihan gue sama yang gini gini. Gue aja sedih, jujur. Mungkin kalau itu sidang tidak bertepatan dengan meninggalnya bapak angkat Ahok, boleh jadi dia tidak menangis karena tidak ingat ingat betul. Masalahnya, waktu kemarin adalah ketepatan dengan peringatan wafatnya orang tua angkat Ahok yang muslim (anda yang bertanya tanya kenapa Ahok banyak tahu soal Islam bahkan jauuuhhh sebelum Sumber Waras, ini alasannya). Jadi, bapak ini menangis karena memang teringat, kayak gue juga kadang kadang nangis kalau diingatkan soal kakak kandung, bukan karena gue kepengen banget punya kakak kandung, tapi karena calon kakak kandung gue udah meninggal sebelum sempat lahir. So, I know what he feels.

Dan setiap orang punya kisah sedih sendiri bersama keluarganya. Ada yang broken home lah, ada yang ditinggal mati lah, ada yang ditinggal cerai (beh ini lebih sakit daripada ditinggal wafat), ada yang... ah sudahlah. Gue yakin yang ngatain Ahok caper juga punya kisah sedih sendiri, kayak si Haji Lulung yang dibalikin soal korupsi dana haji.


Ini apa kalian sebenernya kasihan tapi junjungan kalian nyuruh ngetik jadinya gitu? Benarkah sistem Korea Utara juga dianut sebagian orang di sini? Di mana kalau di Korut seakan akan komunis padahal menyembah rezim Kim Il Sung, kalau di luar Korut - contohnya itu Suriah - seakan akan Islam padahal tanpa sadar disuruh nyembah "leadernya", baik itu mentor ataupun ulama, dengan ancaman agamawi...

Udahlah, kalian kalau masih punya hati kenapa masih terus terusan ngikut mentor kalian sih? Hal perintilan aja diikutin. Gue sering ikut mentoring dan kerap kali melaksanakan tugas mentor tidak sempurna, tapi sebisa gue. Tapi kalau yang ini kebangetan. Masa disuruh nginjek Sari Roti mau, disuruh ngebully Ahok mau? Gue marah pada kaum begini karena hati bro bukan karena ngebuzz bapak itu - ya meski di sini gue menjadi buzzer Ahok secara gak langsung. Masak orang nangis gara gara rindu keluarga dikata cengeng? DIKASIH APA LO HAH?



Sementara gue ngerasain, zaman sekarang tidak mudah ngajakin orang. Mereka harus dikasih sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Benefit-oriented. Bermanfaat secara konkret. Nah, kalau yang dukung Ahok juga kebanyakan mengikuti paham benefit-oriented juga kok, ada yang nggak mau MRT-LRT mandek, ada yang sudah senang trotoar jadi bagus, ada yang sudah enak leha-leha di rusun yang jelas sementara dulunya ditagihin terus sama tuan tanah - rumahnya kumuh pula.

Gue awalnya ragu sama Pak Ahok loh, karena statement yang bikin panas pada saat Jokowi masih jadi gubernur kalo gak salah tentang mobil, belum firasat gue akan bacotnya Ahok akan membawa masalah besar bagi DKI, yang sebenarnya wajar sekali bagi orang Sumatera'an karena gue berteman dengan banyak banget orang berbasis Sumatera yang memang bicaranya blak-blakan. Tapi karena benefit yang gue rasakan sendiri sebagai warga Tangerang yang banyak kelayapan di DKI, gue gak ragu lagi. Meski banyak yang nggak sempurna memang, kayak trotoar jalan utama Jakarta kok masih malu maluin, busway kayak kaleng rombeng.

Tadi, kembali lagi ke benefit-oriented, nanti akan gue bahas sendiri. Bakal pemilih Ahok merasakan benefit yang dibawa selama 3 tahun si bapak menjabat bahkan ada yang bisa bandingkan dengan kinerja Bapak Soni dan kontroversi bagi dana ke anti Ahok. Makanya milih. Nah, hal ini berlaku juga buat panasbung yang tadi gue sebut. Mereka bisa kasih opini satu suara juga karena benefit, entah apa, mungkin uang seperti pengakuan orang yang katanya dibayar per ketikan sekian perak. Mungkin dikasih jabatan kayak bos bosnya. Mungkin biar nggak dijauhi temennya. Mungkin biar nggak diancam preman - kayak kasus hadang kampanye Djarot. Benefit ini yang menggerakkan orang-orang itu buat menolak Ahok, lumayan kan - meski dalam hati nggak mau. Persis kayak mahasiswa yang nggak mau atau males ujian kok mau dapat IP 4.

Bye bye guys, selamat malam, dan semoga kalian masih memelihara hati, cukup Tuhan kalian yang melakukan intervensi hati kalian, jangan sampai hatimu dinodai oleh pihak tak bertanggung jawab. Nanti kamu sendiri yang rugi lohhh.... Juga jangan salah gaul, karena kadang dari salah gaul ini... orang bisa terbodohkan.

Gue kemarin nonton Ahok lagi disidang secara nggak sengaja pas lagi makan, sebelum UAS. Ya, kasihan aja sih lihatnya. Ini gue sering bica...

2 comments:

  1. Gw mikir hal yang sama sih bos, tapi coba di logika yang namanya politik itu kita gk akan sepenuhnya tau keadaan sebenernya di lapangan. mungkin banyak orang yang bilang ahok bener kok, karena sudut pandang mereka melihat kalo ahok bener. ada juga orang yang gk suka sama ahok, ya kerena mereka gk suka dengan cara ahok. disini kita gk bisa bedain mana yang salah mana yg bener, yang menjadi permasalahan adalah cara penyampaian. anadai kedua pihak punya cara peyampaian yang santun pasti hal-hal seperti ini bisa dihindarkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah! Permasalahan lain adalah framing dan penyebaran berita yang terlalu tendensius...

      Delete