Wahai 13 Penumpang Hercules, Anda Pahlawan Bangsa

12/18/2016 12:15:00 AM Sael 0 Comments


Sambil ngopi ngopi, kopinya pahit pula, Materi ujian yang dipelajari agak pahit, dan beritanya pahit juga. Tiba-tiba, lagi-lagi gara gara nonton berita Hercules jatuh, tahunya di warung Padang lagi macam sidang Ahok (baca tulisan Tidak Punya Hati Kalian 1), hari gue yang ceria karena mau Natalan mendadak jadi agak... ya sudahlah.

It is coincidence I know. Itu kebetulan yang di mata Tuhan nggak ada yang kebetulan, karena Dia tahu apa yang terjadi di dunia ini dari awal sampai akhir. Cuma manusia yang nggak tahu apa apa mikirnya kebetulan aja.  :)


Aku ingin mengucapkan turut berduka atas meninggalnya anggota TNI AU di Wamena, Papua, karena helikopter jatuh. Memang sudah risiko dari seorang prajurit untuk siap mati bagi negara, tapi... rasanya hati ini berkata, siapapun orangnya, kalau meninggal wajiblah kita sebagai sesama manusia berobituari, berbelasungkawa. Apalagi setelah gue tahu ini helikopter menerbangkan logistik kebutuhan sehari-hari ke Wamena, makin trenyuh. Betapa mereka mau menantang alam, berjibaku, berada tidak sejajar dengan garis kematian sehingga risiko kematian itu selalu ada setiap saat dan begitu dekat. Sementara kita yang di tempat yang masih enak - apalagi kota besar, rasanya untuk transportasi tidaklah sesulit itu. Ancaman kasat mata ini yang menciutkan banyak orang, padahal lebih ngeri ancaman tak kasat mata semacam kecelakaan lalu lintas. Mereka ini orang orang yang tak ciut dengan ancaman, berani menantang alam demi rakyat.


Di Papua, sudah beberapa kali terjadi insiden ini dan hampir insiden, salah satunya insiden Caribou 2 November 2016. http://news.liputan6.com/read/2641225/duka-keluarga-korban-pesawat-caribou-tabrak-gunung-di-papua 

Memang alamnya rawan. Pemerintah dan kita - apalagi yang pernah ke Papua, tahu bahwa tantangan menghubungkan Papua itu luar biasa. Kota kota pelabuhan ke kota pedalaman banyak yang belum terhubung, kalau terhubung juga sangat sulit. Menantang hutan, hewan liar, bukit, membelah gunung, belum tanah adat - ya jauh lebih sulit dari pembebasan tanah di Jawa kalau bicara tanah adat ini. Sampai ada yang bilang kalau janji Jokowi memberikan kereta api dan jalan raya di saat sama itu terlalu muluk muluk. Iya sih, kecuali kereta komuter di Jayapura mungkin.

Sehingga, karena tantangan alam dan keterbatasan ini, banyak wilayah yang mengandalkan pesawat terbang, kita semua tahu itu. Naik mobil ke kota besar masih mimpi di sini. Teman-teman dan bahkan sepupu gue yang tinggal di Papua mengakui memang banyak daerah pelosok yang sangat butuh perhatian pusat, juga mengakui mahalnya segala biaya karena faktor isolasi ini - meski di kota semacam Jayapura harga kebutuhan katanya 11 12 dengan Jakarta. 

Sehingga benar bahwa siapapun yang membuka jasa perintis ke pedalaman adalah pahlawan bagi Indonesia. Mereka membantu mengantarkan rasa menjadi Indonesia ke pedalaman negeri. Mereka membuat saudara saudara kita di pedalaman setidaknya bisa hidup agak layak, bisa bertahan hidup dan berkarya dalam isolasi mereka. Mereka mau bertaruh nyawa, berani menantang cuaca yang sangat tidak menentu, menyeberangi lembah lembah dan risiko tertabrak gunung seperti kecelakaan ini. Mereka menjaga Wawasan Nusantara dari pedalaman, untuk mencegah direnggutnya keindahan surga seperti Wamena ini oleh organisasi yang menginginkan lepas dari Indonesia. Dengan perjuangan mereka, para perintis penerbangan dan pembuka akses, rakyat Papua pedalaman begini sudah menganggap mereka sebagai pahlawan bangsa. Yang di Jakarta juga merasakan kepahlawanan mereka, karena visi misi NKRI tercapai dong? 



Angka kematian juga tidak main-main! Kecelakaan melibatkan 7 orang tewas aja pemberitaannya ke mana-mana, apalagi 13. Apalagi Indonesia sudah lama tidak ada kecelakaan pesawat. Kalau kasus tabrak bukit, perasaan terakhir Sebuah ketukan bagi militer kita untuk memperbaiki alat alat tempur dan persenjataan. Sebuah ketukan agar bangsa ini perhatian terhadap para pejuang yang berusaha menyamaratakan pembangunan di seantero negeri. Sebuah panggilan lagi kepada mereka yang masih berjibaku dalam kisruh politik agar perhatian bahwa inilah dampak dari tantangan alam Papua. Penakluk alam ini sungguh sungguh pahlawan.

Doaku untuk pemerintah kita supaya semakin membuka akses ke pedalaman Papua, supaya cerita cerita para TNI dan perintis udara ini dapat berganti menjadi cerita truk dan mobil yang melalui jalan jalan mulus, meski berkelok-kelok. Suatu saat, kisah kisah menegangkan dan menyayat hati ini akan tergantikan cerita orang yang bahkan jauh-jauh dari Jakarta untuk melihat keindahan jalan.Trans Papua yang terus menerus digarap dan diperjuangkan Pemerintah Pusat.

... akan tetapi transportasi udara pun tidak dilupakan begitu saja, tetap menjadi sejarah perjuangan menghadirkan Indonesia di Tanah Papua. Mungkin ke depannya transportasi udara hanya menjadi jalur express, bukan jalur satu satunya. Amin!


Sambil ngopi ngopi, kopinya pahit pula, Materi ujian yang dipelajari agak pahit, dan beritanya pahit juga. Tiba-tiba, lagi-lagi gara gar...

0 comments: