Debat Kok Kurang Konkret

1/30/2017 09:02:00 AM Sael 0 Comments


Debat cagub DKI malam Sabtu itu bikin gue geli, kenapa sih cagub-cagubnya begini amat astaganaga... Emang sih nggak nonton sebagian, tapi gue gak melewatkan bagian terparah saat Bu Sylvi super-greget-ala-emak-emak. Ini DKI pakbos, bukan provinsi antah berantah. Bahkan gue ngerasa debat 2012 masih ada sedikit berkelas karena ada Kumis yang tahu semuanya soal 5 tahun lalu, sayang sombong ditambah si Nara rasis.


Bahkan gue yang beberapa hari lalu juga nonton debat cagub Banten di Youtube merasa kok anak koruptor aja bisa bagus ya proker-prokernya? Entahlah mungkin ketolong sama cagubnya. Lagi-lagi di Banten yang bikin kontroversi ya paslon nomor 1 gara-gara Atut. Kalau paslon nomor 2 gara-gara Rano selama 3 tahun ke belakang dianggap gabut, padahal kerjaannya banyak juga buat Banten seperti renovasi jalan provinsi setelah berpuluh tahun hancur, juga pembenahan administrasi yang ancur di jaman Atut.

Beberapa orang menjawab gue, namanya juga baru. 

Gue juga merasakan sih menjadi Agus Yudhoyono di lingkungan kampus. Gue nggak tahu apa-apa eh disuruh menjelaskan masalah yang terjadi di lingkungan kampus. Gue calon yang datang dari hmmm, kasarnya warga sipil, bukan veteran petinggi lembaga mahasiswa.... I know what he feels, karena memahami Jakarta juga nggak mudah. Masalahnya, ini para cagub pesaing Ahok kenapa nggak pada belajar ya? Beda dengan gue yang selalu berusaha bersaing dan meningkatkan pengetahuan meskipun sulit banget dalam waktu sedikit dari deklarasi resmi (barengan dengan aksi 411), sehingga cuma kalah vote jatuhnya karena kurang ngiklan kali....

But at least, learn from your mistakes. Note your mistakes, your blunders, read it, and never repeat it.

Tapi, apakah bener kata-kata gue yang sering keluar di Seword dan beberapa web, bahwa kalau orang udah umur tinggi memang sulit mengubah sikap dan tabiatnya ketimbang yang berumur masih rendah? Tingkat pembelajaran orang semakin rendah katanya sih semakin tinggi umur, seiring dengan kemampuan fisik otak juga seharusnya. Ya makanya itu banyak yang bilang masa muda jangan disiakan.


Sehingga benar kalau gue menyuruh Ahok untuk mengurangi blak-blakannya, Agus untuk belajar dalam waktu cepat secepat seorang mahasiswa bisa melalap buku, dan Anies bisa mengurangi motivator ala Mario Teduh dia, ya susah. Beberapa kawan yang berumur 40-50an aja mengeluh udah sulit untuk mempelajari hal baru seperti mainan gadget atau tahu jalan baru. Hal kecil aja sulit, apalagi mengubah sifat, pengecualian kalau ada hal yang bikin trauma semacam sadisme, dll. Kalau tabiat seseorang, apalagi yang sudah dipupuk dari kecil, wah susah. 

Ya, itulah hasilnya kalau debat itu kurang persiapan. Waktunya kok nggak digunakan dengan baik? Seharusnya bisa membagi waktu, eh kalau untuk petinggi macam 3A seharusnya bisa mengurangi kesibukan dong. Selain menjadi demisioner di pemerintahan, hal yang penting adalah kurangilah waktu cengkrama atau apalah itu yang tidak terlalu esensial pak, bu. Biar bisa belajar debat untuk jadi konkret, menguasai visi misi, jangan cuma bisanya menyerang calon nomor anu secara personal, bedakan dengan mengkritik bro karena kritik memiliki dasar fakta.

Nah, mungkin Agus bisa mengurangi cengkrama sama Pepo dan kroni-kroninya, eh eh eh.... jadi biar bisa belajar. Jangan cuma bisa belajar dari Pepo, soalnya nanti ente diajarin cuma bisa menang doang Gus, karena dipikirnya Pepo segala sesuatu bisa dikelarkan dengan prihatin... Sylvi juga dikurangi itu gaulnya, takutnya sih dari gaul itu ibu bisa tergoda buat melakukan hal sadis, maaf, korupsi masjid.

Pak Anies juga dikurangi lah bergaul dengan orang-orang begitu apalagi yang katanya memecah belah bangsa dari dalam. Hati-hati juga Pak Sandi, jangan sibuk mainan bisnis melulu dong. Pak Sandi, ditunggu juga kontribusi bisnis Bapak bagi kita apaan, jangan cuma dagang mobil yang kemungkinan akan bikin mangkrak begitu aja.

Pak Ahok dan Pak Djarot juga, meskipun udah kayak makan data, ya jangan merasa di atas angin. Makan data? Maksudya sangat menguasai data begitu lho.... Tetap belajar terus, jangan hanya belajar, tapi paling penting jangan lengah, karena sedikit saja mereka lengah, ya habislah dimakan lawan-lawannya. Paling penting juga pencerdasan dan menjawab beberapa tanya para pendukung yang belum kejawab kemarin karena time limit.

Ingat, umur bukan halangan untuk belajar, tapi kadang halangan untuk laju belajar. Kalau halangan niat belajar mah bukan dari umur. Jadi, gue harap ketiga pasangan calon ini bisa saling berdebat dan saling kritik satu sama lain, bedakan dengan menyerang.

Bosen ah, begitulah, buat tukang copas, gaya tulisan gak bisa bohong.

Debat cagub DKI malam Sabtu itu bikin gue geli, kenapa sih cagub-cagubnya begini amat astaganaga... Emang sih nggak nonton sebagian, tap...

0 comments: