Negara Kok Jadi Begini?

1/21/2017 07:33:00 AM Sael 5 Comments


Hari kemarin, ketika gue salah lihat tanggal debat Ahok, bersamaan juga ada topik yang bikin analisis lucu-lucu bertebaran di seluruh internet. Siapa lagi kalau bukan twit bapak itu. Gue gak bahas-bahas di Seword karena terlalu banyak om! Ya intinya gue mau membahas, benar juga kata Pepo Esbeye bahwa, kok negara jadi begini? Semua sejak negara Ahok menyerang.

Ya udah, gak usah dibahas itu doa online karena pasti banyak di antara yang komen begitu yang kenyataanya masih doa online. Melenceng dari substansi om. Gue mau bahas kenapa negara jadi begini begitu kondisinya. Oh iya, yang penasaran dengan twit Pak SBY yang bikin gempar, ini dia.
Oke kalau kalimat negara yang banyak hoax sebagai kalimat berita. Tenang aja, kita juga sering curhat tentang kok negara jadi banyak hoax. Meski sebenarnya hoax dalam dunia politik udah dari jaman mbah buyut kita. Nah, yang diributin orang-orang adalah siapa yang mengucapkannya dan korelasinya ke kejadian yang dialami sama SBY. Bukan twitnya.

Ya udah, udah males bahas SBY karena gue juga tahu ini posisinya kayaknya lagi baper, lalu curhat-curhat seperti kita rakyat jelata. SBY baik sekarang ataupun pas masih berkuasa juga nggak bisa membendung fitnah, hoax dan kabar buruk, kecuali ke dirinya ya yang pasti pake konpers-konpres dan saya prihatin. Anehnya ini bapak, udah banyak yang antipati, malah nambah lagi itu yang antipati gara-gara terkesan banyak cari panggung.

Karena males bahas bapak, gue bahas aja, kok negara jadi begini? Fitnah dan hoax merajalela?

Gagap Teknologi



Yang namanya gaptek itu lebih dari orang gak bisa pake hape canggih. Berkembangnya teknologi informasi bikin orang gagap, dari yang di tahun 2010-2013 internet kayaknya cuma dinikmati sekian persen orang, bahkan gue pernah baca laporan tahun 2010 aja baru 15% penduduk, mendadak bisa dinikmati di mana-mana. Rezim sekarang benar-benar sejalan dengan kemajuan teknologi. Majunya juga kagetan, tiba-tiba yang pake hape Nokiaan bisa pegang Android serial terbaru. Padahal gue masih inget, dulu zaman BB merajalela, yang pake Android masih dianggap waah....

Oleh karena itu, banyak banget orang yang masih masa adaptasi dalam penggunaan gadget, termasuk dalam kekritisan menyebar informasi. Kalau pengguna gadget angkatan 2010an awal mungkin masa adaptasinya masih sebar-sebar hoax BBM yang makanan bahaya lah, sebar aplikasi bohongan, bahkan ada yang berbau SARA tapi gak parah amat. Gue bahkan pernah kejebak sama broadcast tipu-tipu gini. Soalnya politik nggak terlalu rame pada saat itu.

Angkatan yang baru mengenal pergadgetan dan dunia maya sekarang, apalagi yang kenalnya 2014-an, aduh, kasihan banget harus adaptasinya dengan hoax politik dan agama. Pada saat itu hoax yang cuma ngerjain orang semacam aplikasi gratis dan link tipu-tipu udah mereda... Mereka sekali kena tipunya langsung jebret, yang bikin negara berpeluang gonjang ganjing secara langsung, contoh hoax tenaga kerja negeri bintang lima. Lagi gencer juga orang yang ingin mengacaukan negara dengan hoax jadul.

Akhirnya jadi begini, banyak yang asal share tanpa lihat konten. Masalahnya, dia gak sadar kontennya bisa bikin kebencian dan ribut di negara ini, bahkan sampai kejadian tuh di Tanjung Balai.

Gagap Politik

Rumah Jokowi di Solo

Banyak yang seperti kata Ahok, dibodohi pakai titik-titik. Semua itu gara-gara orang itu masih terlalu gagap politik. Banyak yang nggak ngikutin kabar politik terkini, bahkan untuk hal yang simpel semacam lawakan Fitsa Hats. Kenapa?

Selama sekian tahun kemarin, politik kita membosankan. Pilpres 2009 juga nggak sepanas 2014, karena tahu, ah Simbok lagi, ah Opa lagi, ah Cikeas lagi. Gue juga males kali mantenginnya. Paling-paling yang lawak adalah penangkapan korupsi, semacam yang korupsi sapi, korupsi Alquran, korupsi Alkes, Nazaruddin, reshuffle disamakan dengan lagunya LMFAO. Ya begitulah.

Tahu-tahu, muncullah Pak Jokowi. Terima kasih fenomena Esemka yang mengangkat bapak ini ke permukaan. Masih ingat itu beritanya barengan sama tabrakan Tugu Tani dan Afriyani Susanti. Bapak ini naik jadi gubernur, lalu nggak ada yang nyangka bisa jadi presiden sekarang. Pakde ini udah muda, semangatnya tinggi, tahu apa yang harus dilakukan untuk negara. Ya, meski ada beberapa kekurangan juga....

Nah, banyak yang kejet-kejet lalu membuat politik panas. Rakyat nggak biasa dibuat kepanasan dan kebakaran di politik. Kebiasaan beberapa tahun adem ayem melenakan banyak orang bahwa politik dari dulu, sekarang, sampai kiamat juga bakalan panas terus. Banyak yang gak update politik dan gak update berita tiba-tiba dapat berita politik bikin kebakaran. Ya bagaikan orang pantai disuruh tinggal sebulan di Dieng yang super dingin. Tidak tahu apa-apa, gampang dikerjain, ya gitu deh hasilnya.

Bahkan mereka tidak tahu (dan kadang gak mau tahu) dampak dari hoax itu secara politik dan ke hidup mereka.

Gagap Pengetahuan/Akademis


Bagi golongan akademisi dan cendekia pasti udah terbiasa disuruh cek data, bahkan bisa berkali-kali dan itu meletihkan kalau datanya banyak. Sudah jadi budaya, check before you say. Nah, masalahnya banyak yang asal jeplak, asal share, dan asal aja. Bahkan golongan akademisi aje kalo males sama aja om...

But I wonder how, di tengah masyarakat yang gak pernah diajarin mengkritisi suatu informasi dan mereka yang (akses terhadap) pengetahuannya terbatas, bagaimana begitu mudahnya mereka dikibulin sama titik-titik. Kasihan. Ketidaktahuan mereka dimanfaatin, salah satunya kemarin masalah seng-aseng dan politik uang. Bukannya ngajarin pengelolaan keuangan yang benar (nggak perlu seahli Safir Senduk yang mengisi rubrik majalah ono), ini malah ngajarin korupsi dan bermalas-malasan leha-leha.

Mereka ini perlu banget dicerdaskan, sayangnya ada aja halangan dalam pencerdasan. Yang urgent banget itu masalah bagi-bagi duit ala kepala daerah yang bukannya bikin kaya malah bikin miskin negara (mau membangun pake apa coy kalo duitnya dibagi-bagi? Dimangkrakin kayak yang itu?) Gue gak bahas itu sih, tapi menyinggung, ada aja yang bikin mereka itu udah tidak tahu, tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Ini gue bahas di artikel Seword sebagai fenomena Dunning-Kruger https://seword.com/sosbud/dunning-kruger-effect-ilmu-padi-dan-sumbu-pendek/ 

Mau dinasihatin kok malah melawan, menuduh, dituding partisan, main lapor seakan-akan hansip (ah gue jadi inget itu "jenderal hansip"). Piye? Semoga yang gini-gini (nggak menerima kenyataan) gak menghalangi kita buat mencerdaskan orang seputar fakta...

Ketakutan



Nah, banyak orang masih ada ketakutan terhadap yang onoh dan yang anah. Ketakutan ini dibesarkan selama berpuluh tahun, oleh siapa lagi yang punya kepentingan terhadap bangsa. Ketakutan yang nyata adalah terhadap alat tukang dan baju putih. Belum ketakutan terhadap begal, hantu kolong wewe, alayers lampu merah, dan pastinya pengamen bencong, HAHAHAHA.

Karena ada yang takut gini, ini mempercepat rantai penyebaran hoax dan segala-segala itu. Bener-bener ya. Jaman hoax BBM merajalela dulu, broadcast apapun yang bawa-bawa nama agama cepat banget nyebarnya. Yang bawa-bawa ketakutan semacam teror juga cepet. Ah! Gak usah jauh-jauh, gara-gara orang pada parno dan takut, penyebar broadcast hoax pada saat bom Sarinah laris manis itu. Dibilang Palmerah ada bom lah, apalah, padahal udah dikonfirmasi PT KCJ nggak ada teror apapun di stasiun mereka. Haduuuuhhhh.....

Mulai sekarang, takut boleh, tapi ditahan ya tolong menyebarkan ketakutannya ke orang lain. Ketakutannya cukup berhenti di kamu, lampiaskan ke rumput yang kehujanan.

Kurang Kerjaan


Orang yang kurang kerjaan biasanya kalau buka medsos ya begitulah kura-kura. Main sebar, iseng-iseng sebar, ya udah deh. Saking kurang kerjaannya, tidak tahu bahwa kerjaan itu membahayakan orang lain, semacam mainan mercon dan tentunya playing with hoax. Orang yang literally kurang kerjaan dan kurang gaul, gaulnya dengan itu lagi itu lagi dan konservatif ya pemikirannya kebawa konservatif. Nah... tugas pemerintah lah memberikan orang kerjaan, supaya mereka lebih cerdas dan nggak bikin gara-gara, juga gak beratin negara malah menguntungkan negara.

Kepentingan Politik



Lagi-lagi soal gagap politik dan poin gagap politik disinggung lagi... Banyak yang punya kepentingan politik memanfaatkan rakyat yang tak tahu apa-apa lalu dibohongi pakai titik-titik. Tidak sadar kalau di belakang bahkan belakang lagi ada kepentingan yang lebih besar. Apalagi kalau bukan menguasai dunia demi kepentingan sendiri? The movie is real bro... Bukan cuma di filem ada orang jahat mau menguasai dunia...

Masalahnya, rakyatnya gak tahu apa-apa, banyak yang ditutupin - Jokowi juga kita tidak tahu apakah ada yang benar dark side dan kelemahannya - dan, begitulah. Rakyat dikerjain demi orang bisa berkuasa, terutama kasus raja kecil di daerah-daerah. Dikerjain bukan cuma pake kitab suci, tapi janji manis kekayaan instan (udah kayak Dimas Kanjeng) dan ketakutan yang salah. Nah, ini kan udah gue bahas di artikel soal pemecahbelahan bangsa dari dalam.... http://www.misael.id/2016/12/mereka-ingin-memecah-belah-bangsa-dari.html

Ya, begitulah sebagian kecil dari masalah kompleks yang sampai bikin pak mantan bilang kok negara jadi begini.... Negara jadi udah kayak mau pecah. Soalnya emang ada yang mau pecah belah dengan ngibulin pake titik-titik. Kita di sini jadi kubu damai aja bro, sebarkan kebaikan, jangan sebarkan ketakutan dan hoax, selalu kritisi segala informasi! Ingat juga...

What goes around, comes around. What you say someday returns to you.

Hari kemarin, ketika gue salah lihat tanggal debat Ahok, bersamaan juga ada topik yang bikin analisis lucu-lucu bertebaran di seluruh in...

5 comments:

  1. Replies
    1. Wah emak-emak Seword akhirnya datang melipir hahaha, ini dipublish di pribadi karena beda bahasa sy di seword sama di sini :)

      Delete
  2. Mantap, pas banget nih, point2 nya itu,.. - Gagap Teknokogi, Lagi masa adaptasi ... - Gagap Politik, kejet-kejet: akibat masa lalu disuapin terus, bahkan masa sebelumnya lagi diteken terus ... - Gagap Pengetahuan, sistem didik,di selolah/kelas cuma satu arah, dari guru aja, murid gak bisa kritis ... - Ketakutan, dijadilan budaya, bahkan ortu paling suka nakutin anak ... - Kurang kerjaan, Buka medsos, sebar, seneng banget kalau dapet (banyak)'like' ... - Kepentingan politik, .. Nah ini jadinya 'hiddeh provocator' ... Kayaknya pakdhe (dan kita) musti banyak bebenah bung Sael, tetap suarakan ide2 ...

    ReplyDelete
  3. Ya bagaikan orang pantai disuruh tinggal sebulan di Dieng yang super dingin. Tidak tahu apa-apa, gampang dikerjain, ya gitu deh hasilnya. nyata banget

    ReplyDelete