Satu Indonesiaku, Lagu Wajib Dengar di 2017

1/18/2017 10:07:00 AM Sael 0 Comments


Sekarang Indonesia sedang dalam gonjang-ganjing. Beberapa sadar beberapa tidak sadar. Pemerintah menjadi jauh lebih responsif dengan kabar bohong/hoax. Kondisi di media sosial tidak lagi adem ayem, kecuali situ cari distraksi ke dunia hiburan. Percakapan sehari-hari pelan-pelan mulai memanas, terutama yang di Jabodetabek yang merasakan efek langsung Pilkada yang itu...


Ada golongan yang kejet-kejet diadukan ke polisi. Ada yang terlalu responsif terhadap suatu kasus. Ada yang pakai standar janda, eh ganda. Ada yang postingan selalu bawa-bawa agama, masalahnya sampai menjelekkan agama lain. Ada yang mendadak jadi pakar politik, namun pakar menghina orang bukan mengevaluasi orang. Ada yang mengevaluasi lalu ditanggapi dengan baper. Ada yang main-main dengan peradilan. Ada yang sedang membuka borok Indonesia selama ratusan tahun. Ada yang ingin mengkritik dengan fakta dan attitude yang benar, tapi gayanya aduh terlalu menyakitkan bagi yang dikritik. Begitulah kura-kura gambaran beberapa bulan ini.

Yang jelas, berasa gak sih baca berita selalu bikin bulu kuduk merinding? Sekalipun ada beberapa berita politik berasa baca standup comedy, kita selalu ada rasa tegang, apa kira-kira yang akan terjadi besok? Kadang-kadang ada berita samber gledek lagi semacam OTT KPK, bahkan Ahok dipengadilankan juga merupakan berita kagetan di akhir tahun lalu.

Di saat itu, sejumlah tokoh bertemu untuk mempersatukan Indonesia melalui suatu hal yang universal. Ternyata, ada juga ya obatnya untuk meredam segala gonjang-ganjing. Ya, MUSIK!

Dengarkan lagu ini, Satu Indonesiaku! Perpaduan dari lagu Rayuan Pulau Kelapa - Ismail Marzuki, Kolam Susu - Koes Plus, Pemuda - Chaseiro, dan Zamrud Khatulistiwa - Chrisye. Aransemennya sih nggak usah diragukan lagi, memang mantap dan membuat hening. Tapi coba lihat credits dari lagu ini di menit ke-5.

Sungguh ini merupakan proyek negara yang digarap serius. RRI bahkan menjadikan lagu ini sebagai semacam tanda waktu. Gue berharap mumpung pemerintah sedang ada kampanye antihoax dan antiperpecahan, ini bisa digencarkan di radio, televisi, dan bioskop. Udah lama Indonesia nggak ada lagu model begini, melibatkan artis sebanyak gini setelah Indonesian Voices dan Marilah Kemari. We've been waiting for almost 12 years dude! (cmiiw)


Setidaknya, lagu-lagu begini bikin adem, bikin nangis, hening, lalu semua bergerak bahwa bangsa ini masih bisa bersatu. Kita bangsa yang kuat, hanya sedang terpisah satu sama lain aja baik dalam waktu ataupun pendapat. Apalagi ini lagu wajib nasional dan calon lagu wajib nasional. Semakin bergelora rasanya rasa kebhinekaan dalam kita.

Indonesia masih bisa aman bro. Indonesia masih kuat bro. Kita masih bisa menghantam pemecah belah bangsa dengan persatuan, bukan dengan marah-marah. Marah dan debat kusir hanya memperkeruh keadaan. Begitu juga tindakan represif pemerintah, sehingga cukup menjawab kenapa pemerintah cenderung "selow" dalam urusan penindakan pemecah belah bangsa. 

Padahal udah level boncabe 30, eh level kronis itu penghinaan. Ada penghinaan profesi hansip (cukup ketahuan dari intonasi dan kalimat di sekitar pernyataan itu), ada yang menghina duit Indonesia ada alat bertani dan bertukang (dude, sadar gak sih isu alat-alat tani itu sangat sensitif, atau emang sengaja ya biar bangsa kita bisa kebagi dua lebih cepet?), ada yang mencoret bendera Indonesia (tujuannya BEDA COY sama alay yang pernah ketahuan di Kepri dan sejumlah kasus penggunaan bendera yang salah), ada yang main tuduh main serang, ada yang ribut di media sosial, dan... hmmm.

Drama seperti ini kalau dibiarkan pemerintah akan semakin membuat golongan apolitis tambah apolitis, karena tahu drama-drama begini makin bingung mana salah mana benar. Kayak lagunya Dewi-Dewi, eh Mahadewi deng. Nggak tahu mana yang bener, pusing kok timeline dari yang isinya haha-hihi, cermis, mengapa selalu debat politik dan terasa bikin marah terus, aura negatif terus. Padahal politik sangat penting karena ya tanpa politik negara bubar woy. Mau negara atau provinsi atau kota dikuasai golongan maruk harta dan merugikan secara konkret, semacam jalan rusak gak ditanggapi, bikin KTP susah?

Ini begitu salah, tapi ini juga, begitu benar untuk, aku yang dilanda cintamu yang terus membakar aku, cintamu yang akhirnya membunuhku
Kasihan gue. Sedih. Sementara di sisi sini pemerintah semakin diganyang dengan hal-hal yang tidak bermutu dan serangan bertubi-tubi, di sisi lain banyak pertemanan putus dan hubungan memanas hanya karena pilihan tak sejalan. Astaga, pertanda apakah ini?



Akhirnya lagu ini rilis. Baguslah dapat mempersatukan berbagai golongan di bumi ini. Lagu ini juga universal secara musik, dari pedangdut idola, artis idola anak muda, rocker, penyanyi religi, semua bersatu padu. 30 orang terpilih yang siap mengabdi bagi negeri. 30 orang dari berbagai kalangan, berbagai generasi, dari seluruh penjuru negeri ada perwakilan. Sungguh mengharukan. Memang masih ada kurang beberapa orang, tapi tidak mengurangi esensi video ini. Apalagi kalau sampai membuat proyek sebesar Indonesian Voices akan jauh lebih hebat lagi.


Ini gambaran kepada dunia bahwa Indonesia itu masih ada, masih kuat, masih bisa berdiri dengan keberagamannya. Kita menerima keragaman kita dengan merasa kita satu payung. Kita satu negara seharusnya satu tujuan. Satu payung juga sebagai sesama orang yang ingin memajukan tanah Indonesia dan sama-sama tinggal di Indonesia.

Harapan dari pembentukan lagu ini sesuai dengan gerakan pemerintah belakangan yaitu mulai kembali memupuk persatuan kesatuan bangsa seperti di zaman sebelumnya. Pada zaman sebelah, kebangsaan luntur paling parah. Edukasi kebangsaan ke generasi sekarang juga sangat kurang, lebih menyedihkan dari rezim yang menggunakan Pancasila sebagai alat politik (salah kaprah Pancasila) dan terkenal dengan P4 itu. Hanya ini obat untuk disintegrasi bangsa dan usaha pemecahbelahan bangsa dari dalam.

Apalagi, kebanyakan orang punya ketakutan sama. Indonesia bubar jalan atau diambil alih orang asing dengan bantuan para inlander, yaitu yang TEGA menyerahkan bangsanya ke tangan bangsa lain atau tega menghina bangsanya sendiri. Mengkritik beda dengan menghina. Kritik ditujukan supaya dapat dilakukan evaluasi ke arah positif, sementara menghina itu sama aja mencoba menjatuhkan dengan cara kasar, bahkan gak pakai solusi, gitu tong!

Lagu ini makanya bisa mengetuk kebangsaan kita, selain om telolet om yang ternyata cuma bentar mempersatukan, eh plesetannya malah dipakai lagi buat saling ejek antarpendukung politik. Damn. Banyak sekali alasan kenapa lagu ini wajib banget didengar! Supaya damai hati, ingat diri kita masih di Indonesia, terlepas politik atau apalah.

It is good karena lagu ini udah dijadikan closing dari sejumlah stasiun radio. Gue mengetik ini sambil mendengar lagu ini diputar di radio kesayangan gue menjelang off air. Akhirnya, setelah lama dinanti, lagu wajib nasional tidak lagi identik dengan paduan suara di zaman TVRI - memang beberapa audionya dari RRI-TVRI dulu. Ingat, hanya Indonesia Raya yang DILARANG KERAS diaransemen dalam bentuk selain diatur negara, sehingga lagu wajib nasional dapat dibawakan dengan berbagai gaya. Ini semakin memudahkan penyebaran lagu sehingga harusnya se-fenomenal lagu Sakitnya Di Sini atau Lumpuhkan Ingatanku.

Ke depannya, pemerintah perlu menggenjot lagu ini lebih keras lagi. Mungkin sekeras kampanye antihoax yang sangat gencar di radio, reklame, iklan, situs web, bahkan chat-to-chat di media sosial. Tentunya supaya lagunya makin hits. Masa sih rela lagu hits Indonesia abal-abal semacam sontrek Anak Jalanan bisa lebih populer dari lagu yang mempersatukan bangsa dan terdapat lagu wajib nasional di dalamnya? Apalagi jelas biaya yang dikeluarkan untuk menggarap dan memasarkan lagu ini tidak sedikit. Kalau akhirnya lagu ini tidak bisa menjadi terkenal hingga sampai semacam lagunya Sakitnya Di Sini, pemerintah bisa ditertawakan sama yang ingin memecah belah bangsa, dan tentunya golongan antipemerintah.

Bisa dengan membuat radio swasta di sini memutar lagu sejam sekali seperti sudah dilakukan RRI, begitu juga televisi, dilakukan dengan memesan jeda iklan atau akhir acara di SETIAP STASIUN TV. Kalau perlu, KPI bisa buat aturan untuk mewajibkan penyiaran lagu ini di momen tertentu, setidaknya selama musim-musim politik lagi panas begini. Kalau bisa jangan sejam sekali juga untuk mencegah pendengar yang continual (terus menerus mendengarkan radio selama 3 jam contohnya) bosan... Boleh juga pemutaran sejam sekali, tapi diseimbangkan dengan lagu wajib nasional lain. Jangan seperti sekarang, lagu wajib nasional dan Indonesia Raya cuma ditaro di awal dan akhir di mana banyak orang udah berhenti melihat TV dan dengar radio, pantes aja generasi sekarang agak kurang Wawasan Nusantara-nya...

Supaya kalau dengar: Tanah airku, In-do-ne-sia. Semua hening, terketuk. Semua hati mendadak adem lalu terharu. Teringat.

BANGSA KITA BUKAN BANGSA LEYEH-LEYEH, BUKAN BANGSA ALAY, BUKAN BANGSA MURAHAN. INI BANGSA YANG KUAT, DENGAN MUDAH AKAN MARAH KALAU TANAH AIRNYA DIINJAK. KITA SUSAH-SUSAH MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN, EH KOK ADA YANG ENAK AJA MENGINJAK SEAKAN-AKAN... AH SUDAHLAH.

Sekarang Indonesia sedang dalam gonjang-ganjing. Beberapa sadar beberapa tidak sadar. Pemerintah menjadi jauh lebih responsif dengan ka...

0 comments: