Seruan Aksi 121, Penghinaan Terhadap PT Kereta Api Indonesia!

1/11/2017 05:59:00 AM Sael 0 Comments



Tulisan gue ini sengaja gak dimuat di Seword gara-gara emang mau pakai gaya bahasa sendiri. Raw, no censor, no "manipulation", no formalization, membuktikan gue juga menulis bisa kok ala kadarnya seperti sedang berbicara (santai atau...) dengan pendengarnya. 

Tulisan ini awalnya cuma mau nyindir sumbu pendek, tapi ya supaya tambah hot, kebetulan gue menemukan dari tulisan Om Denny Siregar di sini http://www.dennysiregar.com/2017/01/mahasiswa-cabe-cabean.html . Aksi 12 Januari, dinomorin lagi 121. Apalagi ini aksinya dimotori mahasiswa, sementara gue juga mahasiswa tapi ngeblog yang tidak macam-macam, politik ini hanya mengungkapkan kegelisahan hati. Tiba-tiba gue menatap nanar pada nomor aksinya. AH, GUE TAHU INI NOMOR TELEPON APA!!!



PERHATIKAN POJOK KANAN DEKAT PAK MARINIR!!!

Entah itu pemilik aksi dan penomor aksi tahu atau tidak fakta itu. Yang pasti, gue sebagai railfan juga merasa kesal, mengapa nomor telepon KAI-KCJ bisa digunakan untuk hal tidak bertanggung jawab? Ya kalau mereka tidak tahu, mereka gue ingatkan. Angka ini sudah sangat melekat di masyarakat terutama di perkotaan. Nomor telepon kereta api sudah termasuk salah satu nomor telepon paling diingat di Indonesia selain 110 (Pakpol), 112 (darurat nasional), 147 (Telkom), 123 (PLN), 118 (Ambulan), 161 (Pakpos), 14045, 14022, 500505, 140xy. Kalau angkatan tua dikit ingat 108, gue dulu waktu kecil pernah iseng nanya nomor telepon sodara lewat 108, juga dulu di Telkomsel 888 buat isi pulsa, LOL.

Ya, kurang lebih mengingatkan bahwa kombinasi angka yang bisa diingat manusia (2-4 digit) banyak makna pentingnya. Makanya aksi 212 bisa diejek aksi Wiro Sableng. Bahkan kaum onoh juga mengakuinya dalam semangat spirit 212 - nya. Boleh punya spirit aksi itu, tapi ya spirit apa dulu... kalau spirit bela negara oke, kalau bela yang anu, bermasalah dengan Pancasila, ya... hmmm...

Kan kalau aksi 121 ini dikait-kaitkan orang dengan kereta api - pasti ada dalam waktu dekat, pasti railfan banyak yang ngamuk, kok aksi-aksi tidak jelas seperti ini (tidak mungkin hanya menyerukan persatuan umat) mencemarkan nomor yang sudah identik dengan suatu perusahaan atau brand? Bahaya kalau nanti brand mereka kena marah orang, kena ledek. Apalagi kalau nanti pakai bikin klarifikasi macam Sari Roti.

Kasihan kalau branding PT KA bisa hancur dalam sekejap. Meskipun kereta api adalah kebutuhan pokok, yang di kota munafik kalau tidak butuh atau setidaknya berharap ada kereta api, ya... tapi... ada yang bodo amat lah ya. Oh iya aja ya kan.

Bagusnya sih, kalau nanti ada yang mengkafir-kafirkan PT KAI, jangan larangan naik kereta api aja yang diwujudkan (munafik sebenarnya kalau tidak butuh jasa kereta api di beberapa kota besar, kaum onoh aja sempat membanggakan pasukannya ada di CL pada hari demo 212). Keluarkan fatwa juga dong haram tinggal di bantaran rel kereta api, yang gak punya gusur-gusurin tuh kasih tempat tinggal di tanah kosong baru, kan masih banyak di Bodetabek. Kan pemerintah jadinya enak membebaskan tanah KAI yang sembarangan aja diserobot... Tapi pasti ngelesnya ada ajalah macam mengapa kaum onoh nggak mau meninggalkan FB, malu tuh bilang saya nafkahnya datang dari Facebook pak!

Ternyata artikel begini sudah siap tayang ya? Tinggal tambahin dikit.

Ya, pokoknya gue berpesan kepada yang mau melakukan aksi 121, ingatlah ada brand besar yang tergantung pada angka itu. Gue takut banget aksi ini jadi macem-macem, terlepas dari kebanyakan mahasiswa sekarang itu memang kurang kritis terhadap isu terkini dan memang malas turun ke jalan. Ingat jangan macam-macam pada saat aksi ini. Kalau perlu, jangan pakai provokator lah, suruh Jokowi maju mundur cantik bagaikan Syahrini, ngapain? Jadikan 121 ajang bicara saja, jangan ajang minta kekacauan gitu. Kalau kacau siapa yang senang? Pemodal. Kita gigit jari.

Begitulah kura-kura artikel yang gak lulus Seword pasti wkwkwk. Tetap pantau tulisan gue di Seword dan di sini!

Tulisan gue ini sengaja gak dimuat di Seword gara-gara emang mau pakai gaya bahasa sendiri. Raw, no censor, no "manipulation"...

0 comments: