Seword Emang Punya Cak Alif

3/08/2017 10:20:00 AM Sael 0 Comments


Maaf selama ini menghilang karena nulis di Seword. Masalahnya tulisan gue di Seword dengan di blog ini beda gaya penulisan, jadi pada males kayanya baca Seword itu pembaca gue di kampus. Gue gak khawatir amat sih dengan Seword yang diserang sana-sini. Gue kan gak terlalu nyerang politik, bukan spesialis gue kok. Kalo ada tulisan politik jatuhnya cuma curhat.
Penasaran apa itu Seword dan apa yang terjadi dengan tempat gue bernaung itu?

26 Desember 2016, salah satu tulisan fenomenal gue naik tayang. Nah, ketika tulisan itu dikaji sama para komentator Seword (gua suka nitip lapak maklum di Seword) gue didesak buat join Seword. Ikutan nulis (bukan berarti mengakhiri misael.id ya) dan belajar nulis juga. Ternyata masuk Seword susah juga, tata bahasa dicek sama adminnya dan tentunya info harus bebas hoax kandang sapi dan tidak menyebarkan kebencian bahkan terhadap musuh.
Lalu kenapa Seword kayak gak suka dan marah terhadap mafia dan salah satu cagub? Singkatnya ini kayak gue marahin tetangga kosan yang suka berisik kalo malem-malem. Apakah gue membenci mereka? Tidak! Hanya mengingatkan bahaya laku mereka semacam DP 0% dan hate speech yang akan kena ke mereka sendiri. Kita masih mengharap insyafnya mereka dari kelakuan jahat mereka. Kalau mereka masih membela diri, yah ada parameter jelas secara agama. Sudah ditafsirkan bagaimanapun pasti salah.
Masalahnya orang-orang begini membahayakan bangsa bro. Seword ngingetin nih bahwa mereka yang katanya ada di bumi datar itu biar taubat nasuha lah ya. Sadar, kamu tuh jangan cuma dengar apa yang kamu suka aja. Jangan lakukan yang kamu suka tanpa lihat parameter.
Berkampanye itu kayak elo dikasih soal ujian coy. Seword berperan kayak asistensi lah ke para ahoker dan aniesers. Kasihtau bahwa cara ngerjain soalnya Anies salah. Ahok yang bener. Nah, asumsikan politik ini ilmu eksak semua yang memang harus begitu kejadiannya dan cara mengerjakannya. Tentu kalau gak sesuai petunjuk pengerjaan soal ya akan kena marah. Anieser ini kalau marah sama Seword sama aja kayak bilang si asdos itu ngebenerin cuma karena pro Ahok tanpa peduli benar salah, sementara studi literatur dan solutions manual emang nunjukin ini loh cara ngerjain soal yang bener. Padahal itu kuliahnya kan udah ada dari Ahok belom lahir... Juga Ahok gak kenal asdosnya.
Masalahnya, asistensi yang dilakukan Seword itu membuka kedok kelompok sebelah yang sok bisa padahal otak kopong. Sok jadi dosen ke mahasiswa lain, padahal ajarannya salah. Eh gue kok jadi inget sindiran Mak Sylvi ya?
Apa yang terjadi? Kelompok sebelah teriak-teriak dosennya pro Ahok sehingga pelit nilai ke Aniesers. Mereka pengen jegal Ahok biar nilai mereka at least imbang lah (sama-sama ancur). Masalahnya si Ahok licin kayak belut bro, mana bisa dia dipegang sama tangan-tangan jahil. Iri dan pengen kekuasaan kok segitunya ya?
Tunggu dulu. Si dosen ini tahu kubu Anieser itu raja nyontek dan ngajarin yang sesat ke orang-orang supaya nanti nilai kelompok Anieser bagus, Ahokers jelek. Kalau kebuka kedoknya sama dosen mukanya mau ditaro di WC. Ya udah, bermain dramalah dia di kelas supaya dosen lupa kesalahan Aniesers yang suka nyontek ini.
Begitulah analisis ala mahasiswa. Udah balik. Balik. Balik.
*/*
Lalu lintas Seword mendadak naik tajam, parah. Kenapa? Diberitakan sama media Heri Panuan, eh Hary Tanoesoedibjo. Gara-garanya adalah sejumlah tulisan menyerang Anies yang kurang sumber kalau tidak salah. Media panuan yang gedeg diserang terus junjungannya sama Seword mulai beringas. Seperti biasa, kepada junjungan jangan memberitakan yang buruk. Tapi selama beberapa bulan kemarin sejak Seword open for public, belum dapat momen aja media panuan.
Belum analisis Seword yang emang menyakitkan bagi kaum sebelah. Dibuka kedoknya dan langsung ketakutan. Banyak yang kena tuh, semacam si ahay dan si dp 0%, juga inner circle mereka kayak prahara, bibib, dan lain-lain. Some people that cannot receive the fact that they are wrong get mad and crazy.
Gue ngerasanya nulis di Seword belakangan sama beratnya dengan gue nulis, hmm, laprak sama presentasi. Gue harus mikirin apa yang ditulis jangan sampe bikin penilaian dosen atau asisten jadi jelek. Masalahnya kalo presentasi dampaknya gue pribadi doang, paling banter sekelompok, nah kalo tulisan Seword, seindonesia raya bro pengaruhnya. Belum orang jadi pada kuatir dengan gue kalo sampe emang tulisan gue jadi trigger tindakan "mbau rekso". Belum banyaknya tukang copas biadab yang sebenernya bikin naik awareness Seword juga.
Kayak kasus sama media panuan itu.... Okezonk dan sahabat-sahabatnya. Apa karena kepanasan nama heri panuan disebut kah? Beritain Seword mulu, sementara media lain adem ayem. Yang paling kocak ada salah satu neh.

Udah jelas Seword punya Alif kok terduga sih. Aduuh mau ngakak rasanya. Udah punya alamat jelas, facebook semua penulisnya asli dari zaman bahela kebanyakan. Apalagi dari facebook dan untuk generasi gue kayaknya Line juga masuk, konon katanya HRD mudah sekali menilai rekam jejak orang. Ownernya Alifurrahman jelas, masih bisa cawe-cawe dan bahkan ada contact person di setiap halaman Seword. Cuma namanya alamat bahaya bagi privasi seseorang kalo sampe kesebar, apalagi banyak tuti dan tute (tukang teror). Apa dikiranya ini situs punya antah berantah kali? Hahahaha. This http://m.okezone.com/read/2017/02/24/338/1627365/polisi-sudah-ketahui-pemilik-dan-lokasi-seword-com
Noh yang antah berantah model partai socmed, gerpol, laskar cikeas, dan sejenisnya. Yang terbuka ya model kita sama Kurawa masbor. We are human. Gue sendiri sih sampe setor muka di salah satu post biar ketahuan, wah ini emang beneran akun punyanya Sael yang itu. Ada yang nyeletuk "oh nama asli Sael itu Misael ya" kayanya sih (pas Kersos masih ada yang nanya dari dept lain)
Bodo amat, orang muka gue pernah diliatin satu teknik pas November lalu. Mana deketan sama salah satu wajah paling recognized di teknik. Otomatis diliat anak alay yang nangkring di gazeb juga kalo lagi gak ada kebersihan dan mahasiswa. Masa di Seword ga bisa.
Intinya, Seword bukan media anonim dan data penulisnya dipegang adminnya (bukan cuma sama Bos Alif). Penulis bahkan pemiliknya bukan kerja jadi penulis kayak wartawan. Seword cuma media semacam Kompasiana yang dimoderasi ketat dan data pribadi dipegang para admin untuk memudahkan follow up. Kita mengubah tata cara beropini jadi santun dan beretika, juga kita selalu berubah menjadi lebih baik (meski the bumi datars ga bisa melihat dengan jelas).
Kita juga antihoax. Tulisan yang diduga ada sumber abu-abu aja gak dikasih. Pake referensi wiki dan situs opini aja gaboleh, udah kayak bikin makalah akademis. Soalnya memperkecil peluang tulisan kita diragukan orang-orang.
So, kalau bakat nulis, kenapa gak gabung di Seword aja? Nonpolitik juga diterima kok dan banyak juga yang nulis nonpolitik kayak di kanal Urusan Hati, Motivasi, dan Movie. Ada blogger terkenal yang gue ajakin nulis di Seword tapi gamau karena alasan ini (padahal dia ga ikutan soal pilkadut DKI). Sayang aja gitu.
Salam kura-kura pake kaca pembesar.

Maaf selama ini menghilang karena nulis di Seword. Masalahnya tulisan gue di Seword dengan di blog ini beda gaya penulisan, jadi pada mal...

0 comments: