Memahami Seword (1)

5/19/2017 11:14:00 PM Sael 0 Comments


Pengen nulis soal Seword.com tapi gak boleh di dalam Seword, sekalipun status gue saat ini penulis di sana. Ya udah, masih ada blog pribadi.

Media yang lahir dari tangan dingin Cak Alifurrahman ini didesain awalnya untuk pelarian Cak Alif dan beberapa orang lain dari Kompasiana. Ada Mak Ifani Emak Menjawab, ada Mbak Hima Qurrotur yang ketika Seword rame malah ga pernah nulis, ada Cak Anton dan segelintir dari penulis Seword sekarang. Seword ini dulu sama kayak blog gue yang sepi tapi berharga ini. Coba cek tulisan Cak Alif di bawah November 2016.

Seiring waktu, karena fans Cak Alif di FB banyak, belum hashtag #NCI yang ngetren saat Seword mulai dirintis, banyak yang ingin coba menulis di sana. Kayaknya sesama pengguna hash NCI? Masuklah sejumlah sesepuh Seword.

Gue sendiri masuk ke dunia tulis-menulis terkait perpolitikan setelah aksi 212. Agak jauh dari hari itu sih. Sebenarnya tulisan gue yang mulai nyerempet politik itu ada di "9 tanda haters" yang covernya demo tolak angin, eh tolak Ahok. Nah, saat hari itu, Sari Roti menyeret gue tambah masuk lagi ke dunia tulis. Nggak nyangka tulisan gue panas juga yang bahas kejahatan kaum onoh boikot roti-rotian itu.

Apalagi gue menulisnya dengan dasar kemanusiaan. Yaudah, sebar ke mana-mana, salah satunya Seword, kalo ga salah gue pertama kali kenal dari link terlarang BP Kaskus. Seword ramah terhadap penitip tulisan blog pribadi, beda dengan web lain yang dianggap spam dan dihapus. Nah, gue juga menerapkan ke blog ini yang boleh titip lapak, asal bukan tukang judi tukang obat aja.

Seiring makin seringnya gue titip lapak blog ini di dalam Seword, banyak komentator menyarankan gue pindah menulis di sana. Gue jawab "ntar dulu", namanya juga masih padat jadwal. Nah, gue coba dengan mengirim tulisan blog di Seword. Eh gak boleh, harus buat tulisan baru dan fresh.
Ya udah, tulis baru, dan setelah perjuangan dan menunggu cukup panjang, gue diterima jadi penulis Seword 31 Desember 2016. Saat itu gue kalo ga salah penulis termuda yang masuk! Yang lain udah bapak-bapak ibu-ibu dan beda lah ya dengan anak muda.

Tapi gak ada artikel Seword gue tahun 16? Gue kan lagi liburan saat itu wkwkwkw. Fokusan gue juga kebagi dua, bingung nulis di mari apa di Seword. Nah, sejak Februari, awal semester, gue fokuskan ke Seword. Lebih "menjanjikan" opini gw dibaca orang. Wkwkwk

Akhirnya beberapa kali artikel gue masuk trending. Salah satunya yang membahas Marissa Haque dari sisi background check. Menulis cuma saat weekend pun menjanjikan lho di Seword. Maaf akibat semester mulai tinggi.

Tapi blog pribadi ini agak ga keurus. Ya apalagi dengan gue mulai nulis di Line yang entah kenapa lebih cepat rame, mungkin dianggap praktis karena nggak usah klik lagi?

Ya karena gue mengikuti terus perjalanan Seword. Dari situsnya sering susah dibuka karena servernya mabok melayani request pembaca, Seword kena serang peretas yang mungkin nggak suka web ini hadir menyudutkan ruang gerak mereka. Ada penulis yang setiap keluar trending sementara gue mah apaan atuh, facebookan ga pernah nulis jarang. Wkwkw

Nah, karena ini gue semakin mencintai Seword dan nyaman menulis di sini. Gue banyak konsultasi dengan beberapa penulis terkenal di sana. Mereka ramah dan sangat terbuka untuk orang yang mau memperbaiki diri. Banyak belajar juga deh. Akhirnya teman gue juga bilang, kenapa tulisan lu makin bagus el wkwkwk.

Nah, masih ada bagian duanya tentang pandangan pribadi gue ke Seword. Nah, tunggu aja ya, masih bulan ini kok.
Begitulah Seword, yang gambarnya kura-kura! (ganti tagline wkwkwk) (karena tulisannya membahas Seword jadi nggak afdol pake tagline itu)

Pengen nulis soal Seword.com tapi gak boleh di dalam Seword, sekalipun status gue saat ini penulis di sana. Ya udah, masih ada blog prib...

0 comments: