The Only Radio Blog in Jakarta

10/07/2017 07:48:00 AM Sael 0 Comments

Penelitian Nielsen tahun 2016 bilang bahwa radio menempati penetrasi (penjangkauan penduduk di 11 kota utama tempat Nielsen melakukan survei) sebanyak 38%, sementara Internet 40%! Layar kaca nggak usah ditanya, 96%. (sumber)

Radio sepenting ini, masih banyak yang dengerin, tapi nggak ada situs yang membahas khusus tentang radio di Ibukota. Dunia maya? Banyak! Situs soal televisi? Apalagi!

Padahal, salah satu artikel GNFI menyinggung bahwa kemerdekaan diketahui satu Indonesia karena adanya radio. Pas 1998, radio juga begitu memengaruhi hidup orang. Salah satu saksi hidup bahwa radio membuatnya seakan-akan mengalami peristiwa tersebut.


Jaringan radio MRA alias Sarinah Lantai 8 mendadak banyak didengarkan ketika Bom Sarinah 14 Januari 2016, karena ini satu-satunya kantor radio yang persis menghadap TKP! Pengakuan penyiar dan karyawannya, jaraknya hanya 20 meter dari TKP!


Sementara Elshinta baru RT tweet orang. Mereka baru menurunkan tim ke lokasi sekitar setengah jam sampai sejam kemudian. Udah gitu, karena ada backsound tembak-tembakan, mereka kena tegur KPI.


Kemudian, ada salah satu peristiwa pembantaian gara-gara siaran radio di Rwanda. Inilah kenapa kebanyakan radio sekarang tidak pernah terang-terangan tendensius dalam beropini macam stasiun tivi, apalagi Internet. (sumber)

Dampaknya Ngeri

Dampak radio itu luar biasa besar kawan. Tapi, pendengar radio turun gara-gara Joox, Spotify, dan segala jenisnya. Kalau soal siaran langsung, sudah kesaingin sama siaran tivi dan siaran via dunia maya yang langsung laporkan dari lokasi. Situasi juga bisa kita rasakan.

Toh, Instagram Story juga meniru salah satu sifat utama radio: personal dan langsung. Sekarang, dikit-dikit story. YouTube juga kok, dengan teknologi canggih yang membuat negara dengan koneksi internet lambat seperti sebagian besar Indonesia bisa tetap upload dengan cepat. Zaman gue baru kenal YouTube tahun 2008, streaming YouTube aja takut banget biaya Internet membengkak, pula upload setengah mati.

Lalu, dengan banyak sifat yang ada di radio sudah terambil oleh dunia maya, apa membuat radio pelan-pelan mati seperti majalah dan koran? Nggak! Malah gue lihat, dunia maya membuat radio malah semakin besar aja semakin ke sini.

Ada sifat radio yang nggak akan bisa direbut media-media saingan yang "katanya" akan menghabisi media ini: personal, langsung, kejutan, teman. Salah satu komentar di Kaskus bilang bahwa tidak dilarang mendengarkan radio sambil berkendara. Komen gue mungkin: Kecuali parkir mungkin :ngakak :ngakak :hammer .

Audience

Audience blog gue datang sebagian besar dari radio. Setiap harinya, 100-an lebih pengunjung masuk ke sini tanpa gue update apa-apa, karena gue mengurusi Teknika FTUI - nggak tanggung-tanggung, ini media berpengaruh yang melahirkan seorang Johan Budi. Ditambah dengan situs kedua gue Twisctre.com yang semoga jadi radio juga berbasis online.

Orang-orang hanya mengklik ini - cara mengakali radio FM biar sinyalnya bagus. Artikel pengalaman pribadi, tapi luar biasa pengaruhnya untuk ukuran sebuah blog pribadi. Terakhir gue cek di statistik, jumlah viewer sudah 36529. Pas blog gue lagi naik-naiknya pengunjung karena gue mencoba main di ranah politik, tambah kekatrol lagi lah karena Google menilai konten blog gue itu bagus.

Jadi, supaya blog yang gue perpanjang domain mepet-mepet ini tidak sia-sia, nggak sia-sia uang jajan gue 300 ribu kepake buat bayar situs ini, gue mencoba main ke ranah radio lebih dalam lagi. Apalagi, setelah gue sangat banyak ngetwit seputar radio FM belakangan - bahkan nyaris limit.

Isu-isu



Sangat banyak isu radio di Ibukota. Isu-isu di balik semua siaran yang kamu dengarkan. Bahkan banyak di antara isu ini yang merupakan fakta. Namun, kebanyakan sekadar beredar di kalangan teman-teman pecinta radio. Gara-gara gue, ada sekitar 5 orang yang suka bahas-bahas radio di media sosial akhirnya tertarik. Hahaha.

Kebanyakan orang Jakarta dengar radio ya hanya dengar. Banyak yang nggak tahu cerita di balik semua radio tersebut. Mencari sumber tentang radio, sumber literatur setidaknya blog pribadi, susah! Coba ketik Kis FM, apa yang teratas? Link untuk melakukan streaming! Padahal yang santer menyebar di masyarakat luas adalah hilangnya Rock Weekend, bahkan temen gue mengeluhkan hal ini!

Hitz FM yang kemarin tutup aja nggak begitu ramenya. Bayangkan, sebuah frekuensi menjadi frekuensi hantu! Setelah dari zaman Radio A beroperasi sampai sekarang, baru beberapa bulan ini, dari Juli, frekuensi 96.7 kosong total. Gue berharap sangat supaya segera diambil alih RRI menjadi Channel 5 seperti halnya di Surabaya.

Kalau Kis FM? Karena benteng pertahanan terakhir pecinta rock hancur sudah, ramainya luar biasa sampai sempat trending. Kasihan gue sama adminnya. Gue sebagai pecinta lagu slow kasihan juga nyaman mendengar Kis FM di atas sakit hati orang. 

Lalu gue mempromosikan 105.8 FM yang masih segrup. Sependengaran gue, cuma mereka satu-satunya yang memutar rock, meski minus lagu-lagu keras metal. Ya eh malah dikira humasnya. Enak aja, humas ngga mungkin asal nyablak nyebut-nyebut radio lain di TL radio orang! Btw, belakangan, Smooth FM yang sempat menjadi radio laidback berubah menjadi banyak rock, bedanya dengan 105.8 cuma ada lagu kekinian.

Asal tahu, gue ditawarin magang di Oz sebagai humas, gue tolak karena gue mau sebebas ini memuji sampai mungkin "ngebakar" radio orang! Hahahahaha....

Blog Khusus Radio

Kata bang @ridu, seorang selebtwit sekaligus pengamat radio, kurang banget blog soal gosipin radio orang. Paling terpercaya buat cari topik ginian ya Twitter.

Berangkat dari sini, gue buat blog gue jadi media pergunjingan radio.... obrolan seputar apa yang mengudara hari ini dan apa yang baru, apa yang berubah ada semua.

Ini juga gara-gara twitter gue masif mengkorelasikan twit seputar dunia radio sih ya. Karena gue tahu banyak, dan akan membagikannya ke kalian. Gratis heheheh. Sayang aja kalau akhirnya kelelep dan ilmu dan info yang gue bagi akhirnya hilang gitu aja. Dasar situs microblogging.

Sampai saat ini, mungkin cuma blog ini yang menjadikan radio sebagai fokus utama bahasannya. Apalagi yang membahas radio layaknya gue review makanan dan sebuah website :) ya, the show must go on. Kalau ada blog saingan, gue kasihtau, dan gue ajak kerja sama. Soalnya pengamat radio itu jarang di Jakarta.

Padahal pendengar radio Jakarta banyak ya, tapi mereka bahkan nggak tahu hal kecil macam Gen FM dan Jak FM itu sekantor....

Penelitian Nielsen tahun 2016 bilang bahwa radio menempati penetrasi (penjangkauan penduduk di 11 kota utama tempat Nielsen melakukan sur...

0 comments: