#RadioGueMati - Terserah Dengar Radio Apa, Jaga Frekuensi Radio Kewajiban Semua WNI

12/11/2017 08:04:00 AM Sael 0 Comments

Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yang sering dipepet sama radio-radio kampung nggak jelas, sepertinya demikian.

Kampanye #RadioGueMati adalah sebuah panggilan, baik praktisi radio, pendengar Spotify setiap hari sampai 2017 wrapped mencapai di atas 50 ribu menit, bahwa begitu pentingnya radio FM. Mematikan radio selama 5 menit saja akibatnya gawat, bukan sekedar ke kedekatan dengan penyiar, namun bisa berakibat fatal kalau yang dimatikan adalah information center.

Bukan hanya masalah nafkah orang ya. Bukan juga masalah "ah gue anak Spotify, mana peduli gue sama siaran radio." Ingatlah bahwa di tahun 1980an pasti ada segelintir orang yang nggak pernah atau jarang dengar radio karena terbuai enaknya koleksi tape dari minjem temen atau mampu beli sendiri. Silakan tanya ke kolektor tape dan piringan, yang udah bisa bikin radio sendiri ya, jangan yang koleksinya cuma satu rak kaset doang.

Dananya nggak kecil buat beli koleksi segitu banyak, dan rasanya seorang yang mendapatkan tape dari hasil nyolong juga nggak akan sampai satu dua lemari perpustakaan.

Soal berita, ya jaman dulu juga saingannya sama koran dan VHS. Kalau tahun 70 ke bawah, rakyatnya yang nggak kuat dana beli radio, sehingga nggak setiap hari bisa dengerin. Akhirnya minjem punya Pak RT atau wong tajir. Zaman now, tantangannya juga mirip ah.

Menjaga frekuensi radio dari tangan jahil udah termasuk kategori bela negara dan mempertahankan teritori NKRI bahkan. 

Frekuensi Radio Adalah SDA

Frekuensi radio bukan fenomena buatan manusia. Ingat itu, itu karunia dari Tuhan! Hanya memang cara mendapatkan frekuensi radio seperti emas, tidak melalui cara-cara mekanis alamiah, layaknya kita memetik bunga di kebun atau panen padi. 

Frekuensi radio nggak akan pernah hilang selama ilmu untuk mendapatkannya masih dikuasai orang. Selama fisika gelombang elektromagnetik dan beberapa kuliah yang jadi spesialis Teknik Elektro itu masih diajarin, ya akan tetap ada terus.

Radio Mirip Jual Beli Tanah

Konsep frekuensi radio ini hampir sama dengan jual beli tanah bangunan. Dalam jual beli tanah kan dikenal yang namanya tukang serobot tanah orang, penghuni liar, dan pengguna berizin. Dikenal juga satu tanah yang punya atas nama dua orang, itu namanya sengketa.

Ketika frekuensi radio ditinggalkan sebuah radio FM, katakan radio RRI pindah frekuensi lalu frekuensi tersebut jadi kosong. Frekuensinya akan tetap ada bukan? Nah, tiba 3 orang yang akhirnya menggunakan frekuensi tersebut secara berurutan.

Pengguna satu kayak orang yang suka main bikin bedeng di pinggir kali Ibukota. Frekuensi bekas RRI itu diserobot dan udah nggak izin dulu ke Postel dan KPI, langsung disikat digunakan begitu aja. Permasalahan lain adalah kualitas pemancarnya jelek sehingga radio lain, bahkan gawatnya penerbangan kalau di frekuensi 107.7-108, akan terganggu.

Pengguna dua sudah izin nih, sudah dikasih izin juga sama Postel, KPI, dan PRSSNI (persatuan radio swasta). Radio ini tapi akhirnya penggunaan menyeleweng. Suka dibiarkan dead air atau nggak ada yang siaran, sekalinya siaran dipakai buat yang nggak-nggak kayak mengajak permusuhan umat beragama, menghina suporter bola tetangga sampai bisa bikin tawuran, dll. 

Pengguna tiga izinnya lengkap, alim - dengan tidak menggunakan radio sembarangan seenak jidat. Hanya kekurangannya ya dalam penanganan konten yang "itu-itu aja", "khas radio zaman now", "bosenin". Lalu dimarahi pendengarnya di masa depan, akhirnya rebranding jadi fokus ke satu pasar.

Kamu pilih RRI mengalihkan penggunaan radio ke orang yang mana? Gue mah orang ketiga. Macam lagu HiVi hahaha.

Jaga Frekuensi Radio Itu Wajib

Terserah kamu mau dengar radio apa. Nggak suka radio juga nggak masalah. Kaum kontra radio akan selalu begitu, sudah dari zaman CD beredar. Hanya di zaman now, dengan terjangkaunya Spotify dan miripnya radio dengan Spotify (entah siapa niru siapa) maka banyak yang akhirnya beralih. Pilihan media sudah disediakan setidaknya selama 55 tahun ke belakang kan?

Kaum pro radio juga selalu mencintai radionya dan tentu paling kehilangan dan kesel saat proyek #RadioGueMati dijalankan. Kaum setengah-setengah antara radio dan Spotify? Tergantung orangnya lah, motivasi mendengarkan radio apa.

Yang jelas, apapun pandangan kamu ke siaran radio sekarang, penggunaan radio harus dikawal banget. Radio sama berharganya dengan media online karena gratis, lalu radio-radio Jakarta juga masuk kampung dan daerah udik di Banten tanpa kalian sadari, sehingga memutuskan alasan radio Ibukota mati nggak akan berpengaruh karena masyarakatnya sudah "tech-savvy".

Di tangan salah, radio akan berubah menjadi salah. Masih mending salah kelola seperti lagu playlist jadi asal-asalan, itu-lagi-itu-lagi-sampai-kambing-bertelur, dan penyiar yang nggak oke. Yang berbahaya adalah kalau radio dijadikan alat propaganda untuk permusuhan. Penggunaan radio yang salah juga termasuk untuk kegiatan tidak senonoh, udah sempat ada yang terciduk karena memutar lagu dangdut erotis. 

Bahaya juga dijadikan alat propaganda politik, menjadi tidak adil karena daya jangkau radio ini luas dan sifat radio yang seperti mading kelas, bisa cuma didengar sekali lewat. Sementara ada politisi susah payah menebar jala ke masyarakat, eh ini ada yang seenaknya aja pakai aset publik.

Nggak Mau Itu Semua Terjadi?

Ayo dengar radio! Nggak cuma mendengarkan radio ya, tapi memantau radio kalau menemukan aktivitas mencurigakan.

Semacam ada yang ngerusuh - rusuh beneran lho seperti omongan yang bisa memancing tawuran dan pengerahan massa, siaran radio mengeluarkan pernyataan menyinggung agama lain, siaran radio yang "ganggu" saat peliputan bencana seperti terdengarnya suara tembakan - Elshinta pernah kena. Tentunya siaran esek-esek yang sangat frontal juga harus kita ciduk bersama.

Lapor ke KPI kalau terjadi di radio terdaftar di PRSSNI. Untuk radio gelap lapor ke Dirjen Postel, kalau perlu gandeng radio yang frekuensinya dirugikan, contoh melaporkan 98.6 FM akibat mengganggu Gen FM plus siaran aneh. Kalau sudah terkait teror(isme), lapor juga ke Densus 88 dan BNPT.

Nikmati Radio yang Ada

Satu lagi, nikmati radio yang udah ada. Beri masukan buat mereka, terutama buat bos-bos tingkat atasnya. Minta bos-bos tersebut mau rebranding kalau memang pasarnya ada, dengan meyakinkan didukung dengan data feedback sosmed yang jujur.... 

Semua radio ada kecocokan, kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terserah kamu mau sakit hati sama bosnya (mungkin ditolak ngelamar kerja di radio itu hehhe), mau sensi sama radio apa, tapi tetap jaga radio-radio besar itu mengudara. Kalau nanti ada radio besar yang wafat, biarlah digantikan sama yang profesional juga - atau mengerti apa yang dimau radio siaran setidaknya.

Janganlah radio kita "dikasih" ke teroris apalah itu, kayak yang baru kejadian di Swedia..... Wilayah frekuensi radio termasuk wilayah tak terlihat NKRI. Beda dengan internet yang memang virtual, kalau radio itu ada wujudnya gelombang transversal, tapi kan nggak bisa dilihat mata telanjang..... 

Mengosongkan radio dari orang yang benar-benar paham radio tambah memberi ruang untuk tangan jahil perusak negeri ini. Walau cuma di Jakarta.

Business image created by Whatwolf - Freepik.com Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yan...

0 comments: