Yuhu, Power, dan Kembalinya KBR

4/22/2018 08:31:00 AM Sael 0 Comments

Kantor Berita Radio (KBR) adalah contoh menarik dalam bisnis radio Indonesia. Radio yang dia bikin sendiri, dijual ke orang, akhirnya karena dibiarkan kosong oleh yang mengakuisisi dibeli lagi oleh mereka juga.

MLIN (Radio Suara Melin), Green Radio, dan sekarang Power FM. Dari zaman menggunakan frekuensi sama dengan RTC UI (89.35 FM - sebenarnya ditengarai kuat RTC dari awal sampai penataan frekuensi radio FM menggunakan frekuensi 99.9 FM, sekarang ditempati Virgin Radio) sampai kebangkitan KBR secara perlahan namun pasti.

KBR dimulai dari zaman Reformasi, di mana mereka adalah salah satu dari yang paling akhir masuk frekuensi FM (paling akhir masuk adalah Woman Radio). Dengan semangat menyebarkan berita independen lewat radio, mereka keliling kota untuk menyebarkan kaset rekaman berita hari itu ke radio orang. 

Seiring dengan waktu, teknologi memampukan KBR untuk menjangkau lebih banyak kota dengan menggunakan taktik paket siaran. Radio tertentu boleh menggunakan siaran KBR untuk menggantikan siaran berita supaya tidak harus mikir bikin siaran berita lagi, namun tetap menggunakan identitas mereka sendiri dalam bersiaran. KBR kerap menyebut taktik ini dengan taktik content provider. Cara ini lama-lama ditiru industri radio raksasa semacam jaringan Sonora, Elshinta, dan saat ini yang terbesar adalah RDI dengan acara akustikan dangdutnya.

Lepas 89.2, Indika Batal Pakai


KBR dengan jaringan sampai 500 kota begitu bukan berarti tidak pernah ada masa surut. Pada 2014, mereka harus melepas radio kesayangannya yaitu Green Radio. Radio tersebut dilepas karena kalah saing dengan radio-radio lainnya, terutama terkait konten. Alasan utama menurut KBR sendiri pada 2014 adalah tidak kuat bayar sewa. 

Akhirnya frekuensi 89.2 sempat dimiliki lisensinya oleh Indika pada tahun 2015, membuat Indika nyaris punya tiga radio saat itu: 91.6 - 96.7 - 89.2 FM. Namun gara-gara Hitz FM gulung tikar pada April 2017, Indika juga sempat mengalami kesulitan keuangan, frekuensi ini kemungkinan dikembalikan Indika ke KBR Grup. Indika FM sendiri saat ini berganti konsep total sehingga sangat mirip dengan Smooth FM (99.5) dan Most Radio (105.8) yang semua penyiar di setiap blocktime hanya seorang.

Selama 3 tahun terjadi ketidakjelasan mengenai kepemilikan 89.2 FM, juga terjadi "gap" antara I-Radio dan RRI (memang seharusnya spasi 0.8 MHz seperti di Filipina dan Amerika Serikat yang diarahkan pemerintah). Pada 2016, frekuensi ini (tidak pas juga, di 89.1) ditumpangi radio dangdut komunitas bernama Mitra FM, saat ini sudah kabur ke frekuensi 107.1 menimpa langsung Dakta FM di wilayah barat Jakarta. Akhir 2017, terdapat iklan peringatan dari Postel tentang aduan penggunaan frekuensi radio yang sembarangan di 89.2 FM, beserta lagu-lagu yang seperti dari YouTube. Frekuensi tersebut ada indikasi akan digunakan lagi.

Yuhu

KBR sedang berbulan madu sekitar 2016 karena kesuksesan Yuhu di daerah-daerah, apalagi dengan mengundang artis di hampir semua blocktime mereka. Yuhu juga ditangani praktisi televisi yang paham dunia hiburan, sehingga ada rasa-rasa bagaikan nonton TV ketika mendengar Yuhu. Penyiar Yuhu hampir semua artis kawakan, hal yang tidak dimiliki radio lain apalagi di daerah.

KBR kembali berinvestasi di bidang radio secara masif, bahkan sepertinya mendekati Mahaka dan Masima untuk urusan duit. Tetangga sebelah menang gengsi pula, banyak juga dikritik soal kualitas konten, iklan, dan lagu yang repetitif. Untuk konten Yuhu masih bisa dikatakan bersaing dengan radio papan atas tersebut, meskipun namanya memang baru di kanal radio Jakarta.

Dua brand, KBR dan Yuhu, diaktivasi dan dijalankan dengan serius. Belajar dari salah kelola pada zaman dipegang Goenawan Mohamad, ada masanya juga diejek radio JIL (saya rasa jangan disebut kepanjangannya), dan yang jadi sorotan adalah konten mereka yang sangat old-school menjelang kematian brand Green Radio. Lagu jarang, konten tidak menarik, sudah begitu mereka kabarnya terkendala dana.

KBR dapat uang lumayan dari jualan konten berita radio, sesuatu yang mungkin sangat menghemat waktu dan sumber daya teman-teman di daerah. Di Jakarta mereka tidak terlalu kuat, masih kalah dibanding Elshinta, namun di daerah mereka bersanding dengan RRI. Selain itu, media online KBR juga mendapatkan pemasukan lumayan tinggi, apalagi dengan seringnya situs tersebut dijadikan rujukan di Wikipedia sampai artikel ilmiah.

Akhirnya uang dan modal cukup besar yang didapatkan KBR tersebut diolah menjadi sumber uang baru, yaitu Yuhu! Brand radio yang dikenalkan pada 2016 ini awalnya hanya fokus di daerah, di Jakarta hanya nebeng Gaya FM Bekasi. Kerjasama dengan Gaya FM berhenti tahun 2017, dan di tahun sama Yuhu! mulai promosi 892 secara cukup gencar. Akhirnya promosi 89.2 FM menurun sampai tidak terlihat, sementara frekuensi 89.2 sudah mulai terdengar dibersihkan Balai Monitoring (Balmon) dan dipakai siaran lagi oleh KBR Group.

Nama dan Hoki 89.2 FM




Power FM mulai disebut sekitar Oktober 2017 dalam siaran ujicoba, awalnya tidak terdengar jelas suara station ID yang menyebutkan nama radio itu, Semakin hari semakin terdengar jelas dan akhirnya langsung meluncur dengan program utama Yuhu (sekantor), Power Lunch Break, Power of Love, dan Power 90s (weekend).

Tidak hanya Yuhu, program Power FM juga dijual ke jaringan-jaringan radio daerah. Salah satunya Young On Top. Acara itu pindah dari jaringan Ramako (Kis), lalu ke Trijaya (MNC), Global, dan tahun ini di Power FM. Modalnya gila kan?

Belum seringnya Power FM mengundang artis dan beberapa pembicara terkenal di segmen jam 8 malam The Power of Love bahkan Power Lunch Break. Berarti bisnis radio KBR sudah kembali ke semula? Ya semoga demikian.....

Untuk musik, lumayan, Power FM agak mirip Jak FM. Untuk pendengar, semoga Power melakukan promosi masif seperti jaringan Gen FM supaya berhasil, harapannya KBR ada duit buat ini.....

Kantor Berita Radio (KBR) adalah contoh menarik dalam bisnis radio Indonesia. Radio yang dia bikin sendiri, dijual ke orang, akhirnya kar...

0 comments: