Sehari dengan Berita Positif

12/31/2017 08:43:00 AM Sael 0 Comments

Tulisan ini gue jamin agak susah laku dibanding dengan topik radio, soalnya blog ini gue belokin jadi niche-market - all about radio stations. Namun, blog ini juga bisa jadi curahan hati gue dong hahahaha.

Memasuki Hari Natal, gue benar-benar nggak mempost berita tentang politik dan yang terkait bikin ribut selama dua hari. Komen juga nggak di semua lini medsos. Gencatan senjata dulu, stop komen-komen nyinyir dan nyitir selama dua hari. 25 Desember karena hari Natal. 26 Desember sekalian menghargai teman-teman dan saudara-saudara kita di Aceh yang 13 tahun lagi diterpa tsunami. Keduanya nggak cocok jadi ajang berkelahi nasional. 

Nggak cuma dengan mewujudkan perdamaian sejenak dan nggak ngapa-ngapain akhirnya. Namun, ada satu yang perlu diangkat. Berita-berita positif di Indonesia. Indonesia ya, bukan berita copas nyadur situs luar. 

Siapa Penulis Berita Positif?

Selama ini kita punya GNFI dan Indonesia Happy punya Detikcom. IDNTimes juga sering memberitakan hal-hal bagus dan kocak di Indonesia, di luar tema jomblowan-jomblowati yang sudah basi. Media biasa juga sering ah, cuma yang diklik semacam Via Vallen tembus sekian juta, Tak Tun Tuang viral luar negeri, mahasiswa UI ke luar negeri, Ryan Jombang sudah insaf. It ain't enough!

Juga, mereka nggak bisa sendiri. Bahkan dengan share GNFI dan sahabatnya. Bahkan dengan kantor GNFI yang di Surabaya, sepertinya sengaja untuk menghindari panasnya politik Ibukota. Bahkan mungkin dengan cukup bebasnya kita berkirim berita ke situ.

Cerita Rakyat Indonesia

Entahlah. Gue berpikir untuk mendengarkan sejumlah cerita dari supir Grab-Gojek-Uber yang tetap ceria walaupun narik belum tentu dapat orderan lagi. Ibu-ibu warteg dekat kampus yang senyumnya bikin pembeli mau makan lagi di situ, bahkan lupa selama 3 hari berturut-turut makan siang di situ terus. Senyuman ibu-ibu bawa anak di Commuter Line, meski sebenarnya habis menahan marah gara-gara nggak dikasih duduk sama anak-anak muda.

Fangirl Korea yang nggak ngerti politik tapi mau kontribusi buat negeri dengan menekuni bidang kerjanya dia dengan serius. Anak-anak yang lari-larian dan semangat belajar, padahal nggak tahu besok mau makan apa atau tinggal di mana. Penyiar radio yang menebarkan optimisme tiap pagi lewat siaran, padahal mereka belum tentu mood buat siaran di hari itu. Mbak-mbak minimarket yang habis risih digodain mas-mas tengil dan kesal karena dipalakin sama pengemis (ini serius ada di deket rumah gue), tapi tetap tersenyum ke bapak-bapak yang sebelumnya habis dimarahi bosnya lewat telepon.

So much stories come from them. Banyak cerita yang bisa digali tentang indahnya Indonesia, bahkan dari temanmu sendiri!

Yeay, second platform that I have, Twisctre , akan fokus memberitakan cerita-cerita baik dan pengetahuan berfaedah bagi bangsa Indonesia. Ya ujungnya promosi kan ya! Hahahaha. 

Just click it on twisctre.com ! The blog will soon be updated, maaf kemarin gue tinggal lama karena beban akademis..... Ke depannya ada kemungkinan gue sinergiskan dengan Teknika FTUI, tentunya dengan aturan yang ada, gue ngiklan lah di Koran Biru dan sejenisnya! Hahahaha.

Tentu berita-berita positif harus diimbangi berita negatif macam rampok, begal, korup, dan manuver politik nggak jelas itu. Mau balik ke jaman (hmm), di mana ada yang mengaku baru tahu berita DOM Aceh setelah Reformasi? 

Tulisan ini gue jamin agak susah laku dibanding dengan topik radio, soalnya blog ini gue belokin jadi niche-market - all about radio stat...

0 comments:

Call Sign Radio FM Satu Bandung

12/15/2017 08:28:00 AM Sael 0 Comments

Sudah tahu apa belum call sign? Call sign adalah suatu identitas yang membedakan suatu radio dengan radio yang lain. Nama panggil ini juga berfungsi mengidentifikasi legalitas suatu stasiun radio. Selain itu, callsign juga bisa melacak terjadinya perpindahan kepemilikan, karena callsign di Indonesia tidak akan berubah sekalipun diakuisisi beberapa kali pun.

Ya, mungkin radio kita akan ganti callsign kalau zaman-zaman DAB.... PM2D** gitu kali ya heheheh (semoga belum diambil institusi lain). RRI juga diberikan callsign hehehehe, juga kalau bisa ya callsign radio Ibukota boleh pilih. Karena pada sejarahnya pergantian callsign di Indonesia terjadi karena perpindahan dari AM ke FM.

Contohnya, kalau ada Hits FM Jakarta sama Hits FM Bandung, gimana cara bedainnya? Dengan callsign! 96.7 Hits FM Jakarta (almarhum, kabarnya mau reborn) PM2FBV dan Hits Radio Bandung PM3FHO.

Langsung aja ya.

Radio yang kosong di bagian kolom ketiga (korporasi/jaringan) artinya dia independen

Callsign untuk semua radio komersial adalah PM(2-9), untuk Jabar dan Banten PM3F (FM) dan PM3B (AM)

87.7 Hard Rock Bandung - PM3FXI - MRA
88.1 Studioeast - PM3FHW - Swaragama Group
88.5 Mora - PM3FMB
88.9 Auto Radio - PM3FMM
89.3 Elshinta - PM3FXH - Elshinta Group
89.7 Global - PM3FRN - MNC
90.1 Zora - PM3FSU - Yayasan Pendidikan Telkom
90.5 Cakra - PM3FXQ - Ardan Group
90.9 Lita FM - PM3FSO
91.3 MNC Trijaya FM - PM3FMK - MNC
91.7 INB - PM3FMH
92.1 Meisheng - PM3FXB
92.5 Maestro - PM3FSK - salah satu gereja di daerah sekitarnya
92.9 AR Cimahi - PM3F__
93.3 Sonora - PM3FXF - Kompas Gramedia
93.7 Paramuda - PM3FSC
94.0 Radio Sonata - PM3F__ - Pemkot Bandung
94.4 Delta FM - PM3FJJ - Masima
94.8 Fit Radio - PM3FXR - Elshinta Group
95.2 Bandung Radio - PM3FXE - Etnikom
95.6 Radio B - PM3FJI - Ardan Group
96.0 RRI Pro 2 - no callsign sesuai peraturan, karena bukan radio swasta
96.4 - PM3FXO - Persib (dulu radio Bobotoh, namun sejak 2016 menggunakan nama on air "96.4 FM"
96.8 Kencana - PM3FXG
97.2 New Shinta - PM3FBS
97.6 RRI Pro 1 - no callsign
98.0 Mayanada Soreang - PM3FML
98.4 Prambors - PM3FXJ - Masima
98.8 Raka - PM3FSB - Kompas Gramedia
99.2 Mom And Kids Radio - PM3FMJ
99.6 Thomson - PM3FBW
100.0 Play 99ers - PM3FXP - jaringan di Jakarta jadi Virgin Radio
100.4 KLCBS - PM3FHA
100.7 GRG - (?) - sekarang jadi RSPD
101.1 MGT Radio - PM3FHE - Teman Sejati (Radio Elgangga)
101.5 Dahlia FM - PM3FHV -  Dahlia Group
101.9 Cosmo FM - PM3FSQ - lepas dari group Ardan sekitar 2012
102.3 Rase - PM3FHH - afiliasi pengelolaan dengan Masima
102.7 MQFM - PM3FRT - Aa Gym, MQ Group yang membawahi 92.3 Jogja
103.1 Oz Radio - PM3FHD - Oz Group (di kota-kota lain)
103.5 Chevy - PM3FHM
103.9 Hits Radio - PM3FHO - Dahlia Group
104.3 blank, ex UFM - PM3FHP - masih menunggu kabar terkait akuisisi, kemungkinan digunakan untuk "rumah baru" Auto Radio karena 88.8 akan digunakan RRI Pro 3
104.7 Rama FM - PM3FBQ - Rama Group
105.1 I Radio - PM3FXU - MRA
105.5 Garuda - PM3FHR
105.9 Ardan - PM3FHI
106.3 Urban Radio - PM3FHX - Urban Radio Network (di Bali, jaringan di Jakarta (RKM) jadi 99.5 Smooth FM)
106.7 Mara FM - PM3FHQ
107.1 KLite - PM3FHO - Yayasan Telkom
107.5 PRFM - PM3FHZ - Koran Pikiran Rakyat

Peluang Akuisisi (bonus)
106.7 99.6 100.7 103.5 104.3 89.7 88.5 91.7 92.9

Calon Grup yang Akan Masuk di 2018
Mahaka Group ("Gen FM Bandung", "Hot FM Bandung") (sudah dikonfirmasi ke media massa)
MPG Group (berpeluang)
CPP Radionet (comeback Pas FM?)

Sudah tahu apa belum call sign? Call sign adalah suatu identitas yang membedakan suatu radio dengan radio yang lain. Nama panggil ini juga b...

0 comments:

#RadioGueMati - Terserah Dengar Radio Apa, Jaga Frekuensi Radio Kewajiban Semua WNI

12/11/2017 08:04:00 AM Sael 0 Comments

Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yang sering dipepet sama radio-radio kampung nggak jelas, sepertinya demikian.

Kampanye #RadioGueMati adalah sebuah panggilan, baik praktisi radio, pendengar Spotify setiap hari sampai 2017 wrapped mencapai di atas 50 ribu menit, bahwa begitu pentingnya radio FM. Mematikan radio selama 5 menit saja akibatnya gawat, bukan sekedar ke kedekatan dengan penyiar, namun bisa berakibat fatal kalau yang dimatikan adalah information center.

Bukan hanya masalah nafkah orang ya. Bukan juga masalah "ah gue anak Spotify, mana peduli gue sama siaran radio." Ingatlah bahwa di tahun 1980an pasti ada segelintir orang yang nggak pernah atau jarang dengar radio karena terbuai enaknya koleksi tape dari minjem temen atau mampu beli sendiri. Silakan tanya ke kolektor tape dan piringan, yang udah bisa bikin radio sendiri ya, jangan yang koleksinya cuma satu rak kaset doang.

Dananya nggak kecil buat beli koleksi segitu banyak, dan rasanya seorang yang mendapatkan tape dari hasil nyolong juga nggak akan sampai satu dua lemari perpustakaan.

Soal berita, ya jaman dulu juga saingannya sama koran dan VHS. Kalau tahun 70 ke bawah, rakyatnya yang nggak kuat dana beli radio, sehingga nggak setiap hari bisa dengerin. Akhirnya minjem punya Pak RT atau wong tajir. Zaman now, tantangannya juga mirip ah.

Menjaga frekuensi radio dari tangan jahil udah termasuk kategori bela negara dan mempertahankan teritori NKRI bahkan. 

Frekuensi Radio Adalah SDA

Frekuensi radio bukan fenomena buatan manusia. Ingat itu, itu karunia dari Tuhan! Hanya memang cara mendapatkan frekuensi radio seperti emas, tidak melalui cara-cara mekanis alamiah, layaknya kita memetik bunga di kebun atau panen padi. 

Frekuensi radio nggak akan pernah hilang selama ilmu untuk mendapatkannya masih dikuasai orang. Selama fisika gelombang elektromagnetik dan beberapa kuliah yang jadi spesialis Teknik Elektro itu masih diajarin, ya akan tetap ada terus.

Radio Mirip Jual Beli Tanah

Konsep frekuensi radio ini hampir sama dengan jual beli tanah bangunan. Dalam jual beli tanah kan dikenal yang namanya tukang serobot tanah orang, penghuni liar, dan pengguna berizin. Dikenal juga satu tanah yang punya atas nama dua orang, itu namanya sengketa.

Ketika frekuensi radio ditinggalkan sebuah radio FM, katakan radio RRI pindah frekuensi lalu frekuensi tersebut jadi kosong. Frekuensinya akan tetap ada bukan? Nah, tiba 3 orang yang akhirnya menggunakan frekuensi tersebut secara berurutan.

Pengguna satu kayak orang yang suka main bikin bedeng di pinggir kali Ibukota. Frekuensi bekas RRI itu diserobot dan udah nggak izin dulu ke Postel dan KPI, langsung disikat digunakan begitu aja. Permasalahan lain adalah kualitas pemancarnya jelek sehingga radio lain, bahkan gawatnya penerbangan kalau di frekuensi 107.7-108, akan terganggu.

Pengguna dua sudah izin nih, sudah dikasih izin juga sama Postel, KPI, dan PRSSNI (persatuan radio swasta). Radio ini tapi akhirnya penggunaan menyeleweng. Suka dibiarkan dead air atau nggak ada yang siaran, sekalinya siaran dipakai buat yang nggak-nggak kayak mengajak permusuhan umat beragama, menghina suporter bola tetangga sampai bisa bikin tawuran, dll. 

Pengguna tiga izinnya lengkap, alim - dengan tidak menggunakan radio sembarangan seenak jidat. Hanya kekurangannya ya dalam penanganan konten yang "itu-itu aja", "khas radio zaman now", "bosenin". Lalu dimarahi pendengarnya di masa depan, akhirnya rebranding jadi fokus ke satu pasar.

Kamu pilih RRI mengalihkan penggunaan radio ke orang yang mana? Gue mah orang ketiga. Macam lagu HiVi hahaha.

Jaga Frekuensi Radio Itu Wajib

Terserah kamu mau dengar radio apa. Nggak suka radio juga nggak masalah. Kaum kontra radio akan selalu begitu, sudah dari zaman CD beredar. Hanya di zaman now, dengan terjangkaunya Spotify dan miripnya radio dengan Spotify (entah siapa niru siapa) maka banyak yang akhirnya beralih. Pilihan media sudah disediakan setidaknya selama 55 tahun ke belakang kan?

Kaum pro radio juga selalu mencintai radionya dan tentu paling kehilangan dan kesel saat proyek #RadioGueMati dijalankan. Kaum setengah-setengah antara radio dan Spotify? Tergantung orangnya lah, motivasi mendengarkan radio apa.

Yang jelas, apapun pandangan kamu ke siaran radio sekarang, penggunaan radio harus dikawal banget. Radio sama berharganya dengan media online karena gratis, lalu radio-radio Jakarta juga masuk kampung dan daerah udik di Banten tanpa kalian sadari, sehingga memutuskan alasan radio Ibukota mati nggak akan berpengaruh karena masyarakatnya sudah "tech-savvy".

Di tangan salah, radio akan berubah menjadi salah. Masih mending salah kelola seperti lagu playlist jadi asal-asalan, itu-lagi-itu-lagi-sampai-kambing-bertelur, dan penyiar yang nggak oke. Yang berbahaya adalah kalau radio dijadikan alat propaganda untuk permusuhan. Penggunaan radio yang salah juga termasuk untuk kegiatan tidak senonoh, udah sempat ada yang terciduk karena memutar lagu dangdut erotis. 

Bahaya juga dijadikan alat propaganda politik, menjadi tidak adil karena daya jangkau radio ini luas dan sifat radio yang seperti mading kelas, bisa cuma didengar sekali lewat. Sementara ada politisi susah payah menebar jala ke masyarakat, eh ini ada yang seenaknya aja pakai aset publik.

Nggak Mau Itu Semua Terjadi?

Ayo dengar radio! Nggak cuma mendengarkan radio ya, tapi memantau radio kalau menemukan aktivitas mencurigakan.

Semacam ada yang ngerusuh - rusuh beneran lho seperti omongan yang bisa memancing tawuran dan pengerahan massa, siaran radio mengeluarkan pernyataan menyinggung agama lain, siaran radio yang "ganggu" saat peliputan bencana seperti terdengarnya suara tembakan - Elshinta pernah kena. Tentunya siaran esek-esek yang sangat frontal juga harus kita ciduk bersama.

Lapor ke KPI kalau terjadi di radio terdaftar di PRSSNI. Untuk radio gelap lapor ke Dirjen Postel, kalau perlu gandeng radio yang frekuensinya dirugikan, contoh melaporkan 98.6 FM akibat mengganggu Gen FM plus siaran aneh. Kalau sudah terkait teror(isme), lapor juga ke Densus 88 dan BNPT.

Nikmati Radio yang Ada

Satu lagi, nikmati radio yang udah ada. Beri masukan buat mereka, terutama buat bos-bos tingkat atasnya. Minta bos-bos tersebut mau rebranding kalau memang pasarnya ada, dengan meyakinkan didukung dengan data feedback sosmed yang jujur.... 

Semua radio ada kecocokan, kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terserah kamu mau sakit hati sama bosnya (mungkin ditolak ngelamar kerja di radio itu hehhe), mau sensi sama radio apa, tapi tetap jaga radio-radio besar itu mengudara. Kalau nanti ada radio besar yang wafat, biarlah digantikan sama yang profesional juga - atau mengerti apa yang dimau radio siaran setidaknya.

Janganlah radio kita "dikasih" ke teroris apalah itu, kayak yang baru kejadian di Swedia..... Wilayah frekuensi radio termasuk wilayah tak terlihat NKRI. Beda dengan internet yang memang virtual, kalau radio itu ada wujudnya gelombang transversal, tapi kan nggak bisa dilihat mata telanjang..... 

Mengosongkan radio dari orang yang benar-benar paham radio tambah memberi ruang untuk tangan jahil perusak negeri ini. Walau cuma di Jakarta.

Business image created by Whatwolf - Freepik.com Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yan...

0 comments:

Inilah Kenapa Lite FM Harus Berubah Jadi Most Radio

10/15/2017 09:37:00 AM Sael 18 Comments


Belakangan, lagu-lagu keras dan ngerock tambah gencar di radio dengan nama baru ini. Semua gara-gara demo massal ke akun Kis FM, terkait hilangnya Rock Weekend. Sayang media nggak berani memberitakan ini, kecuali Info Twitwor.

Ketika gue membuat tulisan ini, lagu-lagu yang keluar dari Most Radio salah satunya Metallica - Nothing Else Matters, Wild World versi cover Mr. Big, dan Protonema dengan Rinduku Adinda. Waduh, ini golongan lagu-lagu yang bisa dibilang rock, meski nggak keras-keras amat sih.

Enaknya penyiarnya adalah Andrian Eswe, salah satu "biangnya" Kis FM dulu. Ya, kebanyakan penyiar Ramako jaman dulu cuma bertukar-tukar radio. Ada yang memang keluar permanen atau mungkin hiatus lama, seperti Arief Okep Presiden Rock Indonesia, Febicil yang isunya mau ke Delta FM, The Koma, dan lainnya.

Kalau nggak salah mereka masih di lantai 38, dan sepertinya akan tetap di lantai 38, nggak pindah ke Imperium P7. Malah gue berharap Gen FM juga pindah ke lantai 38 GI, caplok lahan tetangganya Ramako yaitu Qatar Airlines.

Back to topic, kenapa mereka, grup Mahaka, nggak membiarkan namanya Lite FM? Kenapa juga nggak dikembalikan ke Ramako 105.8?

Simple, nama Ramako dan Lite udah identik dengan musik-musik enteng dan galau. Sementara Anda tahu sendiri lagu-lagu di Most FM belakangan, semakin didominasi musik-musik gahar, keras, dan "laki". Apalagi, Most FM juga dipromosikan sebagai 'radionya laki-laki' secara nggak langsung dari Instagram mereka.

Selain itu, kalau pake nama lama, iteration alias pengulangan pakai nama, setahu gue gak boleh deh. Lihat aja penggantian nama Sindo Trijaya jadi MNC Trijaya, nggak bisa langsung jadi Trijaya karena keganjal peraturan ini.

Pihak Mahaka ngerasa harus mengubah sensasi dari mendengarkan radio ini dari namanya. Ya udahlah, diganti aja jadi Most Radio. Apalagi kabarnya radio ini akan menjadi radio news and sports. Tapi gue ragu sih, secara untuk kategori itu kayaknya Jak FM deh. Jak FM mulai berubah ke politik, apalagi sejak interview carpool Ahok dan Anies. Kemarin Sandiaga Uno juga diundang ke sana.

Dengerin Jak FM di saat-saat tertentu, apalagi bahas Pilkada itu berasa dengerin Elshinta, nggak pake debat kusir dan tentu ada lagunya. Kemungkinan, Most FM jadi sports and oldies radio, Jak FM jadi adult contemporary and politics radio. Di antara grup Mahaka, yang paling berani nyerempet politik cuma Jak.

Tentunya Most FM ini sangat fenomenal gara-gara nggak ada saingannya untuk saat ini di Jakarta. Untuk kategori oldies lagu Barat, Most FM gak ada saingan. Kalau lagu Indonesia, saingannya ada Pro 1 RRI kalau lagi nggak muterin dangdutan, ditambah rajanya yaitu Camajaya 102.6 FM.

Apalagi ditambah lagu-lagu oldies, udahlah, generasi jaman old ngumpul semua.

Tulisan ini cuma opini terkait radio, lebih jelasnya buka aja kategori soal radio. Gue nggak ada afiliasi dengan grup radio manapun, selain sebatas kenal dengan beberapa penyiar dan petinggi. Itu nggak akan memengaruhi penilaian objektif gue. Hehehe.

Belakangan, lagu-lagu keras dan ngerock tambah gencar di radio dengan nama baru ini. Semua gara-gara demo massal ke akun Kis FM, terkait...

18 comments:

The Only Radio Blog in Jakarta

10/07/2017 07:48:00 AM Sael 9 Comments

Penelitian Nielsen tahun 2016 bilang bahwa radio menempati penetrasi (penjangkauan penduduk di 11 kota utama tempat Nielsen melakukan survei) sebanyak 38%, sementara Internet 40%! Layar kaca nggak usah ditanya, 96%. (sumber)

Penelitian Nielsen tahun 2016 bilang bahwa radio menempati penetrasi (penjangkauan penduduk di 11 kota utama tempat Nielsen melakukan sur...

9 comments:

Mengulas 50 Website Terbanyak Dikunjungi di Indonesia versi Alexa (2017)

7/30/2017 09:39:00 AM Sael 5 Comments


Memang banyak website yang mengulas beginian. Namun, gue akan mengulas lebih mendalam.dan menjelaskan situs apa aja yang ada di top 50 situs Indonesia versi Alexa. Tentunya update terbaru 2017. Cekidot yap di sini.

Memang banyak website yang mengulas beginian. Namun, gue akan mengulas lebih mendalam.dan menjelaskan situs apa aja yang ada di top 50 ...

5 comments:

Terakhir Itu Berat

7/30/2017 06:56:00 AM Sael 0 Comments


Juli ini kayaknya banyak banget kabar duka ya?

Siang-siang bolong Jumat, di tol, gue buka twit dan baca Chester meninggal. Ku tak tahu awalnya siapanya Linkin Park itu - sekalipun gue cukup doyan lagu Linkin Park, dan gue KAGET SETENGAH MATI ketika baca itu vokalisnya. Yupz. Vokalis adalah kekuatan utama sebuah band, apalagi yang unik seperti Chester ini. Kalau sudah tidak ada mending bubar sajalah.

Terus gue kaget juga ketika di radio kesayangan gue kalau Sabtu-sabtu, announcer kesayangan gue dari gue tahu radio di luar pilihan ortu, RESIGN! I feel it. Ketika gue harus pisah dengan radio sekolah, sekitar 8 Mei 2015 ya pas angkatan gue ujian praktek seni, it is so damn so speechless. 

Secara defacto, siaran terakhir gue di radio sekolah sebenarnya pas udah jadi mahasiswa aktif UI sih. Ya, apalagi itu gw di ruang siaran pakai embel-embel FTUI. Waduh. Yah, emang tujuannya buat sosialisasi kampus ke angkatan bawah. CGTS ala-ala gitu. Siaran apaan? Gue bajak radio sekolah dan menginfokan pengeboman di Thamrin.

Lalu, Jumat seminggu setelah kematian Chester Bennington, gue dapat kabar dari Line bahwa senior gue meninggal. Gue awalnya nggak percaya, gue pikir jarkom orang tua meninggal. [jadi teringat salah seorang dosen gue yang ayah dan ibunya meninggal di saat berdekatan :'( ] Setelah ditelaah chat "Innaillahi" yang ada di grup, ternyata... senior gue yang meninggal karena kecelakaan di Klaten. Nggak percaya gue.

Apalagi kakak yang sudah lulus itu adalah salah satu panutan gue juga, bagaimana seorang bisa memimpin di lembaga mahasiswa. Sebelum gue merilis tulisan ini, sempat gue cari beritanya dan ternyata confirmed kak Shofiyyah Taqqiyah (Shofi) meninggal. Beritanya di sini (Tribun) dan di sini (Solopos).Ternyata beritanya dirilis saat gue masih di jalan pulang dari Bandung, dan sialnya HP lowbatt sehingga tidak internetan untuk sementara waktu. Kecelakaan ini memakan korban jiwa dan terjadi di jalur utama Jogja-Solo sehingga membuat media merasa perlu memberitakan juga.

Terakhir gue mendapatkan pelajaran sedalam ini saat kelas 11. Waktu itu, sempat lho setiap bulan ada orang tua siswa, guru, bahkan ada 2 siswa dan 1 guru yang meninggal. Di sekolah gue. Kalau Ibu Guru itu meninggal karena serangan jantung (ini praktis membuat kepanikan satu sekolah, sampai sekolah dipulangkan cepat karena guru-guru melayat), kalau yang masih siswa karena kecelakaan motor yang mengenai kepala.

Source: twitter @saelsaelz ex @m_sael

Gue masih ingat ketika anak Pahoa yang meninggal itu menjadi buah bibir tujuh hari tujuh malam satu sekolahan. Dari waktu ramai-ramai "pray for" di BBM dan Twitter - dulu Line belum memasyarakat, kondisi fisik akibat kecelakaan yang sangat menyedihkan, sampai akhirnya meninggal. Ada satu lagi yang karena kecelakaan motor di daerah sekitaran Tangcity, padahal sudah mau lulus dan meninggal saat mengurus sesuatu buat wisuda!

Semua kisah itu bermuara di tempat sama. Ketika segala sesuatu yang lo suka, lo sayangi, lo kenal berakhir mendadak, itu sangat berat meski harus dijalani.

None of you want to lose someone that you love forever right?

Kehilangan benda mati seperti HP dan bahkan hal yang dengan lumayan mudah bisa dibeli kayak kartu Commuter Line dengan saldo di bawah 13 ribu aja bisa bikin nangis-nangis. Bukan karena nilai barangnya secara nominal, tapi how precious it is to you.

Apalagi orang? Entah dia pergi resign dari kerjaan atau tidak lagi berkuliah bareng, apalagi meninggal dunia?

Jadi, pesan moral dari cerita ini adalah:

  1. Selalu jadikan momen bersama teman dan saudara dan rekan dan apa yang lo suka sebagai momen terakhir. Banyak kejadian, ketika sedang menganggap seorang teman akan bersama kita selamanya, eh datang kabar duka bahwa teman yang kita maksud meninggal. Ingat cerita obat bunuh diri yang sangat legendaris itu? 
  2. Banyak-banyak berdoa, berkabunglah kalau lagi benar-benar sedih karena ditinggal orang tersayang, tapi ya jangan berlebihan karena dilarang agama. Sebaiknya ya, berdoa supaya Tuhan angkat kesedihan dan bikin lo bisa move on dari rasa sedih itu.
  3. Selalu ingat, tak ada yang abadi. Tak ada yang tahu apa yang terjadi besok.
Begitulah kira-kira. Bukan begitulah Seword yang gambarnya kura-kura, beda website itu. Tolong.

Juli ini kayaknya banyak banget kabar duka ya? Siang-siang bolong Jumat, di tol, gue buka twit dan baca Chester meninggal. Ku tak ta...

0 comments:

Sael on Playlist Gue Kisfm Jakarta

7/18/2017 09:10:00 PM Sael 0 Comments


Yeay! Yang kepo banget dengan postingan gue di Instagram soal siaran gue, sekarang lagi berlangsung nih! Ada beberapa hal yang akan diobrolin hahaha, iseng-iseng berhadiah ini...

Gimana cara streaming Kisfm?


  1. PC Only: www.kisfmjakarta.com
  2. Mobile: download aplikasi Tunein dan search "Kis FM Jakarta"
  3. www.radioonline.co.id/kis-jakarta/ bisa dari browser HP kok
Stay Tuned!

Yeay! Yang kepo banget dengan postingan gue di Instagram soal siaran gue, sekarang lagi berlangsung nih! Ada beberapa hal yang akan diobr...

0 comments:

Cara Ke Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir, Terutama dengan KRL Commuter Line

6/19/2017 09:46:00 AM Sael 0 Comments

Oke, sedikit menjauh dari yang panas-panas, sekarang ada kepikiran untuk bikin tutorial jalan-jalan sih, karena kenapa pengetahuan yang kita punya nggak dishare? Hahaha. Nah, musim mudik begini, udah waktunya sharing yang bisa membantu perjalanan para pembaca dan para kaum numpang lewat. Hahaha

Oke, sedikit menjauh dari yang panas-panas, sekarang ada kepikiran untuk bikin tutorial jalan-jalan sih, karena kenapa pengetahuan yang kit...

0 comments:

RAW: No Technology Advancing, No Food For Indonesia

4/28/2017 01:22:00 PM Sael 0 Comments

[TULISAN DIPINDAHKAN KE SAELZ.COM]

[TULISAN DIPINDAHKAN KE SAELZ.COM]

0 comments:

Hari Ini Ahok Memang Belum Meninggal, Tapi Sedihnya Mendekati Kalo Kejadian

4/19/2017 05:58:00 AM Sael 0 Comments

Kehilangan hari ini emang bener-bener bikin sakit hati. Bikin orang gagal fokus. Yang bukan KTP DKI aja banyak yang sedih, berduka, malu, apalagi yang KTP DKI atau sering berkegiatan di DKI. Feed bikin kesal orang yang pada dasarnya nggak peduli amat sama pulitik politik dan segala jenisnya. Semuanya isinya RIP Jakarta, siap-siap dipimpin DP nol persen, awas program oke oce, dan risiko Indonesia menjadi negeri super intoleran. Ya ini memang belum melihat hasil dari sidang penistaan agama besok, tapi... hancurlah hati warga Jakarta.

Okelah, Ahok can go wherever he wants to. Whatever offered to him. Ahok memang orangnya oportunis dan inilah yang kira-kira terjadi pasca lepasnya orang ini dari tampuk kepemimpinan DKI. Ahok belum meninggal ini. Bisa diarahkan ke mana-mana, dan yang paling diharapkan orang jadi  Mendagri, sehingga hmmm, mau gubernurnya Anies juga sama aja rasanya minimal dengan Pak PLT (Soni Sumarsono) memimpin.

Dan ingat, bisa jadi beberapa hari ke depan adalah kemenangan dari hasil hitung total Ahok, karena ada perbedaan signifikan dengan QC. Hehehe.

Ya sudah, Ahok Djarot juga legowo, biarlah Jakarta jadi milik kaum oke ngoceh, eh oke oceh dan saya bisa istirahat setelah lelah memimpin DKI kok digontok-gontokin kaum bumi datar dan orang-orang yang kurang teredukasi.

Masalahnya, kesedihan kita adalah, banyak. Hujan yang mengguyur Jakarta dan kayaknya satu Jawa bisa agak menggambarkan kesedihan gue. Feed yang bertebaran tulisan dan segala sesuatu berbau politik juga, begitulah. Kemudian pendukung oke ngoceh gencar menyerang akun-akun yang meledek ketidakmampuan Anies-Sandi dalam menghadapi pertanyaan debat Jakarta.  Ditambah komentar-komentar terhadap sumbu pendek yang bikin rebek suasana aja.

Jakarta jatuh ke tangan orang gajelas. Anies-Sandi mungkin masih bisa diwaraskan dan diajar selama 6 bulan ke depan untuk yah, lupakan segala pilkada dan fokus kerja benahi Jakarta. Tapi, ngerinya orang-orang di belakangnya itu. Cagub dan cawagub baik, tapi di belakangnya gontok-gontokan terus.

Jakarta mau dibikin bersyariah lah, dibikin cuma buat kaum bumi datar lah (gue gak tega sebut agama), wah ngeri. Orang-orang otak teroris yang tahunya cuma intimidasi dan tanpa sadar dipake buat alat politik. Mereka yang junjungannya menang aja masih sering menghina yang kalah.

Sementara itu, kalo nggak ada apa-apa dalam 6 bulan ke depan, steady state, yah salah satu kesedihan gue terwujud. Banyak yang akan lebih parah dari zaman SBY atau di daerah-daerah lain kalau nggak Jokowi segera bertindak.

It is not about Ahok. Dari kemaren gue juga memperjuangkan Ahok cuma karena nggak ada calon lain yang konsep dan kerjanya bener. Bahkan sampai kata pak PLT ketinggian standarnya. Yang lain modal pasukan bumi datar semua - pasukan yang mudah dicekoki ini itu ini itu. Sementara Ahoker dalam hati menyimpan banyak kritikan ke Ahok dan menumpahkan semua itu di Balai Kota atau dinas terkait.


Ketakutan gue, yah, sebut aja satu deh, sia-sia gue nulis. Nggak akan ditanggepin. Muka tembok semua tuh pejabat. Cuma bagi-bagi duit dan yang parah akan membagikan uang ke orang-orang intoleran macam yang suka mengkafir-kafirkan orang itu - nah seharusnya ini juga bisa disikat 

Usulan gue soal infrastruktur cuma jadi debat rumpi di forum skyscrapercity dan bahkan Seword yang seberpengaruh itu terhadap isi otak rakyat Indonesia. Usulan gue soal perbaikan fasilitas lah, pembangunan taman, SDM, kayak ngomong sama batu. Mangkrak. Yang ada ya proyekan yang nilainya begitu nikmat buat dikorupsi macam reklamasi.

Ketakutan gue juga, kaum bumi datar kembali meraja. Itu sudah, ah sudahlah. Pemikiran sesat mereka masuk DKI dengan mudah. Intoleransi bawa-bawa agama makin hari makin naik, apalagi dengan Anies banyak pernyataanya tempo hari yang dukung kelakuan nakal FPI dkk ini... Gue sangat berharap plintat-plintut Anies di sini ke bumi datar, sehingga nanti dia dikatain syiah lah apa lah sama mereka, macam Ridwan Kamil. Hehehehe

Yah, harapannya Anies-Sandi jalankanlah tugas Ahok. Itu aja, jangan ditambah jangan dikurangin. Para menteri tolong dimarahin dan dihukum kalau nakal anak-anak ini! Yah, semacam DP nol persen itu, tolong dikondisikan OJK! Oke Ngoceh Mart, tolong dikondisikan Mendag! Dengan keterbatasan akibat otonomi daerah, ingat, pusat masih bisa "bermain" dan menekan gubernur yang nggak mau kerja. Ada aja caranya.

Kehilangan hari ini emang bener-bener bikin sakit hati. Bikin orang gagal fokus. Yang bukan KTP DKI aja banyak yang sedih, berduka, malu,...

0 comments:

Majalah Bobo, Penuh Kenangan

4/14/2017 12:48:00 AM Sael 0 Comments

Tulisan ini adalah bagian dari #1Tema4Tempat, tulisan gue tentang Majalah Bobo yang disesuaikan ke berbagai pangsa pasar dan berbagai macam pembaca. Di mana aja sih? Di Seword, Kompasiana, Kaskus, dan blog ini tentunya. Yang udah jadi ada di Seword https://seword.com/umum/anak-indonesia-tanpa-majalah-bobo/ 

Meskipun hari ini Jumat Agung, gue akan memulai, hmm, marathon writing ini. Dari gue nulis di Seword itu, gue cuma break sedikit dan makan siang aja. Habis itu lanjut lagi. Hahahah. Padahal untuk beberapa orang, menulis sampai 700-900 kata itu susah banget - di luar nulis yang terkait akademis ya hehehe.

Oke tak beroce, gue langsung lanjut! Berhubung Bobo adalah majalah kesayangan gue dan adek-adek gue dari kecil sampai sekarang. Bobo adalah media massa yang pertama gue kenal dan sampai sekarang, hmm well, masih juara di hati. Media yang lain nggak ninggalin kesan segitu dalam di hati gue selain Bobo.

Tenang, gue gak ada hubungan apa-apa sama majalah ini. Bukan post berbayar, itu panggilan hati bro. Gue nulis di Seword juga masa bodo selama ini dengan duit, toh itu bukan situs gue juga dan cuma numpang. Eh malah curcol, geblek. Lagian emang Bobo rela apa keluarin duit, sementara Kompas Gramedia tempo hari isunya gonjang-ganjing karena medianya pada ditutup? Yah, salah satunya adalah wafatnya majalah Kawanku berganti versi online. Yang oplahnya setinggi Bola juga habis.

Cuma kenangan doang. Kangen gue sama Bobo. Salah satu yang gue cari kalo lagi di Tangerang dan bosen. Hampir setiap liburan, gue baca majalah Bobo terbaru punya adek gue. Apalagi edisi ulang tahun gini, gue pasti nanya bonusnya apaan. Kalo bonusnya jaket hoodie ya bisa tekor itu majalah, nggak mungkin. Tidak mungkin, tidak mungkin tidak mungkin (macam orang lagi suporteran).

Mau gue bawa buat dibaca di KRL, takut hilang dan takut lecek. Belum lagi kalo gue dimarahin sama sesama roker Tangerang-Duri, katanya sih bikin orang gak bisa masuk. Iya sih, gue bahkan kadang buka HP aja harus diangkat buat ngasih space orang masuk.

Dari dulu gue paling nunggu kalo ada majalah ini. Karena dulu SD gue deket rumah, gue nunggu tukang koran lewat rumah sekitar jam 6 buat lempar majalah Bobo. Terus dibaca-baca dan dibawa-bawa pergi. Emang dasar pemikiran anak SD. Hahahaha, ohiya gue juga merintis blog dari SMP, gak jauh dari lulus SD, tapi bukan langsung pake Blogger, pakai Wordpress. Sekarang ketika gue menulis di Seword, gue balik ke Wordpress.

Isinya jangan ditanya. Gue selalu merasa kurang, apalagi ketika gue beranjak SMP-SMA dan gue masih sering baca majalah ini. Ya, asal gue masih tiap hari di rumah. Dulu Bobo itu 60 halaman sekali terbit, kadang juga 68 halaman kalau editornya lagi rajin kali bikinnya. Isinya cerpen, dongeng, dan segalanya. Gue dulu baca Bobo dari era separo berwarna separo hitam putih asal tahu aja. Bobo itu baru 10 tahun menerapkan full color ke majalahnya, dari Februari 2007.

Pengetahuan, wah ini sih jelas mencerdaskan banget dan bikin gak bego amat, meski gue banyak yang udah lupa semakin ke sini. Nggak ngomongin yang panas-panas kayak koran kompos yang diboikot setengah ribu umat itu.... Pokoknya adem, mencerdaskan, dan pengetahuannya masuk kepala gitu lho.

Potret Negeriku, wah ini sih memang gila. Fulus Kompas Gramedia memang gede. Hahahaha. Mereka bisa sampai meliput langsung ke pedalaman Indonesia, ke tempat jauh, dan ini dibuktikan dengan credit foto: Foto: Ricky Martin. Beda dengan media online yang cuma comot foto kasarnya, ini Potret Negeriku niat banget cuyyy!!! Gue aja masih mikir dua kali buat keliling Indonesia, kota besar aja masih belum tergapai kasarnya hahahaha (doain ya, gue emang punya mimpi keliling Indonesia).

Bahkan dulu pernah ada majalahnya, semacam catatan perjalanan dari 1 kota begitu. Sayang, nggak bertahan lama, 2011 gak pernah kedengeran lagi. Patut diburu koleksinya, sebelum dipost pihak Bobo nanti di bobo.id


Cergam. Wah, this is a real legend. Bona, Rong-rong, Nirmala, Oki, Bobo, adalah tokoh dengan tingkat konsistensi super tinggi. Beberapa juga konsisten tapi pindah lapak aja, kayak Sirik Juwita pindah lapak ke Mombi. Kalau kalian sebut nama tokoh itu, atau sebut Bobo sahaja, pasti langsung rame deh nostalgia cergam ini. Haaaa, dulu gue kangen pernah baca majalah ini. Lah, fanpage Seword aja bisa beralih 180 derajat dari pulitik melulu jadi ngomongin si Bobo.

Apa lagi ya? Cerpen? Belakangan gue jarang baca, because I switched to my age. Tapi cerpen Bobo yang anak-anak emang gak ada matinya. Gue aja mau ngirim lupa mulu. Hahahaha lumayan cari tambahan honor hehehe.

Peran Majalah Bobo nggak usah diremehkan. Kalau ada sumbangan buku anak-anak, Bobo mendominasi. Karena gue dan orang lain mikirnya Bobo ini bahasannya ringan gak seberat buku pelajaran lah kasarnya. Bisa buat hiburan, tapi buat belajar pasti bisa dong. Memang banyak majalah lain jaman gue kecil, tapi itu entah ke mana semua. Bobo aja perlu gue knock door, eh ketuk pintu hati orang dulu melalui tulisan ini supaya sadar dan kalau bisa belikan Bobo buat anaknya.

Sampai majalah ini tutup, gue orang yang pasti nangis dan berbelasungkawa. Kalau perlu mendesak ke kantor Bobo supaya tidak ditutup majalahnya. Bisa didemo beneran tujuh juta umat ini, MASAK ANAK-ANAK KAMI TIDAK ADA BACAAN?????? Ya kali disuruh baca Kompas bocah umur 5 tahun, kecuali Kompas Anak.

Through I don't read Bobo as intense as my childhood. Tapi gw masih ada adek yang kecil, jauh bener gila (dan temen-temen kampus gue kaget pas tahu itu adek kandung). Masih langganan Bobo, eksplorasi dunianya dan menyiapkan diri ke arah dewasa (yaelaaah). Gue juga pasti masih baca Bobo dan baca perkembangannya, jangan sampai nanti sekarat kayak majalah lain. KASIHAN BOCAH GAK ADA BACAAN.

Dengan kondisi sekarang ada Bobo aja bocah-bocah masih bisa dipengaruhin dan di-stibet-kan, eh disesuatukan sehingga jadilah bocah bawa-bawa bendera organisasi radikal kayak H**, F**, F**. Bocah bukannya nyanyi lagu anak malah lagu dewasa. Sedih.

Apalagi gak ada? Masak mengandalkan gadget doang buat hiburan anak? Masak baca bacaan anak aja harus buka website, print dulu? Nggak efisien bro. Selain itu, malah tambah males baca. Anak-anak nggak ada bacaan murah, tahu sendiri print full color bikin duit cekak - Bobo juga pasti dibantu banget sama iklan itu.

Jangan sampai Bobo gulung tikar dan tak ada penggantinya versi cetak. Bahaya banget buat nasib anak-anak di negeri ini.



Bobo, teman bermain dan belajar. Be-o-be-o, BOBO!

Bagian satu (seword): https://seword.com/umum/anak-indonesia-tanpa-majalah-bobo/
Bagian tiga: https://www.kaskus.co.id/post/58f0ea4f12e257d3758b456f/1 
Bagian empat: http://www.kompasiana.com/misael/44-tahun-majalah-bobo-krisis-bacaan-anak_58f0f35eb09273a93facf441

Tulisan ini adalah bagian dari #1Tema4Tempat, tulisan gue tentang Majalah Bobo yang disesuaikan ke berbagai pangsa pasar dan berbagai mac...

0 comments:

Pengalaman 5 Tahun Kantin Cashless

2/04/2017 10:46:00 PM Sael 1 Comments

[TULISAN DIPINDAHKAN KE SAELZ.COM]

[TULISAN DIPINDAHKAN KE SAELZ.COM]

1 comments:

Gunakan Common Sense + Hati Kamu

1/26/2017 11:10:00 AM Sael 0 Comments



Akhir-akhir ini gue sering mendapatkan informasi dan selentingan sana-sini di mana ajakan bunuh, ajakan berantem, ajakan ribut, ajakan debat kusir, ajakan menghancurkan orang, dan yang ngeri-ngeri sedap lah pokoknya. Dalam hati gue, duh orang-orang macam gini nggak bisa diajak bercanda dikit apa ya? Nggak bisa diajak jauh sedikit dari politik dan ajakan menyerang orang ya? Ekspresi golongan tak punya hati itu tak ada humorisnya menurutku.

Akhir-akhir ini gue sering mendapatkan informasi dan selentingan sana-sini di mana ajakan bunuh, ajakan berantem, ajakan ribut, ajakan ...

0 comments:

Negara Kok Jadi Begini?

1/21/2017 07:33:00 AM Sael 5 Comments


Hari kemarin, ketika gue salah lihat tanggal debat Ahok, bersamaan juga ada topik yang bikin analisis lucu-lucu bertebaran di seluruh internet. Siapa lagi kalau bukan twit bapak itu. Gue gak bahas-bahas di Seword karena terlalu banyak om! Ya intinya gue mau membahas, benar juga kata Pepo Esbeye bahwa, kok negara jadi begini? Semua sejak negara Ahok menyerang.

Hari kemarin, ketika gue salah lihat tanggal debat Ahok, bersamaan juga ada topik yang bikin analisis lucu-lucu bertebaran di seluruh in...

5 comments:

Satu Indonesiaku, Lagu Wajib Dengar di 2017

1/18/2017 10:07:00 AM Sael 0 Comments


Sekarang Indonesia sedang dalam gonjang-ganjing. Beberapa sadar beberapa tidak sadar. Pemerintah menjadi jauh lebih responsif dengan kabar bohong/hoax. Kondisi di media sosial tidak lagi adem ayem, kecuali situ cari distraksi ke dunia hiburan. Percakapan sehari-hari pelan-pelan mulai memanas, terutama yang di Jabodetabek yang merasakan efek langsung Pilkada yang itu...

Sekarang Indonesia sedang dalam gonjang-ganjing. Beberapa sadar beberapa tidak sadar. Pemerintah menjadi jauh lebih responsif dengan ka...

0 comments:

Hewan-Hewan Politik: Asal-Usul Ejekan Kuda, Sapi, dll

1/15/2017 07:46:00 AM Sael 0 Comments


Sering dengar istilah (maaf) sapi, onta, kuda, atau apalah itu di kolom berita politik. Nggak blak-blakan pasti lah, biasanya kalau lagi komentar berita. Bah, suatu ketidakpatutan juga sih menyamakan oknum yang pasti manusia dengan hewan. Mohon maaf berarti dari gue sebagai sisi tukang sikat bidang politik dan "begitulah Seword, kura-kura!" kalau suka menggunakan hewan untuk menyindir suatu golongan, karena pola pikir mereka tidak jauh beda dengan hewan kadang. 

Kita itu manusia dan kita punya jalur pikiran waras sebagai manusia. Di luar itu, jalur pikiran kita ya... begitulah.

Nah, gue ingin sedikit kasihtau dan ingatkan dari mana semua asal-usul ejekan ke beberapa parpol, ke oknum tertentu. Apalagi bagi teman-teman yang belum lama berkecimpung membaca berita politik, pasti bingung, ini yang dimaksud sapi siapa, ini siapa.... Ya, let's get dat swag bro! Langsung aja ya.

Sapi
Istilah ini muncul dari ditangkapnya ketua umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq gara-gara korupsi daging sapi. Bapak LHI ini terseret gara-gara pengakuan Ahmad Fathanah, Penjaranya lumayan, 16 tahun :) http://www.voaindonesia.com/a/mantan-presiden-pks-divonis-16-tahun-penjara/1806711.html

Gara-gara kasus ini, apalagi setelah kasus orang PKS main cewek (si Fathonah), terkenallah istilah Cewek Phusthun (benar-benar istilah ghaib!). Gue sayangnya nggak mengulas ini di artikel tahun 2013, waktu kepikiran masang misael.id aja belom. Ini bukan yang paling parah....

Gara-gara ketua umumnya aja korupsi, ya jelas pada gak percaya lagi lah. Akhirnya ada pembunuhan karakter PKS oleh masyarakat lah. Plesetan Partai Korupsi Sapi mengemuka. Apalagi dengan sikap PKS yang tidak kunjung waras pula, ya udah deh. Setiap PKS bertindak, selalu diejek Sapi, Sapi, Sapi... Soalnya gara-gara kelakuan pemimpinnya yang sudah suka main sapi, main cewek lagi, seakan-akan dunia tidak berakhir hari ini om.

Kuda


Pada saat musim-musim Pilpres 2014, Prabowo terkenal sekali dengan main kuda-kudaan. Emang sih beliau punya kuda di Hambalang. Wajar juga memelihara kuda. Nah, yang bikin terkenal adalah selain Pak Prabowo ini politisi, beredar pula foto upacara Pak Prabowo, tandingannya pelantikan Jokowi. Udah deh, gara-gara diledek susah move on, padahal yang namanya upacara ya biasa aja... Kita juga gak tahu apa Bapak yang satu ini beneran susah move on...



Kerbau/Kebo

Nah yang ini menghantam bapak presiden mantan, eh mantan presiden kita. Pepo Memo. Di masa pemerintahan beliau part 2 yang sama bapak wapres tergabut nasional, ada skandal nama beliau ditulis di kerbau. Oke, masih mending itu, foto beliau dipasang di pantat kerbau oleh demonstran! Gue mendapatkan berita dari tahun 2010 http://politik.news.viva.co.id/news/read/126797-kerbau_si_bu_ya_nongol_di_facebook


Kalau kata orang tua, beda orang beda cara menanggapi masalah. Begitu juga lain SBY lain Jokowi. Jokowi dihina cenderung diam dan no response, begitu juga Gibran Kaesang Kahiyang. Malah dijadikan bercandaan. Ini salah satu penyebab di artikel gue sebelumnya nama Sari Roti semakin dikenal dan tajam di mesin pencari, malahan sempat gue bandingin lagi di Google Trends, hasilnya sama aja ramenya dengan aksi 212 itu sendiri! http://nasional.kini.co.id/2016/12/08/19022/ini-lelucon-anak-jokowi-soal-sari-roti-dan-metro-tv

SBY sih baperan, gue gak tahu kenapa. Apa karena ngerasa dia yang main di Century ya? Hmmm... Yang jelas sikap baperan ini gak baik ditiru kawan, apalagi sebagai pemimpin. Hahahaha.

Kodok, Kecebong



Nah, ini biasa dilontarkan dari para anti Jokowi, apalagi akun Topalemon Go, Boneka Kebo, dll... Ini hanya karena Jokowi memelihara kodok di Istana... Sedihnya, kodok Jokowi yang dibawa dari Solo jauh-jauh itu mati semua tahun 2014! http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/26/14042801/Ternyata.Kodok-kodok.Piaraan.Jokowi.Sudah.Mati.Semua

Dari sini Jokowi mulai diledek sama golongan sebelah susah move on. Apalagi mereka itu merasa mendapatkan wangsit, ah akhirnya gue bisa bales juga tuh yang ngejek-ngejek kuda. Apalagi kodok sering dikaitkan dengan intelegensia rendah. Padahal Jokowi pelihara kodok ya karena suka aja.... Sampai sekarang, golongan sebelah juga masih sering itu meledek Jokowi Kodok, ada juga yang mengejek Taik, berasal dari Kaskus kalau gak salah. 

Padahal golongan onoh juga kan yang bilang si Ahok suka banyak mulut kan sebelum kasus penistaan agama rame?

Onta


Ejekan ini udah dari tahun 2013 setau gue, berbarengan dengan PKS kena skandal fustun-fustun dan tentunya korupsi sapi. Ramenya berbarengan juga dengan pengejaan Arab (entah dari mana, gue gak ngerti bahasa Arab) yang gak bisa melafalkan "p". Jadinya fadang fasir, dll dll... Belum rame juga istilah Bahlul, yang sebelumnya udah terkenal gara-gara sinetron Islam KTP. Tujuannya tentu saja ke ormas yang onoh, FPI, yang pada saat itu mulai unjuk gigi. Kemudian, reda pada 2014-2015.

Pada tahun 2016, onta-ontaan ini rame lagi dibahas di media sosial, apalagi pasca Ahok kena skandal penistaan agama. Dari pihak yang tidak suka FPI dan antek-anteknya mulai menyamakan FPI dengan onta, sampai beredar istilah kaum onta, golongan onta, kaom onta, onta yang di Arab, dll dll. Apalagi si Habib Rizieq, Habib Novel, Gusjoy, dan segala pentolan sekalian muncul. Udah deh! Fanas serasa di fadang fasir!

Kebanyakan yang menggunakan istilah kaum onta tentunya nggak rasis sama Arab lah! Ngapain rasis sama Arab, Arab yang bener juga banyak, Arab yang cantik juga banyak. Istilah "kaum onta" menunjuk langsung ke golongan yang membawa ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila, tetapi otaknya terlihat seperti onta bukan manusia. Diajak debat tidak bisa selain menyerang dan menghancurkan lawan (maaf, strategi bocah tawuran itu bukan orang dewasa). Bahkan tidak menguasai apa yang diinginkannya, tetapi memaksakan kehendak, seperti robot. Sayangnya kekuatannya juga seperti onta, kuat banget (lu tahu kan unta kuat jalan berjam-jam di padang pasir?) sampai bisa membuat banyak orang ketar-ketir.

Hanya Tuhan yang bisa menyadarkan kaum onta ini akan kebenaran, dan mengubah otaknya menjadi kapasitas manusia bukan lagi onta...

Kambing

Selain istilah kambing hitam yang sangat menyakiti perasaan umat kambing di Indonesia, ternyata hewan ini juga terseret-seret gara-gara Ahok! Gara-gara

"Kambing dibedakin pun bisa jadi gubernur" http://megapolitan.kompas.com/read/2016/08/03/19295941/ahok.kambing.dibedakin.pun.bisa.jadi.gubernur
Percaya atau tidak, ungkapan Ahok ini terbukti pada saat debat tempo hari, saat Ahok menguliti Alexis-alexisan, apung-apung 10 milyar, dosen-dosenan, dan.... kelihatan lah ya yang mana yang kambing dibedakin. Nggak usah gue sebut, nanti gue mengundang fans mereka ke sini, berabe blog gue dibuatnya.

Anjing Babi

Itu sih udah makian yang sering terdengar sehari-hari apalagi di Ibukota ya... Gak usah dibahas deh, soalnya kata Dhani: Ingin berkata ....nya anjing, tapi tidak boleh! Sedihnya, kalau ada yang meledek onta-ontaan kok balasannya kaum babi, apa karena haram? Hmm... Kalau dibilang gitu sih bilang aja, "onta sama babi sama-sama binatang, bedanya cuma haram sama halal, secara intelegensia sama aja pasti namanya juga hewan, tapi dua-duanya dibiarkan hidup sama Tuhan kan?"

Dan kayaknya itu aja deh

Sebelum menutup dengan senang hati, gue mau ajak kalian baca dulu ulasan agak mirip tapi dari sudut pandang berbeda => http://www.kompasiana.com/paulodenoven/hewan-hewan-di-kancah-politik-indonesia-dari-kebo-hingga-kambing_57a5d4bb0bb0bde737bd2ce2 

Ya, makanya kalian jangan menyeret-nyeret hewan ke ranah politik, karena selain hewan tempatnya di kebun binatang dan peternakan, hmmm....

Sering dengar istilah (maaf) sapi, onta, kuda, atau apalah itu di kolom berita politik. Nggak blak-blakan pasti lah, biasanya kalau lagi...

0 comments:

Gue Mahasiswa, tapi Menolak "121"

1/12/2017 08:55:00 AM Sael 4 Comments



Ketika mendengar 121 ini, gue benar-benar terpancing menulis yang cukup keras, sebagai gejolak gue yang juga mahasiswa. Okelah, tuntutan konyol yang kurang dikaji mendalam tapi sudah rilis duluan ke masyarakat luas memang ada aja. Yang membuat gue emosi adalah ada yang ingin minta diadakan sidang istimewa yang ujungnya menjatuhkan Pakde. Grrrr. Artikel ini akan mengulas kenapa gue dan teman-teman nggak ikut-ikutan yang beginian.

Ketika mendengar 121 ini, gue benar-benar terpancing menulis yang cukup keras, sebagai gejolak gue yang juga mahasiswa. Okelah, tuntut...

4 comments:

Seruan Aksi 121, Penghinaan Terhadap PT Kereta Api Indonesia!

1/11/2017 05:59:00 AM Sael 0 Comments



Tulisan gue ini sengaja gak dimuat di Seword gara-gara emang mau pakai gaya bahasa sendiri. Raw, no censor, no "manipulation", no formalization, membuktikan gue juga menulis bisa kok ala kadarnya seperti sedang berbicara (santai atau...) dengan pendengarnya. 

Tulisan ini awalnya cuma mau nyindir sumbu pendek, tapi ya supaya tambah hot, kebetulan gue menemukan dari tulisan Om Denny Siregar di sini http://www.dennysiregar.com/2017/01/mahasiswa-cabe-cabean.html . Aksi 12 Januari, dinomorin lagi 121. Apalagi ini aksinya dimotori mahasiswa, sementara gue juga mahasiswa tapi ngeblog yang tidak macam-macam, politik ini hanya mengungkapkan kegelisahan hati. Tiba-tiba gue menatap nanar pada nomor aksinya. AH, GUE TAHU INI NOMOR TELEPON APA!!!



PERHATIKAN POJOK KANAN DEKAT PAK MARINIR!!!

Entah itu pemilik aksi dan penomor aksi tahu atau tidak fakta itu. Yang pasti, gue sebagai railfan juga merasa kesal, mengapa nomor telepon KAI-KCJ bisa digunakan untuk hal tidak bertanggung jawab? Ya kalau mereka tidak tahu, mereka gue ingatkan. Angka ini sudah sangat melekat di masyarakat terutama di perkotaan. Nomor telepon kereta api sudah termasuk salah satu nomor telepon paling diingat di Indonesia selain 110 (Pakpol), 112 (darurat nasional), 147 (Telkom), 123 (PLN), 118 (Ambulan), 161 (Pakpos), 14045, 14022, 500505, 140xy. Kalau angkatan tua dikit ingat 108, gue dulu waktu kecil pernah iseng nanya nomor telepon sodara lewat 108, juga dulu di Telkomsel 888 buat isi pulsa, LOL.

Ya, kurang lebih mengingatkan bahwa kombinasi angka yang bisa diingat manusia (2-4 digit) banyak makna pentingnya. Makanya aksi 212 bisa diejek aksi Wiro Sableng. Bahkan kaum onoh juga mengakuinya dalam semangat spirit 212 - nya. Boleh punya spirit aksi itu, tapi ya spirit apa dulu... kalau spirit bela negara oke, kalau bela yang anu, bermasalah dengan Pancasila, ya... hmmm...

Kan kalau aksi 121 ini dikait-kaitkan orang dengan kereta api - pasti ada dalam waktu dekat, pasti railfan banyak yang ngamuk, kok aksi-aksi tidak jelas seperti ini (tidak mungkin hanya menyerukan persatuan umat) mencemarkan nomor yang sudah identik dengan suatu perusahaan atau brand? Bahaya kalau nanti brand mereka kena marah orang, kena ledek. Apalagi kalau nanti pakai bikin klarifikasi macam Sari Roti.

Kasihan kalau branding PT KA bisa hancur dalam sekejap. Meskipun kereta api adalah kebutuhan pokok, yang di kota munafik kalau tidak butuh atau setidaknya berharap ada kereta api, ya... tapi... ada yang bodo amat lah ya. Oh iya aja ya kan.

Bagusnya sih, kalau nanti ada yang mengkafir-kafirkan PT KAI, jangan larangan naik kereta api aja yang diwujudkan (munafik sebenarnya kalau tidak butuh jasa kereta api di beberapa kota besar, kaum onoh aja sempat membanggakan pasukannya ada di CL pada hari demo 212). Keluarkan fatwa juga dong haram tinggal di bantaran rel kereta api, yang gak punya gusur-gusurin tuh kasih tempat tinggal di tanah kosong baru, kan masih banyak di Bodetabek. Kan pemerintah jadinya enak membebaskan tanah KAI yang sembarangan aja diserobot... Tapi pasti ngelesnya ada ajalah macam mengapa kaum onoh nggak mau meninggalkan FB, malu tuh bilang saya nafkahnya datang dari Facebook pak!

Ternyata artikel begini sudah siap tayang ya? Tinggal tambahin dikit.

Ya, pokoknya gue berpesan kepada yang mau melakukan aksi 121, ingatlah ada brand besar yang tergantung pada angka itu. Gue takut banget aksi ini jadi macem-macem, terlepas dari kebanyakan mahasiswa sekarang itu memang kurang kritis terhadap isu terkini dan memang malas turun ke jalan. Ingat jangan macam-macam pada saat aksi ini. Kalau perlu, jangan pakai provokator lah, suruh Jokowi maju mundur cantik bagaikan Syahrini, ngapain? Jadikan 121 ajang bicara saja, jangan ajang minta kekacauan gitu. Kalau kacau siapa yang senang? Pemodal. Kita gigit jari.

Begitulah kura-kura artikel yang gak lulus Seword pasti wkwkwk. Tetap pantau tulisan gue di Seword dan di sini!

Tulisan gue ini sengaja gak dimuat di Seword gara-gara emang mau pakai gaya bahasa sendiri. Raw, no censor, no "manipulation"...

0 comments:

Jangan Berhenti Berjuang

1/10/2017 08:25:00 AM Sael 1 Comments


Ini adalah artikel pertama di blog setelah sudah lama tidak diurus akibat sedang berlibur. Gue meliburkan blog ini 10 hari berarti... Memang badan yang lelah karena berlibur, ditambah gue juga terkena writer's block, belum gue yang mulai menulis di Seword setelah mendapatkan akses masuk tepat di akhir tahun (31 Desember 2016), membuat gue sempat kehilangan semangat buat menulis. Ditambah beberapa hal yang di luar kuasa gue juga, hmm.

Sudah mau 11 hari juga, artikel ini kelar sebelum tengah malam. Perjuangan juga. Kebetulan, artikel yang mau gue ketik bahas perjuangan juga.

Perjuangan menjadi hal luar biasa penting bagi bangsa kita sampai bagi kita sendiri. No free lunch bro, ingat kata pepatah. Apa-apa harus ada perjuangan dan pengorbanannya, bahkan untuk berbuat jahat sekalipun. Penjahat level garong saja harus rela kehilangan nama baik demi mendapat harta segambreng dan ketakutan di kalangan masyarakat. Bandit Senayan juga harus selalu berpikir bagaimana cara mendapatkan uang negara dengan licik dan untuk kekenyangan mereka sendiri, dengan mereka seenaknya sendiri merelakan kita yang rakyat jelata. Bahkan mahasiswa yang niat menyontek juga berjuang supaya aksinya gak ketahuan...

Tinggal perjuangan itu untuk hal apa. Baik atau buruk. Kalau perjuangannya untuk hal jelek semacam pemecah-belahan bangsa, berhentilah berjuang dan matilah.

Untuk semua pejuang positif, jangan pernah berhenti berjuang. Di manapun ranah kontribusimu, di manapun kamu berada, di manapun kamu belajar, di manapun dan kapanpun. Berjuanglah untuk hal positif. Berjuang melawan hal negatif karena itu sudah disuratkan Tuhan dalam kitab-kitabNya. 

Kelemahan kita tentunya adalah kita tidak tahu benar apakah perjuangan kita negatif apa positif. Tentunya, kita harus banyak berdoa dan belajar. Berdoa untuk meminta perlindungan dan petunjuk dari Tuhan, juga diberikan roh yang bersemangat positif. Belajar tentunya supaya kita tidak bodoh dan kita tahu apa yang kita perjuangkan, contohnya orang yang membela suatu tokoh karena bisa mempersatukan NKRI terlepas dari kekurangannya. Sekiranya hasil dari berdoa dan belajar menyadarkan perjuangan kita negatif, ya tentunya kita harus meninjau ulang apakah perjuangan kita sudah benar arahnya. Kalau salah ya betulkan atau batalkan saja kalau bahayanya keterlaluan, seperti memecah-belah bangsa atau merugikan kepentingan banyak orang.

Kalau perjuangannya sudah benar, teruskan! Sulit memang, apalagi kalau kamu memang tidak memulai di ranah yang tak disukai. Gue juga sering mengalami hal itu. Dalam mengelola blog, gue juga mengalami writer's block dan memang berjuang melawan keinginan gue berhenti menulis dengan keinginan menyelesaikan, karena gue juga tahu kali tulisan gue ini bisa mencerahkan banyak orang dan semoga saja sesuai dengan keinginan banyak orang. Lawan terus apa yang tidak kamu suka, pahami kelemahan lawanmu dan terjanglah segala hambatan. Semua pasti bisa, semua pasti berhasil!

Cara untuk berjuangnya terlalu banyak, cara mempertahankannya juga banyak, tetapi ada banyak kesamaan di cara mempertahankan. Penting banget loh membahas cara mempertahankan perjuangan ini. Ingat kan ungkapan bahwa orang hanya menyala di awal saja dan di akhirnya tidak jelas, ngambang kayak yang di kali.  Cara yang umum adalah mengingat perjuangan sebelumnya yang sama beratnya, seperti mengingat bagaimana perjuangan seorang anak kecil berjalan, membaca, meski gagal dan menangis. Cara itu mengingatkan bahwa natur manusia adalah berjuang, sayang memang rusak oleh sifat negatif yang bernama kemalasan - terlihatnya justru saat manusia tumbuh berkembang, entahlah. Cara lain adalah memaksakan diri, salah satunya tetap bekerja walau penelitian kesehatan menunjukkan tidak baik memaksakan diri bekerja, ingatlah kawan bahwa itu kalau keseringan, kalau sesekali mengapa tidak, asal tidak melebihi batas natural yang pasti juga sudah diteliti secara medis?

Apapun yang diperjuangkan, tetaplah bersabar, karena segala sesuatu memiliki progress dan tidak bisa seperti sulap. Ya, kecuali kalau tinggalnya di negeri impian bukan Jaya Ancol ya lain. Segala yang diperjuangkan memang akan lebih baik ketimbang dikerjakan asal-asalan. Banyak sekali buktinya itu.

Ah, kalau diteruskan, gue kayaknya banyak mengulang kata-kata normatif di situs motivasi. Biarlah gue mengisi ranah gue aja, nggak ke ranah orang, ya soalnya ngapain juga copas info. Selain merusak SEO, bisa membuat identitas hilang, diri sendiri hilang. Hmmm...

SELAMAT BERJUANG!


Ini adalah artikel pertama di blog setelah sudah lama tidak diurus akibat sedang berlibur. Gue meliburkan blog ini 10 hari berarti... M...

1 comments: