Gunakan Common Sense + Hati Kamu

1/26/2017 11:10:00 AM Sael 0 Comments



Akhir-akhir ini gue sering mendapatkan informasi dan selentingan sana-sini di mana ajakan bunuh, ajakan berantem, ajakan ribut, ajakan debat kusir, ajakan menghancurkan orang, dan yang ngeri-ngeri sedap lah pokoknya. Dalam hati gue, duh orang-orang macam gini nggak bisa diajak bercanda dikit apa ya? Nggak bisa diajak jauh sedikit dari politik dan ajakan menyerang orang ya? Ekspresi golongan tak punya hati itu tak ada humorisnya menurutku.

Akhir-akhir ini gue sering mendapatkan informasi dan selentingan sana-sini di mana ajakan bunuh, ajakan berantem, ajakan ribut, ajakan ...

0 comments:

Negara Kok Jadi Begini?

1/21/2017 07:33:00 AM Sael 5 Comments


Hari kemarin, ketika gue salah lihat tanggal debat Ahok, bersamaan juga ada topik yang bikin analisis lucu-lucu bertebaran di seluruh internet. Siapa lagi kalau bukan twit bapak itu. Gue gak bahas-bahas di Seword karena terlalu banyak om! Ya intinya gue mau membahas, benar juga kata Pepo Esbeye bahwa, kok negara jadi begini? Semua sejak negara Ahok menyerang.

Hari kemarin, ketika gue salah lihat tanggal debat Ahok, bersamaan juga ada topik yang bikin analisis lucu-lucu bertebaran di seluruh in...

5 comments:

Satu Indonesiaku, Lagu Wajib Dengar di 2017

1/18/2017 10:07:00 AM Sael 0 Comments


Sekarang Indonesia sedang dalam gonjang-ganjing. Beberapa sadar beberapa tidak sadar. Pemerintah menjadi jauh lebih responsif dengan kabar bohong/hoax. Kondisi di media sosial tidak lagi adem ayem, kecuali situ cari distraksi ke dunia hiburan. Percakapan sehari-hari pelan-pelan mulai memanas, terutama yang di Jabodetabek yang merasakan efek langsung Pilkada yang itu...

Sekarang Indonesia sedang dalam gonjang-ganjing. Beberapa sadar beberapa tidak sadar. Pemerintah menjadi jauh lebih responsif dengan ka...

0 comments:

Hewan-Hewan Politik: Asal-Usul Ejekan Kuda, Sapi, dll

1/15/2017 07:46:00 AM Sael 0 Comments


Sering dengar istilah (maaf) sapi, onta, kuda, atau apalah itu di kolom berita politik. Nggak blak-blakan pasti lah, biasanya kalau lagi komentar berita. Bah, suatu ketidakpatutan juga sih menyamakan oknum yang pasti manusia dengan hewan. Mohon maaf berarti dari gue sebagai sisi tukang sikat bidang politik dan "begitulah Seword, kura-kura!" kalau suka menggunakan hewan untuk menyindir suatu golongan, karena pola pikir mereka tidak jauh beda dengan hewan kadang. 

Kita itu manusia dan kita punya jalur pikiran waras sebagai manusia. Di luar itu, jalur pikiran kita ya... begitulah.

Nah, gue ingin sedikit kasihtau dan ingatkan dari mana semua asal-usul ejekan ke beberapa parpol, ke oknum tertentu. Apalagi bagi teman-teman yang belum lama berkecimpung membaca berita politik, pasti bingung, ini yang dimaksud sapi siapa, ini siapa.... Ya, let's get dat swag bro! Langsung aja ya.

Sapi
Istilah ini muncul dari ditangkapnya ketua umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq gara-gara korupsi daging sapi. Bapak LHI ini terseret gara-gara pengakuan Ahmad Fathanah, Penjaranya lumayan, 16 tahun :) http://www.voaindonesia.com/a/mantan-presiden-pks-divonis-16-tahun-penjara/1806711.html

Gara-gara kasus ini, apalagi setelah kasus orang PKS main cewek (si Fathonah), terkenallah istilah Cewek Phusthun (benar-benar istilah ghaib!). Gue sayangnya nggak mengulas ini di artikel tahun 2013, waktu kepikiran masang misael.id aja belom. Ini bukan yang paling parah....

Gara-gara ketua umumnya aja korupsi, ya jelas pada gak percaya lagi lah. Akhirnya ada pembunuhan karakter PKS oleh masyarakat lah. Plesetan Partai Korupsi Sapi mengemuka. Apalagi dengan sikap PKS yang tidak kunjung waras pula, ya udah deh. Setiap PKS bertindak, selalu diejek Sapi, Sapi, Sapi... Soalnya gara-gara kelakuan pemimpinnya yang sudah suka main sapi, main cewek lagi, seakan-akan dunia tidak berakhir hari ini om.

Kuda


Pada saat musim-musim Pilpres 2014, Prabowo terkenal sekali dengan main kuda-kudaan. Emang sih beliau punya kuda di Hambalang. Wajar juga memelihara kuda. Nah, yang bikin terkenal adalah selain Pak Prabowo ini politisi, beredar pula foto upacara Pak Prabowo, tandingannya pelantikan Jokowi. Udah deh, gara-gara diledek susah move on, padahal yang namanya upacara ya biasa aja... Kita juga gak tahu apa Bapak yang satu ini beneran susah move on...



Kerbau/Kebo

Nah yang ini menghantam bapak presiden mantan, eh mantan presiden kita. Pepo Memo. Di masa pemerintahan beliau part 2 yang sama bapak wapres tergabut nasional, ada skandal nama beliau ditulis di kerbau. Oke, masih mending itu, foto beliau dipasang di pantat kerbau oleh demonstran! Gue mendapatkan berita dari tahun 2010 http://politik.news.viva.co.id/news/read/126797-kerbau_si_bu_ya_nongol_di_facebook


Kalau kata orang tua, beda orang beda cara menanggapi masalah. Begitu juga lain SBY lain Jokowi. Jokowi dihina cenderung diam dan no response, begitu juga Gibran Kaesang Kahiyang. Malah dijadikan bercandaan. Ini salah satu penyebab di artikel gue sebelumnya nama Sari Roti semakin dikenal dan tajam di mesin pencari, malahan sempat gue bandingin lagi di Google Trends, hasilnya sama aja ramenya dengan aksi 212 itu sendiri! http://nasional.kini.co.id/2016/12/08/19022/ini-lelucon-anak-jokowi-soal-sari-roti-dan-metro-tv

SBY sih baperan, gue gak tahu kenapa. Apa karena ngerasa dia yang main di Century ya? Hmmm... Yang jelas sikap baperan ini gak baik ditiru kawan, apalagi sebagai pemimpin. Hahahaha.

Kodok, Kecebong



Nah, ini biasa dilontarkan dari para anti Jokowi, apalagi akun Topalemon Go, Boneka Kebo, dll... Ini hanya karena Jokowi memelihara kodok di Istana... Sedihnya, kodok Jokowi yang dibawa dari Solo jauh-jauh itu mati semua tahun 2014! http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/26/14042801/Ternyata.Kodok-kodok.Piaraan.Jokowi.Sudah.Mati.Semua

Dari sini Jokowi mulai diledek sama golongan sebelah susah move on. Apalagi mereka itu merasa mendapatkan wangsit, ah akhirnya gue bisa bales juga tuh yang ngejek-ngejek kuda. Apalagi kodok sering dikaitkan dengan intelegensia rendah. Padahal Jokowi pelihara kodok ya karena suka aja.... Sampai sekarang, golongan sebelah juga masih sering itu meledek Jokowi Kodok, ada juga yang mengejek Taik, berasal dari Kaskus kalau gak salah. 

Padahal golongan onoh juga kan yang bilang si Ahok suka banyak mulut kan sebelum kasus penistaan agama rame?

Onta


Ejekan ini udah dari tahun 2013 setau gue, berbarengan dengan PKS kena skandal fustun-fustun dan tentunya korupsi sapi. Ramenya berbarengan juga dengan pengejaan Arab (entah dari mana, gue gak ngerti bahasa Arab) yang gak bisa melafalkan "p". Jadinya fadang fasir, dll dll... Belum rame juga istilah Bahlul, yang sebelumnya udah terkenal gara-gara sinetron Islam KTP. Tujuannya tentu saja ke ormas yang onoh, FPI, yang pada saat itu mulai unjuk gigi. Kemudian, reda pada 2014-2015.

Pada tahun 2016, onta-ontaan ini rame lagi dibahas di media sosial, apalagi pasca Ahok kena skandal penistaan agama. Dari pihak yang tidak suka FPI dan antek-anteknya mulai menyamakan FPI dengan onta, sampai beredar istilah kaum onta, golongan onta, kaom onta, onta yang di Arab, dll dll. Apalagi si Habib Rizieq, Habib Novel, Gusjoy, dan segala pentolan sekalian muncul. Udah deh! Fanas serasa di fadang fasir!

Kebanyakan yang menggunakan istilah kaum onta tentunya nggak rasis sama Arab lah! Ngapain rasis sama Arab, Arab yang bener juga banyak, Arab yang cantik juga banyak. Istilah "kaum onta" menunjuk langsung ke golongan yang membawa ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila, tetapi otaknya terlihat seperti onta bukan manusia. Diajak debat tidak bisa selain menyerang dan menghancurkan lawan (maaf, strategi bocah tawuran itu bukan orang dewasa). Bahkan tidak menguasai apa yang diinginkannya, tetapi memaksakan kehendak, seperti robot. Sayangnya kekuatannya juga seperti onta, kuat banget (lu tahu kan unta kuat jalan berjam-jam di padang pasir?) sampai bisa membuat banyak orang ketar-ketir.

Hanya Tuhan yang bisa menyadarkan kaum onta ini akan kebenaran, dan mengubah otaknya menjadi kapasitas manusia bukan lagi onta...

Kambing

Selain istilah kambing hitam yang sangat menyakiti perasaan umat kambing di Indonesia, ternyata hewan ini juga terseret-seret gara-gara Ahok! Gara-gara

"Kambing dibedakin pun bisa jadi gubernur" http://megapolitan.kompas.com/read/2016/08/03/19295941/ahok.kambing.dibedakin.pun.bisa.jadi.gubernur
Percaya atau tidak, ungkapan Ahok ini terbukti pada saat debat tempo hari, saat Ahok menguliti Alexis-alexisan, apung-apung 10 milyar, dosen-dosenan, dan.... kelihatan lah ya yang mana yang kambing dibedakin. Nggak usah gue sebut, nanti gue mengundang fans mereka ke sini, berabe blog gue dibuatnya.

Anjing Babi

Itu sih udah makian yang sering terdengar sehari-hari apalagi di Ibukota ya... Gak usah dibahas deh, soalnya kata Dhani: Ingin berkata ....nya anjing, tapi tidak boleh! Sedihnya, kalau ada yang meledek onta-ontaan kok balasannya kaum babi, apa karena haram? Hmm... Kalau dibilang gitu sih bilang aja, "onta sama babi sama-sama binatang, bedanya cuma haram sama halal, secara intelegensia sama aja pasti namanya juga hewan, tapi dua-duanya dibiarkan hidup sama Tuhan kan?"

Dan kayaknya itu aja deh

Sebelum menutup dengan senang hati, gue mau ajak kalian baca dulu ulasan agak mirip tapi dari sudut pandang berbeda => http://www.kompasiana.com/paulodenoven/hewan-hewan-di-kancah-politik-indonesia-dari-kebo-hingga-kambing_57a5d4bb0bb0bde737bd2ce2 

Ya, makanya kalian jangan menyeret-nyeret hewan ke ranah politik, karena selain hewan tempatnya di kebun binatang dan peternakan, hmmm....

Sering dengar istilah (maaf) sapi, onta, kuda, atau apalah itu di kolom berita politik. Nggak blak-blakan pasti lah, biasanya kalau lagi...

0 comments:

Gue Mahasiswa, tapi Menolak "121"

1/12/2017 08:55:00 AM Sael 4 Comments



Ketika mendengar 121 ini, gue benar-benar terpancing menulis yang cukup keras, sebagai gejolak gue yang juga mahasiswa. Okelah, tuntutan konyol yang kurang dikaji mendalam tapi sudah rilis duluan ke masyarakat luas memang ada aja. Yang membuat gue emosi adalah ada yang ingin minta diadakan sidang istimewa yang ujungnya menjatuhkan Pakde. Grrrr. Artikel ini akan mengulas kenapa gue dan teman-teman nggak ikut-ikutan yang beginian.

Ketika mendengar 121 ini, gue benar-benar terpancing menulis yang cukup keras, sebagai gejolak gue yang juga mahasiswa. Okelah, tuntut...

4 comments:

Seruan Aksi 121, Penghinaan Terhadap PT Kereta Api Indonesia!

1/11/2017 05:59:00 AM Sael 0 Comments



Tulisan gue ini sengaja gak dimuat di Seword gara-gara emang mau pakai gaya bahasa sendiri. Raw, no censor, no "manipulation", no formalization, membuktikan gue juga menulis bisa kok ala kadarnya seperti sedang berbicara (santai atau...) dengan pendengarnya. 

Tulisan ini awalnya cuma mau nyindir sumbu pendek, tapi ya supaya tambah hot, kebetulan gue menemukan dari tulisan Om Denny Siregar di sini http://www.dennysiregar.com/2017/01/mahasiswa-cabe-cabean.html . Aksi 12 Januari, dinomorin lagi 121. Apalagi ini aksinya dimotori mahasiswa, sementara gue juga mahasiswa tapi ngeblog yang tidak macam-macam, politik ini hanya mengungkapkan kegelisahan hati. Tiba-tiba gue menatap nanar pada nomor aksinya. AH, GUE TAHU INI NOMOR TELEPON APA!!!



PERHATIKAN POJOK KANAN DEKAT PAK MARINIR!!!

Entah itu pemilik aksi dan penomor aksi tahu atau tidak fakta itu. Yang pasti, gue sebagai railfan juga merasa kesal, mengapa nomor telepon KAI-KCJ bisa digunakan untuk hal tidak bertanggung jawab? Ya kalau mereka tidak tahu, mereka gue ingatkan. Angka ini sudah sangat melekat di masyarakat terutama di perkotaan. Nomor telepon kereta api sudah termasuk salah satu nomor telepon paling diingat di Indonesia selain 110 (Pakpol), 112 (darurat nasional), 147 (Telkom), 123 (PLN), 118 (Ambulan), 161 (Pakpos), 14045, 14022, 500505, 140xy. Kalau angkatan tua dikit ingat 108, gue dulu waktu kecil pernah iseng nanya nomor telepon sodara lewat 108, juga dulu di Telkomsel 888 buat isi pulsa, LOL.

Ya, kurang lebih mengingatkan bahwa kombinasi angka yang bisa diingat manusia (2-4 digit) banyak makna pentingnya. Makanya aksi 212 bisa diejek aksi Wiro Sableng. Bahkan kaum onoh juga mengakuinya dalam semangat spirit 212 - nya. Boleh punya spirit aksi itu, tapi ya spirit apa dulu... kalau spirit bela negara oke, kalau bela yang anu, bermasalah dengan Pancasila, ya... hmmm...

Kan kalau aksi 121 ini dikait-kaitkan orang dengan kereta api - pasti ada dalam waktu dekat, pasti railfan banyak yang ngamuk, kok aksi-aksi tidak jelas seperti ini (tidak mungkin hanya menyerukan persatuan umat) mencemarkan nomor yang sudah identik dengan suatu perusahaan atau brand? Bahaya kalau nanti brand mereka kena marah orang, kena ledek. Apalagi kalau nanti pakai bikin klarifikasi macam Sari Roti.

Kasihan kalau branding PT KA bisa hancur dalam sekejap. Meskipun kereta api adalah kebutuhan pokok, yang di kota munafik kalau tidak butuh atau setidaknya berharap ada kereta api, ya... tapi... ada yang bodo amat lah ya. Oh iya aja ya kan.

Bagusnya sih, kalau nanti ada yang mengkafir-kafirkan PT KAI, jangan larangan naik kereta api aja yang diwujudkan (munafik sebenarnya kalau tidak butuh jasa kereta api di beberapa kota besar, kaum onoh aja sempat membanggakan pasukannya ada di CL pada hari demo 212). Keluarkan fatwa juga dong haram tinggal di bantaran rel kereta api, yang gak punya gusur-gusurin tuh kasih tempat tinggal di tanah kosong baru, kan masih banyak di Bodetabek. Kan pemerintah jadinya enak membebaskan tanah KAI yang sembarangan aja diserobot... Tapi pasti ngelesnya ada ajalah macam mengapa kaum onoh nggak mau meninggalkan FB, malu tuh bilang saya nafkahnya datang dari Facebook pak!

Ternyata artikel begini sudah siap tayang ya? Tinggal tambahin dikit.

Ya, pokoknya gue berpesan kepada yang mau melakukan aksi 121, ingatlah ada brand besar yang tergantung pada angka itu. Gue takut banget aksi ini jadi macem-macem, terlepas dari kebanyakan mahasiswa sekarang itu memang kurang kritis terhadap isu terkini dan memang malas turun ke jalan. Ingat jangan macam-macam pada saat aksi ini. Kalau perlu, jangan pakai provokator lah, suruh Jokowi maju mundur cantik bagaikan Syahrini, ngapain? Jadikan 121 ajang bicara saja, jangan ajang minta kekacauan gitu. Kalau kacau siapa yang senang? Pemodal. Kita gigit jari.

Begitulah kura-kura artikel yang gak lulus Seword pasti wkwkwk. Tetap pantau tulisan gue di Seword dan di sini!

Tulisan gue ini sengaja gak dimuat di Seword gara-gara emang mau pakai gaya bahasa sendiri. Raw, no censor, no "manipulation"...

0 comments:

Jangan Berhenti Berjuang

1/10/2017 08:25:00 AM Sael 1 Comments


Ini adalah artikel pertama di blog setelah sudah lama tidak diurus akibat sedang berlibur. Gue meliburkan blog ini 10 hari berarti... Memang badan yang lelah karena berlibur, ditambah gue juga terkena writer's block, belum gue yang mulai menulis di Seword setelah mendapatkan akses masuk tepat di akhir tahun (31 Desember 2016), membuat gue sempat kehilangan semangat buat menulis. Ditambah beberapa hal yang di luar kuasa gue juga, hmm.

Sudah mau 11 hari juga, artikel ini kelar sebelum tengah malam. Perjuangan juga. Kebetulan, artikel yang mau gue ketik bahas perjuangan juga.

Perjuangan menjadi hal luar biasa penting bagi bangsa kita sampai bagi kita sendiri. No free lunch bro, ingat kata pepatah. Apa-apa harus ada perjuangan dan pengorbanannya, bahkan untuk berbuat jahat sekalipun. Penjahat level garong saja harus rela kehilangan nama baik demi mendapat harta segambreng dan ketakutan di kalangan masyarakat. Bandit Senayan juga harus selalu berpikir bagaimana cara mendapatkan uang negara dengan licik dan untuk kekenyangan mereka sendiri, dengan mereka seenaknya sendiri merelakan kita yang rakyat jelata. Bahkan mahasiswa yang niat menyontek juga berjuang supaya aksinya gak ketahuan...

Tinggal perjuangan itu untuk hal apa. Baik atau buruk. Kalau perjuangannya untuk hal jelek semacam pemecah-belahan bangsa, berhentilah berjuang dan matilah.

Untuk semua pejuang positif, jangan pernah berhenti berjuang. Di manapun ranah kontribusimu, di manapun kamu berada, di manapun kamu belajar, di manapun dan kapanpun. Berjuanglah untuk hal positif. Berjuang melawan hal negatif karena itu sudah disuratkan Tuhan dalam kitab-kitabNya. 

Kelemahan kita tentunya adalah kita tidak tahu benar apakah perjuangan kita negatif apa positif. Tentunya, kita harus banyak berdoa dan belajar. Berdoa untuk meminta perlindungan dan petunjuk dari Tuhan, juga diberikan roh yang bersemangat positif. Belajar tentunya supaya kita tidak bodoh dan kita tahu apa yang kita perjuangkan, contohnya orang yang membela suatu tokoh karena bisa mempersatukan NKRI terlepas dari kekurangannya. Sekiranya hasil dari berdoa dan belajar menyadarkan perjuangan kita negatif, ya tentunya kita harus meninjau ulang apakah perjuangan kita sudah benar arahnya. Kalau salah ya betulkan atau batalkan saja kalau bahayanya keterlaluan, seperti memecah-belah bangsa atau merugikan kepentingan banyak orang.

Kalau perjuangannya sudah benar, teruskan! Sulit memang, apalagi kalau kamu memang tidak memulai di ranah yang tak disukai. Gue juga sering mengalami hal itu. Dalam mengelola blog, gue juga mengalami writer's block dan memang berjuang melawan keinginan gue berhenti menulis dengan keinginan menyelesaikan, karena gue juga tahu kali tulisan gue ini bisa mencerahkan banyak orang dan semoga saja sesuai dengan keinginan banyak orang. Lawan terus apa yang tidak kamu suka, pahami kelemahan lawanmu dan terjanglah segala hambatan. Semua pasti bisa, semua pasti berhasil!

Cara untuk berjuangnya terlalu banyak, cara mempertahankannya juga banyak, tetapi ada banyak kesamaan di cara mempertahankan. Penting banget loh membahas cara mempertahankan perjuangan ini. Ingat kan ungkapan bahwa orang hanya menyala di awal saja dan di akhirnya tidak jelas, ngambang kayak yang di kali.  Cara yang umum adalah mengingat perjuangan sebelumnya yang sama beratnya, seperti mengingat bagaimana perjuangan seorang anak kecil berjalan, membaca, meski gagal dan menangis. Cara itu mengingatkan bahwa natur manusia adalah berjuang, sayang memang rusak oleh sifat negatif yang bernama kemalasan - terlihatnya justru saat manusia tumbuh berkembang, entahlah. Cara lain adalah memaksakan diri, salah satunya tetap bekerja walau penelitian kesehatan menunjukkan tidak baik memaksakan diri bekerja, ingatlah kawan bahwa itu kalau keseringan, kalau sesekali mengapa tidak, asal tidak melebihi batas natural yang pasti juga sudah diteliti secara medis?

Apapun yang diperjuangkan, tetaplah bersabar, karena segala sesuatu memiliki progress dan tidak bisa seperti sulap. Ya, kecuali kalau tinggalnya di negeri impian bukan Jaya Ancol ya lain. Segala yang diperjuangkan memang akan lebih baik ketimbang dikerjakan asal-asalan. Banyak sekali buktinya itu.

Ah, kalau diteruskan, gue kayaknya banyak mengulang kata-kata normatif di situs motivasi. Biarlah gue mengisi ranah gue aja, nggak ke ranah orang, ya soalnya ngapain juga copas info. Selain merusak SEO, bisa membuat identitas hilang, diri sendiri hilang. Hmmm...

SELAMAT BERJUANG!


Ini adalah artikel pertama di blog setelah sudah lama tidak diurus akibat sedang berlibur. Gue meliburkan blog ini 10 hari berarti... M...

1 comments: