Sehari dengan Berita Positif

12/31/2017 08:43:00 AM Sael 0 Comments

Tulisan ini gue jamin agak susah laku dibanding dengan topik radio, soalnya blog ini gue belokin jadi niche-market - all about radio stations. Namun, blog ini juga bisa jadi curahan hati gue dong hahahaha.

Memasuki Hari Natal, gue benar-benar nggak mempost berita tentang politik dan yang terkait bikin ribut selama dua hari. Komen juga nggak di semua lini medsos. Gencatan senjata dulu, stop komen-komen nyinyir dan nyitir selama dua hari. 25 Desember karena hari Natal. 26 Desember sekalian menghargai teman-teman dan saudara-saudara kita di Aceh yang 13 tahun lagi diterpa tsunami. Keduanya nggak cocok jadi ajang berkelahi nasional. 

Nggak cuma dengan mewujudkan perdamaian sejenak dan nggak ngapa-ngapain akhirnya. Namun, ada satu yang perlu diangkat. Berita-berita positif di Indonesia. Indonesia ya, bukan berita copas nyadur situs luar. 

Siapa Penulis Berita Positif?

Selama ini kita punya GNFI dan Indonesia Happy punya Detikcom. IDNTimes juga sering memberitakan hal-hal bagus dan kocak di Indonesia, di luar tema jomblowan-jomblowati yang sudah basi. Media biasa juga sering ah, cuma yang diklik semacam Via Vallen tembus sekian juta, Tak Tun Tuang viral luar negeri, mahasiswa UI ke luar negeri, Ryan Jombang sudah insaf. It ain't enough!

Juga, mereka nggak bisa sendiri. Bahkan dengan share GNFI dan sahabatnya. Bahkan dengan kantor GNFI yang di Surabaya, sepertinya sengaja untuk menghindari panasnya politik Ibukota. Bahkan mungkin dengan cukup bebasnya kita berkirim berita ke situ.

Cerita Rakyat Indonesia

Entahlah. Gue berpikir untuk mendengarkan sejumlah cerita dari supir Grab-Gojek-Uber yang tetap ceria walaupun narik belum tentu dapat orderan lagi. Ibu-ibu warteg dekat kampus yang senyumnya bikin pembeli mau makan lagi di situ, bahkan lupa selama 3 hari berturut-turut makan siang di situ terus. Senyuman ibu-ibu bawa anak di Commuter Line, meski sebenarnya habis menahan marah gara-gara nggak dikasih duduk sama anak-anak muda.

Fangirl Korea yang nggak ngerti politik tapi mau kontribusi buat negeri dengan menekuni bidang kerjanya dia dengan serius. Anak-anak yang lari-larian dan semangat belajar, padahal nggak tahu besok mau makan apa atau tinggal di mana. Penyiar radio yang menebarkan optimisme tiap pagi lewat siaran, padahal mereka belum tentu mood buat siaran di hari itu. Mbak-mbak minimarket yang habis risih digodain mas-mas tengil dan kesal karena dipalakin sama pengemis (ini serius ada di deket rumah gue), tapi tetap tersenyum ke bapak-bapak yang sebelumnya habis dimarahi bosnya lewat telepon.

So much stories come from them. Banyak cerita yang bisa digali tentang indahnya Indonesia, bahkan dari temanmu sendiri!

Yeay, second platform that I have, Twisctre , akan fokus memberitakan cerita-cerita baik dan pengetahuan berfaedah bagi bangsa Indonesia. Ya ujungnya promosi kan ya! Hahahaha. 

Just click it on twisctre.com ! The blog will soon be updated, maaf kemarin gue tinggal lama karena beban akademis..... Ke depannya ada kemungkinan gue sinergiskan dengan Teknika FTUI, tentunya dengan aturan yang ada, gue ngiklan lah di Koran Biru dan sejenisnya! Hahahaha.

Tentu berita-berita positif harus diimbangi berita negatif macam rampok, begal, korup, dan manuver politik nggak jelas itu. Mau balik ke jaman (hmm), di mana ada yang mengaku baru tahu berita DOM Aceh setelah Reformasi? 

Tulisan ini gue jamin agak susah laku dibanding dengan topik radio, soalnya blog ini gue belokin jadi niche-market - all about radio stat...

0 comments:

Call Sign Radio FM Satu Bandung

12/15/2017 08:28:00 AM Sael 0 Comments

Sudah tahu apa belum call sign? Call sign adalah suatu identitas yang membedakan suatu radio dengan radio yang lain. Nama panggil ini juga berfungsi mengidentifikasi legalitas suatu stasiun radio. Selain itu, callsign juga bisa melacak terjadinya perpindahan kepemilikan, karena callsign di Indonesia tidak akan berubah sekalipun diakuisisi beberapa kali pun.

Ya, mungkin radio kita akan ganti callsign kalau zaman-zaman DAB.... PM2D** gitu kali ya heheheh (semoga belum diambil institusi lain). RRI juga diberikan callsign hehehehe, juga kalau bisa ya callsign radio Ibukota boleh pilih. Karena pada sejarahnya pergantian callsign di Indonesia terjadi karena perpindahan dari AM ke FM.

Contohnya, kalau ada Hits FM Jakarta sama Hits FM Bandung, gimana cara bedainnya? Dengan callsign! 96.7 Hits FM Jakarta (almarhum, kabarnya mau reborn) PM2FBV dan Hits Radio Bandung PM3FHO.

Langsung aja ya.

Radio yang kosong di bagian kolom ketiga (korporasi/jaringan) artinya dia independen

Callsign untuk semua radio komersial adalah PM(2-9), untuk Jabar dan Banten PM3F (FM) dan PM3B (AM)

87.7 Hard Rock Bandung - PM3FXI - MRA
88.1 Studioeast - PM3FHW - Swaragama Group
88.5 Mora - PM3FMB
88.9 Auto Radio - PM3FMM
89.3 Elshinta - PM3FXH - Elshinta Group
89.7 Global - PM3FRN - MNC
90.1 Zora - PM3FSU - Yayasan Pendidikan Telkom
90.5 Cakra - PM3FXQ - Ardan Group
90.9 Lita FM - PM3FSO
91.3 MNC Trijaya FM - PM3FMK - MNC
91.7 INB - PM3FMH
92.1 Meisheng - PM3FXB
92.5 Maestro - PM3FSK - salah satu gereja di daerah sekitarnya
92.9 AR Cimahi - PM3F__
93.3 Sonora - PM3FXF - Kompas Gramedia
93.7 Paramuda - PM3FSC
94.0 Radio Sonata - PM3F__ - Pemkot Bandung
94.4 Delta FM - PM3FJJ - Masima
94.8 Fit Radio - PM3FXR - Elshinta Group
95.2 Bandung Radio - PM3FXE - Etnikom
95.6 Radio B - PM3FJI - Ardan Group
96.0 RRI Pro 2 - no callsign sesuai peraturan, karena bukan radio swasta
96.4 - PM3FXO - Persib (dulu radio Bobotoh, namun sejak 2016 menggunakan nama on air "96.4 FM"
96.8 Kencana - PM3FXG
97.2 New Shinta - PM3FBS
97.6 RRI Pro 1 - no callsign
98.0 Mayanada Soreang - PM3FML
98.4 Prambors - PM3FXJ - Masima
98.8 Raka - PM3FSB - Kompas Gramedia
99.2 Mom And Kids Radio - PM3FMJ
99.6 Thomson - PM3FBW
100.0 Play 99ers - PM3FXP - jaringan di Jakarta jadi Virgin Radio
100.4 KLCBS - PM3FHA
100.7 GRG - (?) - sekarang jadi RSPD
101.1 MGT Radio - PM3FHE - Teman Sejati (Radio Elgangga)
101.5 Dahlia FM - PM3FHV -  Dahlia Group
101.9 Cosmo FM - PM3FSQ - lepas dari group Ardan sekitar 2012
102.3 Rase - PM3FHH - afiliasi pengelolaan dengan Masima
102.7 MQFM - PM3FRT - Aa Gym, MQ Group yang membawahi 92.3 Jogja
103.1 Oz Radio - PM3FHD - Oz Group (di kota-kota lain)
103.5 Chevy - PM3FHM
103.9 Hits Radio - PM3FHO - Dahlia Group
104.3 blank, ex UFM - PM3FHP - masih menunggu kabar terkait akuisisi, kemungkinan digunakan untuk "rumah baru" Auto Radio karena 88.8 akan digunakan RRI Pro 3
104.7 Rama FM - PM3FBQ - Rama Group
105.1 I Radio - PM3FXU - MRA
105.5 Garuda - PM3FHR
105.9 Ardan - PM3FHI
106.3 Urban Radio - PM3FHX - Urban Radio Network (di Bali, jaringan di Jakarta (RKM) jadi 99.5 Smooth FM)
106.7 Mara FM - PM3FHQ
107.1 KLite - PM3FHO - Yayasan Telkom
107.5 PRFM - PM3FHZ - Koran Pikiran Rakyat

Peluang Akuisisi (bonus)
106.7 99.6 100.7 103.5 104.3 89.7 88.5 91.7 92.9

Calon Grup yang Akan Masuk di 2018
Mahaka Group ("Gen FM Bandung", "Hot FM Bandung") (sudah dikonfirmasi ke media massa)
MPG Group (berpeluang)
CPP Radionet (comeback Pas FM?)

Sudah tahu apa belum call sign? Call sign adalah suatu identitas yang membedakan suatu radio dengan radio yang lain. Nama panggil ini juga b...

0 comments:

#RadioGueMati - Terserah Dengar Radio Apa, Jaga Frekuensi Radio Kewajiban Semua WNI

12/11/2017 08:04:00 AM Sael 0 Comments

Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yang sering dipepet sama radio-radio kampung nggak jelas, sepertinya demikian.

Kampanye #RadioGueMati adalah sebuah panggilan, baik praktisi radio, pendengar Spotify setiap hari sampai 2017 wrapped mencapai di atas 50 ribu menit, bahwa begitu pentingnya radio FM. Mematikan radio selama 5 menit saja akibatnya gawat, bukan sekedar ke kedekatan dengan penyiar, namun bisa berakibat fatal kalau yang dimatikan adalah information center.

Bukan hanya masalah nafkah orang ya. Bukan juga masalah "ah gue anak Spotify, mana peduli gue sama siaran radio." Ingatlah bahwa di tahun 1980an pasti ada segelintir orang yang nggak pernah atau jarang dengar radio karena terbuai enaknya koleksi tape dari minjem temen atau mampu beli sendiri. Silakan tanya ke kolektor tape dan piringan, yang udah bisa bikin radio sendiri ya, jangan yang koleksinya cuma satu rak kaset doang.

Dananya nggak kecil buat beli koleksi segitu banyak, dan rasanya seorang yang mendapatkan tape dari hasil nyolong juga nggak akan sampai satu dua lemari perpustakaan.

Soal berita, ya jaman dulu juga saingannya sama koran dan VHS. Kalau tahun 70 ke bawah, rakyatnya yang nggak kuat dana beli radio, sehingga nggak setiap hari bisa dengerin. Akhirnya minjem punya Pak RT atau wong tajir. Zaman now, tantangannya juga mirip ah.

Menjaga frekuensi radio dari tangan jahil udah termasuk kategori bela negara dan mempertahankan teritori NKRI bahkan. 

Frekuensi Radio Adalah SDA

Frekuensi radio bukan fenomena buatan manusia. Ingat itu, itu karunia dari Tuhan! Hanya memang cara mendapatkan frekuensi radio seperti emas, tidak melalui cara-cara mekanis alamiah, layaknya kita memetik bunga di kebun atau panen padi. 

Frekuensi radio nggak akan pernah hilang selama ilmu untuk mendapatkannya masih dikuasai orang. Selama fisika gelombang elektromagnetik dan beberapa kuliah yang jadi spesialis Teknik Elektro itu masih diajarin, ya akan tetap ada terus.

Radio Mirip Jual Beli Tanah

Konsep frekuensi radio ini hampir sama dengan jual beli tanah bangunan. Dalam jual beli tanah kan dikenal yang namanya tukang serobot tanah orang, penghuni liar, dan pengguna berizin. Dikenal juga satu tanah yang punya atas nama dua orang, itu namanya sengketa.

Ketika frekuensi radio ditinggalkan sebuah radio FM, katakan radio RRI pindah frekuensi lalu frekuensi tersebut jadi kosong. Frekuensinya akan tetap ada bukan? Nah, tiba 3 orang yang akhirnya menggunakan frekuensi tersebut secara berurutan.

Pengguna satu kayak orang yang suka main bikin bedeng di pinggir kali Ibukota. Frekuensi bekas RRI itu diserobot dan udah nggak izin dulu ke Postel dan KPI, langsung disikat digunakan begitu aja. Permasalahan lain adalah kualitas pemancarnya jelek sehingga radio lain, bahkan gawatnya penerbangan kalau di frekuensi 107.7-108, akan terganggu.

Pengguna dua sudah izin nih, sudah dikasih izin juga sama Postel, KPI, dan PRSSNI (persatuan radio swasta). Radio ini tapi akhirnya penggunaan menyeleweng. Suka dibiarkan dead air atau nggak ada yang siaran, sekalinya siaran dipakai buat yang nggak-nggak kayak mengajak permusuhan umat beragama, menghina suporter bola tetangga sampai bisa bikin tawuran, dll. 

Pengguna tiga izinnya lengkap, alim - dengan tidak menggunakan radio sembarangan seenak jidat. Hanya kekurangannya ya dalam penanganan konten yang "itu-itu aja", "khas radio zaman now", "bosenin". Lalu dimarahi pendengarnya di masa depan, akhirnya rebranding jadi fokus ke satu pasar.

Kamu pilih RRI mengalihkan penggunaan radio ke orang yang mana? Gue mah orang ketiga. Macam lagu HiVi hahaha.

Jaga Frekuensi Radio Itu Wajib

Terserah kamu mau dengar radio apa. Nggak suka radio juga nggak masalah. Kaum kontra radio akan selalu begitu, sudah dari zaman CD beredar. Hanya di zaman now, dengan terjangkaunya Spotify dan miripnya radio dengan Spotify (entah siapa niru siapa) maka banyak yang akhirnya beralih. Pilihan media sudah disediakan setidaknya selama 55 tahun ke belakang kan?

Kaum pro radio juga selalu mencintai radionya dan tentu paling kehilangan dan kesel saat proyek #RadioGueMati dijalankan. Kaum setengah-setengah antara radio dan Spotify? Tergantung orangnya lah, motivasi mendengarkan radio apa.

Yang jelas, apapun pandangan kamu ke siaran radio sekarang, penggunaan radio harus dikawal banget. Radio sama berharganya dengan media online karena gratis, lalu radio-radio Jakarta juga masuk kampung dan daerah udik di Banten tanpa kalian sadari, sehingga memutuskan alasan radio Ibukota mati nggak akan berpengaruh karena masyarakatnya sudah "tech-savvy".

Di tangan salah, radio akan berubah menjadi salah. Masih mending salah kelola seperti lagu playlist jadi asal-asalan, itu-lagi-itu-lagi-sampai-kambing-bertelur, dan penyiar yang nggak oke. Yang berbahaya adalah kalau radio dijadikan alat propaganda untuk permusuhan. Penggunaan radio yang salah juga termasuk untuk kegiatan tidak senonoh, udah sempat ada yang terciduk karena memutar lagu dangdut erotis. 

Bahaya juga dijadikan alat propaganda politik, menjadi tidak adil karena daya jangkau radio ini luas dan sifat radio yang seperti mading kelas, bisa cuma didengar sekali lewat. Sementara ada politisi susah payah menebar jala ke masyarakat, eh ini ada yang seenaknya aja pakai aset publik.

Nggak Mau Itu Semua Terjadi?

Ayo dengar radio! Nggak cuma mendengarkan radio ya, tapi memantau radio kalau menemukan aktivitas mencurigakan.

Semacam ada yang ngerusuh - rusuh beneran lho seperti omongan yang bisa memancing tawuran dan pengerahan massa, siaran radio mengeluarkan pernyataan menyinggung agama lain, siaran radio yang "ganggu" saat peliputan bencana seperti terdengarnya suara tembakan - Elshinta pernah kena. Tentunya siaran esek-esek yang sangat frontal juga harus kita ciduk bersama.

Lapor ke KPI kalau terjadi di radio terdaftar di PRSSNI. Untuk radio gelap lapor ke Dirjen Postel, kalau perlu gandeng radio yang frekuensinya dirugikan, contoh melaporkan 98.6 FM akibat mengganggu Gen FM plus siaran aneh. Kalau sudah terkait teror(isme), lapor juga ke Densus 88 dan BNPT.

Nikmati Radio yang Ada

Satu lagi, nikmati radio yang udah ada. Beri masukan buat mereka, terutama buat bos-bos tingkat atasnya. Minta bos-bos tersebut mau rebranding kalau memang pasarnya ada, dengan meyakinkan didukung dengan data feedback sosmed yang jujur.... 

Semua radio ada kecocokan, kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terserah kamu mau sakit hati sama bosnya (mungkin ditolak ngelamar kerja di radio itu hehhe), mau sensi sama radio apa, tapi tetap jaga radio-radio besar itu mengudara. Kalau nanti ada radio besar yang wafat, biarlah digantikan sama yang profesional juga - atau mengerti apa yang dimau radio siaran setidaknya.

Janganlah radio kita "dikasih" ke teroris apalah itu, kayak yang baru kejadian di Swedia..... Wilayah frekuensi radio termasuk wilayah tak terlihat NKRI. Beda dengan internet yang memang virtual, kalau radio itu ada wujudnya gelombang transversal, tapi kan nggak bisa dilihat mata telanjang..... 

Mengosongkan radio dari orang yang benar-benar paham radio tambah memberi ruang untuk tangan jahil perusak negeri ini. Walau cuma di Jakarta.

Business image created by Whatwolf - Freepik.com Seekstrim itu kah? Sebagai pemantau radio yang sempat mati lalu hidup lagi, radio yan...

0 comments: