Radio Jadi Pertahanan Terakhir Musibah

9/29/2018 08:21:00 AM Sael 0 Comments



Lewat radio, aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam. - Sheila On 7

Lewat radio juga gue dengerin kabar terkini dari Palu. Tulisan ini diketik sambil mendengarkan RRI Pro 3 (88.8 FM). Terdengar kabar bahwa orang-orang di Palu kelaparan karena pedagang sudah tidak jualan. Saat ini (29/9 jam 10 malam) sudah ada upaya pengiriman bantuan dari Gorontalo, terutama makanan dan obat-obatan.

Kabar dari RRI Palu, ada 200 lebih pengungsi kekurangan makanan, minuman, air bersih, selimut.

Masih banyak lagi cerita menyedihkan dari Palu. Radio mengabarkan itu jauh lebih cepat dari televisi apalagi internet. Memang setiap ada musibah prinsip gue, "boleh tahu dari online, tapi dengarkan info real time dari radio."

Bahkan gue pun dapat kabar lagi, tsunami mencapai 6 meter karena ada warga yang sudah memanjat pohon tapi masih terkena tsunami juga di kota Palu. Padahal update di Wikipedia (rujukan ke media online) masih 5 meter bahkan orang-orang yang tahu dari media sosial hanya tahu 1,5m. Kemudian berita dibacakan dengan logat orang Palu.

Pertahanan Terakhir

Kabarnya jaringan komunikasi di Palu putus. Beberapa kali narasumber wawancara televisi dan radio putus kontak. Entah dari pemerintah atau malah lembaga masyarakat.

Boro-boro ngenet. Telepon aja gak bisa.

Gue buka video yang beredar di YouTube aja mau nangis. Sedih. Ibu-ibu dan anak-anak meraung menangis kehilangan anak-anaknya. Nama Tuhan diserukan di mana-mana tanda kepasrahan dan ketakutan. Informasi di YouTube itu belum termasuk informasi tambahan dari media mainstream.

Apalagi dengar kabar dari radio. It's even worse that I think before.

Dalam keadaan seperti ini memang radio yang paling bisa diandalkan untuk terhubung dengan dunia luar. Radio FM dan AM. Inilah pentingnya teknologi ini harus tetap dipertahankan di tengah zaman internet.

Sementara radio-radio berita memberikan kabar kepada dunia luar termasuk Jakarta, beberapa radio anak muda yang sudah berani bersiaran bertugas menghibur masyarakat dengan lagu-lagu populer. Menghibur mereka yang hanya kehilangan koneksi internet hingga sudah kehilangan keluarga. Siapa yang kuat berada dalam kesedihan berlarut-larut?

Apalagi perlu diingat salah satu tugas relawan yang gue tahu adalah menghibur anak-anak muda dan anak kecil agar tidak memikirkan bencana melulu. Begitu juga om-om dan tante-tante, diajak terdistraksi sebentar dari bencana agar tidak menjadi depresi bahkan gila. Mulai dari diajak masak di dapur umum hingga kegiatan seperti main catur dan sepak bola. Nah, radio yang berani bersiaran akan luar biasa meringankan tugas orang-orang ini.

Dan salah satu alasan gue menyebut radio adalah pertahanan terakhir: teknologinya paling murah ketimbang televisi apalagi reaktivasi BTS (menara seluler). Juga terbukti paling cepat direaktivasi. Televisi butuh power besar untuk pemancar, instalasi rumit, walau hanya relay dari Jakarta.

Sehingga biasanya dalam bencana alam, yang duluan aktif lagi adalah jaringan telepon (PSTN), radio, lalu televisi. Radio lebih cepat pemulihannya dari PSTN, apalagi dengan teknologi siaran tanpa butuh listrik AC (PLN), gue pernah lihat alat itu saat pameran radio. Ini yang memampukan radio ibukota bersiaran di kafe-kafe tanpa harus terhubung Internet dengan pusatnya. Alat yang umumnya digunakan saat darurat ini digunakan saat hari biasa untuk siaran keliling ke tempat nongkrong.

Tidak perlu alat itupun, asal menara radio dibangun di tempat tahan gempa dan desainnya benar, sudah pasti sangat resisten bencana.

Kalau sudah begini, yakin mau hidup tanpa radio?

Lewat radio, aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam. - Sheila On 7 Lewat radio juga gue dengerin kabar terkini dari Palu. Tulisan...

0 comments: