Curhat di Radio itu Pertolongan Pertama sebelum Psikolog

6/13/2019 01:57:00 AM Saelz 0 Comments

Kasus bunuh diri Chester Bennington membuat Indonesia sadar betul bahaya bunuh diri dan penyakit jiwa. Ever than before. Sebelum kematian vokalis Linkin Park itu, belum terlalu tinggi awareness akan kesehatan mental di negara "berflower" ini. Apalagi diperparah dengan kematian Jonghyun yang santer beritanya di mana-mana. Sejak saat itu sangat banyak yang memberi konsultasi psikologi dan bahkan saran psikiater yang bagus untuk mengobati masalah jiwa orang Indonesia.

Ada beberapa situs "tempat curhat" yang ditangani profesional, bukan crowdsourcing seperti Kaskus H2H dan media sosial (yang mayoritas diisi awam, bahkan ada yang membully). Contoh yang gue baru buka adalah saveyourself.id yang menawarkan curhat gratis, tentu saja kalau parah masalahnya akan dirujuk ke profesional.

Sebenarnya radio sudah melakukan fungsi ini sejak puluhan tahun silam,tapi kitanya sering nggak sadar. Plus kelemahan radio adalah terbatas waktu (kalau terbatas ruang sih sudah nggak sejak ada streaming). Fungsi tempat curhat ini sudah mulai diimbangi dengan situs-situs konsultasi online.

Mau tahu buktinya apa? Di I-radio 89.6 FM sekitar jam 9 malam, ada sesi segmen curhat bernama 100 Persen Curhat. Acara ini digawangi Indra The Rain, sekarang kalau tidak salah sering diganti penyiar lain yang gue kurang kenal. Yang curhat di acara ini banyak, mulai dari yang bahagia tentunya seperti dapat bonus di kantor dan ada lahiran, sampai ada yang cukup parah seperti gue pernah dengar ada yang terjerat kasus utang puluhan juta sama saudara sendiri. Gue sendiri pernah curhat via komentar Instagram, tapi posisi sedang di KRL pula (karena memang sering pulang malam saat acara ini digelar). Kalau nggak salah pernah juga curhat via WA.

Kalau yang ditelepon sama penyiarnya sih pernah di V Radio 106.6 FM. Mas Iwa K. Hehehe. Di sini suaramu akan direkam dan akan dipotong bagian pentingnya aja dan tentu "dibersihkan" dari kata-kata kotor yang bisa membuat mereka ditegur KPI.

Sejauh ini pengalaman curhat sama mereka tentu saja membuat sedikit lega karena sudah punya teman cerita lah setidaknya. Kita juga bisa mendengar cerita orang lain yang membuat kita bersyukur atau bahkan belajar menghadapi masalah, setidaknya "oh seharusnya saya setia sama pasangan karena efeknya bisa separah itu".

Kelemahan acara ini, ya namanya juga Indonesia dan KPI-nya.... Juga karena radio yang didengar berbagai lapisan umur. Curhat yang berhubungan dengan sex atau sejenisnya tentu tidak bisa diudarakan. Mungkin saja bisa sih kalau hanya via telepon (dibantu personal).

Untuk masalah luar biasa urgent dan butuh segera seperti bunuh diri dan kasus tertentu, sudah jelas tidak bisa lewat acara curhat radio karena kendala waktu. Sudah gitu belum tentu curhatmu mengudara. Namun kalau hanya sebagai pengantar sebelum memutuskan harus pergi ke psikolog atau nggak, memang acara curhat radio ini bisa menjadi solusi yang ampuh. Apalagi tujuan mereka adalah, "anda punya teman curhat, anda nggak sendiri, setidaknya masih ada saya yang menemani kamu". Misalnya dalam kasus kalau ke psikolog sudah kemalaman, bisa coba cerita ke radio dulu terkait masalahnya.

Jangan sedih. Kalau nggak ada satu orang pun yang peduli keadaanmu, ada Tuhan, pekerja psikologi, dan radio yang siap menemani kamu, unconditionally.

Sampai Juni 2019, ini daftar acara radio Jakarta yang menerima sesi curhat. Semakin hari semakin banyak radio Jakarta yang mengembalikan acara lawas ini, apalagi didorong dengan mental health awareness.

1. 89.6 I Radio (21.00-00.00, Senin-Jumat)
2. 97.1 RDI (lupa jamnya, sekitar 21.00, tapi harus kuat dengerin dangdutnya)
3. 93.9 Mersi (sekitar 20.00)
4. 102.2 Prambors (tapi hanya masalah cinta, jam 22.00-00.00)
5. 99.1 Delta (20.00-00.00)
6. 106.6 V Radio (21.00-00.00, efektif baru jam 9 malam)
7. 100.6 Heartline FM (01.00-05.00, ini segmen lintas agama, kalau acara yang digelar gereja kurang tahu. Heartline ini bukan punya denominasi tertentu.)

Oh ya, kalau radio tersebut nggak ada sesi curhat, coba juga titip salam via request lagu. Zaman sekarang, acara request lagu sering dijadikan "curhat gratisan" dan bisa jadi "psikolog gratis". Ini yang tidak akan bisa digantikan layanan streaming seperti Spotify. Sesi curhat ini ada di banyak radio kalau siang bolong.

Ke depannya gue berharap ada radio yang menjadi radio khusus konsultasi masalah pribadi. Kemudian, berharap juga acara-acara curhat di radio ini ditangani profesional seperti psikolog dan psikiater. Kalau nggak salah dulu ada di radio Sonora, tapi yang diulas psikolog ini adalah tumbuh kembang anak, belum sampai ke masalah pribadi.

Selamat beristirahat!

Kasus bunuh diri Chester Bennington membuat Indonesia sadar betul bahaya bunuh diri dan penyakit jiwa. Ever than before. Sebelum kematian vo...

0 comments:

@tempatbercakap dan Kebangkitan "Radio"

1/08/2019 07:14:00 PM Saelz 0 Comments


Salah satu teman gue, sesama pengamat media, bilang begini

Hal ini benar-benar terbukti dengan akun Instagram @tempatbercakap yang tiba-tiba naik daun. Akun ini dibuat Juni 2018 dan berkat idenya yang kreatif - plus support dari akun Instagram raksasa @dagelan, konsep baru yang mirip dengan drama radio ini dinikmati semua orang, sering gue lihat berseliweran di Snapgram teman-teman, membuat gue yang sangat jarang buka explore Instagram jadi kagum.




@ikkyaulia to someone [Monologue] : enough (a true story). #tempatbercakap . . Berbicara mengenai amarah seseorang dapat kita kaitkan dengan definisi "kemarahan" (John Patrick Chaplin,1989). Dalam bukunya yang berjudul Dictionary of Psychology, ia menjelaskan, bahwa marah berarti : suatu reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang (misalnya : ancaman, serangan, dan kekecewaan). . . Perasaan kecewa itu kemudian diungkapkan oleh Ikky, terlihat dalam kalimat "Kamu kira selamaini aku gak tau kalo kamu selalu jalan sama dia dibelakang aku?, aku tau itu", kemudian disambung dalam kalimat "aku udah capek, kamu gak berubah". Disini Ikky menjelaskan tentang kekecewaan dan realita mengenai apa yang ia alami selama ini, maka dari itu alam bawah sadar Ikky kemudian meminta alam sadarnya untuk menunjukan suatu reaksi emosional (yakni : marah). . . Marah di atas kemudian bukan hanya sebuah luapan emosi, tetapi juga bentuk mekanisme pertahanan diri (lihat Bab Dago). Dari penjelasan di atas, secara subjektif saya menilai bahwa, jika seseorang telah mencapai batas kesabarannya, maka alam bawah sadarnya mendorong dirinya untuk meluapkan emosi tersebut. Luapan emosi ini dilakukan guna menghilangkan stress yang akan dihasilkan oleh emosi yang tertahan tersebut. Artinya, seorang individu pada akhirnya akan mengeluarkan "amarah" ini guna mempertahankan dirinya dari keadaan yang tidak diinginkan. Sekian, salam dari indahnya jalanan di bawah Flyover jalan Tendean di malam hari ini. Selamat malam, semoga bahagia selalu 🌃 . . TAG TEMAN KALIAN YANG SEDANG MERASAKAN HAL INI, dan jangan lupa untuk menenangkannya ya 🙏 . . Video @donwlfr ditemani @smrdhn_ | Voiceover&Script @ikkyaulia (via Email). Semangat ya Ikky 🙏 | Caption @donwlfr | Lagu : Lovewave - The Night.
A post shared by 📍🗣 (@tempatbercakap) on

Apa yang teman gue bilang benar. Radio belum tentu akan selalu hadir dalam FM. Namun konsepnya - gue lebih suka menyebut legacy - bisa saja hidup lewat platform lain. Asli, gue nggak pernah menyangka di Instagram ada konsep demikian. Asli gue nggak pernah menyangka konsep yang udah gue pikirkan dari 2015 akhirnya baru muncul di Instagram beberapa bulan lalu.

Tempat Bercakap banyak menggunakan metode yang digunakan radio untuk menarik audience. Gue bahas singkat aja, tulisan ini ditargetkan bukan buat anak radio kebanyakan yang suka banyak panjang-panjang, tapi buat anak Instagram yang kebanyakan suka yang pendek-pendek. Uhuy.

Gue Banget

Siapa sih yang nggak suka tempat nongkrongnya disinggung dan disebut? Nggak ada.... kecuali dia menyebutkan fitnahan terkait tempat nongkrongnya. Ini yang diincar @tempatbercakap. Ketika dibahas tentang UI, anak-anak UI ngumpul semua. Ketika Tebet disinggung, anak so-called bahasa Jaksel berkumpul. Kenapa? Tempat nongkrongnya dibahas sama orang yang ngerti banget keseharian anak Jaksel. Hahaha.

Radio juga begitu, "gue banget", coba lu dengerin Jak FM sama Swaragama FM, emang bahasannya sama? Orang Jogja suruh dengerin masalah macet di Ibukota lah piye toh mbak.

Gambar yang Mendukung

Karena dipegang orang videografer, tentu saja kualitas video cukup digarap oleh @tempatbercakap. Agak beda dengan akun Instagram radio-radio FM yang kurang dari sisi videografi. Sampai sini, tentu punahlah kesan Instagram hanya ajang orang pamer muka, panjat social. Kebanyakan yang ngumpul di akun Tempat Bercakap juga mereka yang bosan dengan "golongan ngartis" di Instagram. Iya nggak mbak?

Drama yang Mendukung

Perhatikan baik-baik semua konten Tempat Bercakap. Ada dramanya. Iya! Gue agak kurang suka dengan drama-drama begitu sejujurnya, tapi pasti lebih banyak yang suka. Nah, Tempat Bercakap sadar bahwa banyak sisi kehidupan sehari-hari yang tidak terlihat di dunia ini. Dibawalah dalam percakapan, jadilah seperti drama radio.

Beberapa segmen radio di Ibukota gue amati menggunakan pattern serupa. Terutama siaran-siaran malam yang banyak menjual cerita kelelahan pekerja Ibukota sampai kisah cinta. Kalau siaran pagi mah......

Tiga poin utama itu yang sangat menjual Tempat Bercakap dan menaikkan popularitasnya di Instagram. Tertarik menyaingi?

Salah satu teman gue, sesama pengamat media, bilang begini Makanya itu alasannya knp saya bilang cm brand yg mati tp mediumnya ga mat...

0 comments:

Prambors, Kuat Karena Minim Saingan?

1/07/2019 07:33:00 PM Saelz 1 Comments

Di beberapa kota memang saingan Prambors banyak. Di rumahnya sendiri mati-matian melawan Trax FM dan Hard Rock FM. Di Bandung bisa dibilang Prambors sempat babak belur melawan Ardan, Oz, Paramuda, apalagi sejak masuknya Zora Radio versi baru - sampai menghentikan operasional siaran daerah selama 2 tahun. Semarang dan Surabaya malah kombinasi serangan Grup MRA dan pemain lokal seperti Istara, Jeje, EBS, C Radio, dan lain-lain.

Namun, apa sih rahasianya Prambors bisa segitu tegar menghadapi persaingan? Walau sejumlah pengamat radio nyinyir, lah Prambors ini sangat Jakarta sentris. Bahkan sesi siang aja nggak diisi penyiar lokal, sampai semua berubah sejak Wadyabala Hunt 2018. Toh bisnis mereka tetap makin kuat, bahkan pentolan mereka bisa auto ngartis. Coba bandingkan dengan Trax Troopers dan Ponggawa Oz yang tidak seeksis Wadyabala, padahal sama-sama radio besar, apalagi radio kecil.

Minim Pesaing dengan Kualitas Sepadan

Setelah gue mencoba melakukan Aircheck atau pemindaian semua frekuensi di Jawa Barat dan Jawa Tengah - semoga gue kesampaian melakukan di Jawa Timur, gue bisa simpulkan beberapa kota tidak punya pesaing yang sepadan dengan Prambors. Sama-sama radio anak muda, gue gak bandingkan sama radio dangdut atau radio target dewasa (Jak FM, Imelda, K-lite, JogjaFamily).

Di Kota Solo misalnya, radio dengan target anak muda yang diharapkan jadi pesaing yaitu 104.3 Sas FM dan 92.9 Solo Radio memiliki banyak kelemahan yang tidak dimiliki radio basis Jakarta. Solo Radio memiliki kelemahan penyiar yang "sebenarnya sama aja dengan Prambors" yaitu Jakarta-sentris, padahal radio ini hanya ada di Solo. Selain itu, kelemahan kualitas audio dan attitude penyiar dalam memulai percakapan. Masih mending dibanding Sas FM yang udah tahu bahwa pasarnya anak-anak kuliahan, eh malah memasukkan iklan pengobatan alternatif dan jamu tetes - dugaan gue kebijakan sentralistik Grup CPP yang pernah sampai masuk koran atau media online ya (?). Ditambah menyapa audience dengan "anda", udah macam textbook.

Kalau di Semarang, masih cukup mendingan karena Trax cukup mendorong radio-radio non Jakarta untuk memperbaiki kualitas siarannya. Jaringan CPP yaitu RCT FM belum gue pantau banget, terakhir sih RCT ini masih kurang lebih sama sensasinya dengan mendengarkan Oz Jakarta dan Pop FM Jakarta (Depok). Tapi di sini memang terlihat banget saingan Prambors dan Trax dari lokal sangat kurang, karena pasar radio dikuasai radio yang menarget orang tua. Ini juga salah satu penyebab anak muda kurang mendengarkan radio di sana tapi di Jakarta kok malah banyak anak muda yang dengar radio.

Di Bandung dan Jogja, memang radio dikuasai radio anak muda ketimbang radio dewasa, namun secara kualitas dan rolling playlist mereka berbeda jauh dengan Prambors. Ini mungkin menurut gue alasan Prambors memutar lagu "itu lagi itu lagi" karena ini yang tidak bisa ditawarkan dari playlist Ardan, Oz, Zora, dan lainnya. Kalau kelompok radio lokal itu berani mencoba memutar musik yang itu lagi itu lagi, bisa-bisa ditinggal pendengar.

Memperkuat Kota-Kota yang Ada

Membuat radio swasta berjaringan di Indonesia itu tidak semudah di Amerika Serikat apalagi Filipina dan Malaysia. Di Malaysia dengan mudahnya setiap pojok negara bagian ada radio Era, ada Zayan (grup Astro), dan lain-lain, sampai sangat minim pemain yang hanya kuat di satu negara bagian. Filipina juga sama, di nyaris tiap kota bisa ditemui jaringan basis Manila seperti Love, Yes, Barangay, Brigada, bahkan nyaris tidak ada pemain lokal. Pemain lokal yang signifikan palingan hanya Y101, WRock (itu juga pernah punya radio di Manila tapi dijual), dan Wild FM.

Kendala pertama adalah luasnya wilayah RI. Kendala kedua adalah mahalnya ongkos untuk mendirikan radio. Kendala ketiga biasanya perizinan (KPI) dan urusan ke Balai Monitoring. Sepertinya perlu dikaji sendiri.

Makanya, Prambors memperkuat jaringan yang udah ada. Bisa menguasai 8 kota itu hebat sekali (ketambahan satu kota yaitu Manado). Mereka habis-habisan mengenalkan diri di zaman Putuss (Dagienkz Desta). Sering ada roadshow dan bahkan konser lokal. Jangan dikira gampang investasi seperti itu.

Saat ini, kenapa Prambors seperti nggak mau memperkuat jaringan lokalnya? Bahkan di Jakarta sendiri jarang event? Mereka tengah berada di fase puncak, di mana tanpa perlu mengenalkan diri orang-orang udah tahu "oh itu radio Prambors, radio kawula muda, radio kekinian lagunya". Cukup menggunakan media sosial, media partner, dan iklan sedikit, orang sudah ngeh.

Bahaya Sales Decline

Nah, di kurva perkembangan bisnis, ada bahaya sales decline apabila perusahaan sudah ada di fase atas, tapi tidak ditingkatkan usaha pemasarannya. Prambors memasuki fase decline ketika orang-orang daerah mulai kabur karena Prambors tidak bisa memberikan informasi tentang kota jaringannya, tidak bisa selengkap pesaing yang main lokal seperti Gen FM Surabaya, Solo Radio misalnya. Apalagi urusan info lalu lintas.

Apalagi setelah munculnya kesadaran bahwa radio itu harusnya lokal, bukan berjaringan. Mewakili lokasi di mana ia berdiri. Prinsip di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung sangat kuat dalam bisnis radio, bahkan seharusnya begitu juga bisnis TV. Kalaupun berjaringan dari Jakarta, harusnya sekedar nama atau nilai dari Jakarta yang tidak merusak kebudayaan daerahnya (terutama logat dan "humor lokal").

Untuk mencegah sales decline ini, Prambors buru-buru menggelar Wadyabala Hunt. Satu hal yang mengejutkan, ternyata yang direkrut Wadyabala untuk daerah juga. Jadi Prambors bisa bersaing di jam siang dengan radio-radio lokal. Atau siaran seperti DGITM diharapkan bisa terintegrasi dengan berita lokal, sehingga Prambors tambah mengerti kebutuhan pendengar di jaringan daerahnya. Tambah rame yang denger.

Jangan sampai pasarnya direbut radio lain kasarnya lah gara-gara Sales Decline. Apalagi di Bandung dan Surabaya yang kuat radio lokalnya. Kalau di Jakarta, masalah sales decline ini ada faktor lain yaitu rotasi playlist, kesempatan radio pesaing terutama Grup MRA buat masuk. Nanti gue bahas.

Akhir kata, semangat terus buat radio kawula muda, dan masih ada lanjutannya terkait persaingan radio kawula muda ini, yaitu ...... Tunggu aja deh!

Di beberapa kota memang saingan Prambors banyak. Di rumahnya sendiri mati-matian melawan Trax FM dan Hard Rock FM. Di Bandung bisa dibilan...

1 comments:

Trax FM dan Loyalitas Fanbase

1/07/2019 02:23:00 AM Saelz 0 Comments


Nggak ada radio di Ibukota yang punya fans garis keras seperti penyiar-penyiar Trax FM saat ini. Dulu memang ada, yaitu Prambors dengan The Dandees dan Gen FM dengan TJ. Saat ini, gue rasa engagement acara mereka dengan para fans nggak sekuat Trax.

Definisi Fans Garis Keras

Ngefans sama penyiar itu biasa banget. Gue rasa radio-radio selain Trax juga punya fans, apalagi Prambors dengan beberapa penyiar yang langsung ngartis karena kuatnya jaringan Prambors di daerah (gue akan kaji di tulisan tersendiri). Lihat Kenny Djafar, Nadya Julia, Kresna Julio, antara mereka belum masuk sama udah masuk. Gue bedakan dengan yang punya fans dari siaran pertamanya kayak Desta, Gina, dan Narendra Pawaka (Eda). Atau di lingkaran radio MRA lain seperti Iwet Ramadhan, Ian Saybani yang merupakan hasil kaderisasi di radio tersebut.

Namun untuk Trax, gue menemukan kasus unik. Apa mungkin karena radio anak muda dan memang target pasarnya adalah orang yang nggak terlalu banyak pikiran karena belum nikah, hampir semua pengisi suara di sini punya banyak fans garis keras.

Bayangin, sudah hampir 10 tahun gue dengar Trax, selalu ada cerita fans yang datang ke Lantai 8 dan memberikan hadiah atau sekadar makanan. Memang pengamatan gue di Lantai 8 Sarinah sampai lift (gue mau masuk sungkan), keluar masuk radio ini agak bebas. Hal ini mempermudah tamu keluar masuk, mulai yang cuma ambil hadiah sampai fans.

Itu definisi garis keras. Bukan cuma follow Instagram, interaksi dengan penyiarnya kayak di radio lain. Berani datang ke studio radio adalah suatu kegilaan. Mau yang siaran udah artis ataupun masih manusia biasa, sama aja.

Level lebih gila lagi dilakukan fansnya Dmust Will dan Surya Molan. Fanbase nya sampai reunian, jalan-jalan bareng (untuk Clubsky jujur gue pun diajakin), untuk kasus Dmust dan Will, fans malah membantu trio "3 Buaya" buat bisa tetap eksis meskipun beda-beda radio. Di radio lain, yang sudah setingkat ini baru fansnya The Dandees, memang lebih gila sih sampai jualan merchandise.

Ada di Hampir Semua Trax Troopers

Hal yang menarik, sistem fanbase ini ada di hampir semua Trax Troopers. Bahkan Cia Wardhana, Akbarry, dan yang baru masuk seperti Cindy Lauw aja banyak yang ngefans, kebanyakan dari orang yang mobilitasnya tinggi di siang hari.

Bayangin, gue ketemu akun Instagram fans Akbarry yang memang baru sedikit followersnya. Namun, semua kegiatan ngartis Akbarry ditaruh di situ! Salah satu bukti banyaknya fans garis keras adalah nomor WA pribadi Akbarry yang menyebar waktu drama Surya Molan. (Sepertinya bukan cuma nomor CP dia yangyan Instagram) Dari mana lagi selain dari fansnya? Belum beberapa waktu gue sempat dengar ada Anak Trax yang mau menemani dia siaran siang.

Itu baru yang siarannya sendirian, di mana umumnya di radio selain Prambors dan Trax mereka terlupakan. Ada kajiannya sendiri, tapi gue kasitau sedikit: kebanyakan pendengar dua radio ini adalah golongan yang bisa mendengarkan radio di siang bolong jam kantor, ditambah mereka mendengar radio emang cari penyiar.

Gimana mereka yang siarannya keroyokan apalagi yang punya fans garis keras dari zaman batu kayak Surya sama Molan, Gita Bhebhita?

Kuncinya adalah Kekeluargaan

Sewaktu diwawancara salah satu media massa, fans Surya Molan emang pernah bilang tentang kekeluargaan yang ada di antara pendengar dan penyiar.

Hal ini sangat dimainkan penyiar-penyiar Trax dari dulu, sehingga di antara radio MRA, menurut gue radio ini paling jarang bongkar pasang penyiar. Hal ini dicoba diadopsi juga ke beberapa radio saudaranya, makanya acara Gofar banyak yang dengerin dan dia langgeng di Hard Rock. Sama halnya dengan acara curhat malem-malem Indra The Rain.

Radio mana yang penyiarnya ngajak bolang bareng tanpa syarat ribet? Dengan mudahnya kasih kontak person (gue punya Line salah satu Troopers dan aktif!)? Radio yang biarpun mereka udah jadi artis tapi mereka nggak sok ngartis dan masih tetap mau ngopi dengan pendengar yang cuma buruh pabrik?

Di kasus Trax FM, mereka memiliki pendengar, bukan cuma menarik pendengar. Simpel. Ini kunci acara radio langgeng sekalipun konten yang dijual mungkin kurang bagus ketimbang pesaing. Gimanapun kualitas konten mereka, namun mereka bersahabat dengan pendengar, mau kehabisan waktu sampai bokek untuk pendengar, ya bakal dicintai pendengar sampai ditangisi ketika pergi.

Ini jarang bahkan nyaris nggak pernah terjadi ketika acara televisi bubar. Atau butuh lebih dari 5 tahun seperti Berpacu dalam Melodi, Tukang Bubur Naik Haji. Kalau acara televisi cuma setahun, kayak ya udah, siapa yang inget? Apalagi sebulan.

Sementara sejumlah acara radio lain yang nggak sampai setahun seperti Coki Muslim di Oz, Dagienkz waktu di Indika sangat dirindukan kehadirannya. Ini juga terjadi di Trax untuk acara Trax Weekend Live, ketika acara itu bubar gara-gara Dillo Putra resign.

Ketika radio lain cuma punya 1-2 penyiar seperti itu bahkan nggak ada (gue akan buat kajian tersendiri), di Trax bisa dikatakan hampir semua punya massa militan. Kekuatan banget dong buat radio kuning hitam ini. Radio lain kebanyakan seperti cuek dengan pendengarnya - kadang karena pendengarnya juga cuek. Ini juga akan dikaji lagi, banyak alasan pendengar cuek seperti tujuan mendengar radio hanya buat musik, umur, mobilitas, dan lain-lain.

Nah Trax nggak, malah kayak sahabatan. Surya Molan bisa dimarahin pendengar ketika mengurangi talktime. Kan gila.

Toh sekali lagi, sifat radio adalah sebagai sahabat yang paling setia kedua setelah Tuhan kan? (Menurut gue kurang relevan bilang radio adalah sahabat tak terlihat ketika lu bisa lihat wujud penyiarnya lewat media lain).

Ketika ada masalah keluarga, keluarga tentu sedang nggak bisa dijadikan sahabat untuk menenangkan hati. Ketika seluruh orang di dunia ini membenci lo pun, setidaknya radio bisa jadi sahabat yang menanyakan kabar lo dan membuat tertawa sejenak, asal nggak salah channel.

Nggak ada radio di Ibukota yang punya fans garis keras seperti penyiar-penyiar Trax FM saat ini. Dulu memang ada, yaitu Prambors dengan T...

0 comments: