Prambors, Kuat Karena Minim Saingan?

1/07/2019 07:33:00 PM Sael 1 Comments

Di beberapa kota memang saingan Prambors banyak. Di rumahnya sendiri mati-matian melawan Trax FM dan Hard Rock FM. Di Bandung bisa dibilang Prambors sempat babak belur melawan Ardan, Oz, Paramuda, apalagi sejak masuknya Zora Radio versi baru - sampai menghentikan operasional siaran daerah selama 2 tahun. Semarang dan Surabaya malah kombinasi serangan Grup MRA dan pemain lokal seperti Istara, Jeje, EBS, C Radio, dan lain-lain.

Namun, apa sih rahasianya Prambors bisa segitu tegar menghadapi persaingan? Walau sejumlah pengamat radio nyinyir, lah Prambors ini sangat Jakarta sentris. Bahkan sesi siang aja nggak diisi penyiar lokal, sampai semua berubah sejak Wadyabala Hunt 2018. Toh bisnis mereka tetap makin kuat, bahkan pentolan mereka bisa auto ngartis. Coba bandingkan dengan Trax Troopers dan Ponggawa Oz yang tidak seeksis Wadyabala, padahal sama-sama radio besar, apalagi radio kecil.

Minim Pesaing dengan Kualitas Sepadan

Setelah gue mencoba melakukan Aircheck atau pemindaian semua frekuensi di Jawa Barat dan Jawa Tengah - semoga gue kesampaian melakukan di Jawa Timur, gue bisa simpulkan beberapa kota tidak punya pesaing yang sepadan dengan Prambors. Sama-sama radio anak muda, gue gak bandingkan sama radio dangdut atau radio target dewasa (Jak FM, Imelda, K-lite, JogjaFamily).

Di Kota Solo misalnya, radio dengan target anak muda yang diharapkan jadi pesaing yaitu 104.3 Sas FM dan 92.9 Solo Radio memiliki banyak kelemahan yang tidak dimiliki radio basis Jakarta. Solo Radio memiliki kelemahan penyiar yang "sebenarnya sama aja dengan Prambors" yaitu Jakarta-sentris, padahal radio ini hanya ada di Solo. Selain itu, kelemahan kualitas audio dan attitude penyiar dalam memulai percakapan. Masih mending dibanding Sas FM yang udah tahu bahwa pasarnya anak-anak kuliahan, eh malah memasukkan iklan pengobatan alternatif dan jamu tetes - dugaan gue kebijakan sentralistik Grup CPP yang pernah sampai masuk koran atau media online ya (?). Ditambah menyapa audience dengan "anda", udah macam textbook.

Kalau di Semarang, masih cukup mendingan karena Trax cukup mendorong radio-radio non Jakarta untuk memperbaiki kualitas siarannya. Jaringan CPP yaitu RCT FM belum gue pantau banget, terakhir sih RCT ini masih kurang lebih sama sensasinya dengan mendengarkan Oz Jakarta dan Pop FM Jakarta (Depok). Tapi di sini memang terlihat banget saingan Prambors dan Trax dari lokal sangat kurang, karena pasar radio dikuasai radio yang menarget orang tua. Ini juga salah satu penyebab anak muda kurang mendengarkan radio di sana tapi di Jakarta kok malah banyak anak muda yang dengar radio.

Di Bandung dan Jogja, memang radio dikuasai radio anak muda ketimbang radio dewasa, namun secara kualitas dan rolling playlist mereka berbeda jauh dengan Prambors. Ini mungkin menurut gue alasan Prambors memutar lagu "itu lagi itu lagi" karena ini yang tidak bisa ditawarkan dari playlist Ardan, Oz, Zora, dan lainnya. Kalau kelompok radio lokal itu berani mencoba memutar musik yang itu lagi itu lagi, bisa-bisa ditinggal pendengar.

Memperkuat Kota-Kota yang Ada

Membuat radio swasta berjaringan di Indonesia itu tidak semudah di Amerika Serikat apalagi Filipina dan Malaysia. Di Malaysia dengan mudahnya setiap pojok negara bagian ada radio Era, ada Zayan (grup Astro), dan lain-lain, sampai sangat minim pemain yang hanya kuat di satu negara bagian. Filipina juga sama, di nyaris tiap kota bisa ditemui jaringan basis Manila seperti Love, Yes, Barangay, Brigada, bahkan nyaris tidak ada pemain lokal. Pemain lokal yang signifikan palingan hanya Y101, WRock (itu juga pernah punya radio di Manila tapi dijual), dan Wild FM.

Kendala pertama adalah luasnya wilayah RI. Kendala kedua adalah mahalnya ongkos untuk mendirikan radio. Kendala ketiga biasanya perizinan (KPI) dan urusan ke Balai Monitoring. Sepertinya perlu dikaji sendiri.

Makanya, Prambors memperkuat jaringan yang udah ada. Bisa menguasai 8 kota itu hebat sekali (ketambahan satu kota yaitu Manado). Mereka habis-habisan mengenalkan diri di zaman Putuss (Dagienkz Desta). Sering ada roadshow dan bahkan konser lokal. Jangan dikira gampang investasi seperti itu.

Saat ini, kenapa Prambors seperti nggak mau memperkuat jaringan lokalnya? Bahkan di Jakarta sendiri jarang event? Mereka tengah berada di fase puncak, di mana tanpa perlu mengenalkan diri orang-orang udah tahu "oh itu radio Prambors, radio kawula muda, radio kekinian lagunya". Cukup menggunakan media sosial, media partner, dan iklan sedikit, orang sudah ngeh.

Bahaya Sales Decline

Nah, di kurva perkembangan bisnis, ada bahaya sales decline apabila perusahaan sudah ada di fase atas, tapi tidak ditingkatkan usaha pemasarannya. Prambors memasuki fase decline ketika orang-orang daerah mulai kabur karena Prambors tidak bisa memberikan informasi tentang kota jaringannya, tidak bisa selengkap pesaing yang main lokal seperti Gen FM Surabaya, Solo Radio misalnya. Apalagi urusan info lalu lintas.

Apalagi setelah munculnya kesadaran bahwa radio itu harusnya lokal, bukan berjaringan. Mewakili lokasi di mana ia berdiri. Prinsip di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung sangat kuat dalam bisnis radio, bahkan seharusnya begitu juga bisnis TV. Kalaupun berjaringan dari Jakarta, harusnya sekedar nama atau nilai dari Jakarta yang tidak merusak kebudayaan daerahnya (terutama logat dan "humor lokal").

Untuk mencegah sales decline ini, Prambors buru-buru menggelar Wadyabala Hunt. Satu hal yang mengejutkan, ternyata yang direkrut Wadyabala untuk daerah juga. Jadi Prambors bisa bersaing di jam siang dengan radio-radio lokal. Atau siaran seperti DGITM diharapkan bisa terintegrasi dengan berita lokal, sehingga Prambors tambah mengerti kebutuhan pendengar di jaringan daerahnya. Tambah rame yang denger.

Jangan sampai pasarnya direbut radio lain kasarnya lah gara-gara Sales Decline. Apalagi di Bandung dan Surabaya yang kuat radio lokalnya. Kalau di Jakarta, masalah sales decline ini ada faktor lain yaitu rotasi playlist, kesempatan radio pesaing terutama Grup MRA buat masuk. Nanti gue bahas.

Akhir kata, semangat terus buat radio kawula muda, dan masih ada lanjutannya terkait persaingan radio kawula muda ini, yaitu ...... Tunggu aja deh!

Di beberapa kota memang saingan Prambors banyak. Di rumahnya sendiri mati-matian melawan Trax FM dan Hard Rock FM. Di Bandung bisa dibilan...

1 comment: