@tempatbercakap dan Kebangkitan "Radio"

1/08/2019 07:14:00 PM Sael 0 Comments


Salah satu teman gue, sesama pengamat media, bilang begini

Hal ini benar-benar terbukti dengan akun Instagram @tempatbercakap yang tiba-tiba naik daun. Akun ini dibuat Juni 2018 dan berkat idenya yang kreatif - plus support dari akun Instagram raksasa @dagelan, konsep baru yang mirip dengan drama radio ini dinikmati semua orang, sering gue lihat berseliweran di Snapgram teman-teman, membuat gue yang sangat jarang buka explore Instagram jadi kagum.




@ikkyaulia to someone [Monologue] : enough (a true story). #tempatbercakap . . Berbicara mengenai amarah seseorang dapat kita kaitkan dengan definisi "kemarahan" (John Patrick Chaplin,1989). Dalam bukunya yang berjudul Dictionary of Psychology, ia menjelaskan, bahwa marah berarti : suatu reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang (misalnya : ancaman, serangan, dan kekecewaan). . . Perasaan kecewa itu kemudian diungkapkan oleh Ikky, terlihat dalam kalimat "Kamu kira selamaini aku gak tau kalo kamu selalu jalan sama dia dibelakang aku?, aku tau itu", kemudian disambung dalam kalimat "aku udah capek, kamu gak berubah". Disini Ikky menjelaskan tentang kekecewaan dan realita mengenai apa yang ia alami selama ini, maka dari itu alam bawah sadar Ikky kemudian meminta alam sadarnya untuk menunjukan suatu reaksi emosional (yakni : marah). . . Marah di atas kemudian bukan hanya sebuah luapan emosi, tetapi juga bentuk mekanisme pertahanan diri (lihat Bab Dago). Dari penjelasan di atas, secara subjektif saya menilai bahwa, jika seseorang telah mencapai batas kesabarannya, maka alam bawah sadarnya mendorong dirinya untuk meluapkan emosi tersebut. Luapan emosi ini dilakukan guna menghilangkan stress yang akan dihasilkan oleh emosi yang tertahan tersebut. Artinya, seorang individu pada akhirnya akan mengeluarkan "amarah" ini guna mempertahankan dirinya dari keadaan yang tidak diinginkan. Sekian, salam dari indahnya jalanan di bawah Flyover jalan Tendean di malam hari ini. Selamat malam, semoga bahagia selalu 🌃 . . TAG TEMAN KALIAN YANG SEDANG MERASAKAN HAL INI, dan jangan lupa untuk menenangkannya ya 🙏 . . Video @donwlfr ditemani @smrdhn_ | Voiceover&Script @ikkyaulia (via Email). Semangat ya Ikky 🙏 | Caption @donwlfr | Lagu : Lovewave - The Night.
A post shared by 📍🗣 (@tempatbercakap) on

Apa yang teman gue bilang benar. Radio belum tentu akan selalu hadir dalam FM. Namun konsepnya - gue lebih suka menyebut legacy - bisa saja hidup lewat platform lain. Asli, gue nggak pernah menyangka di Instagram ada konsep demikian. Asli gue nggak pernah menyangka konsep yang udah gue pikirkan dari 2015 akhirnya baru muncul di Instagram beberapa bulan lalu.

Tempat Bercakap banyak menggunakan metode yang digunakan radio untuk menarik audience. Gue bahas singkat aja, tulisan ini ditargetkan bukan buat anak radio kebanyakan yang suka banyak panjang-panjang, tapi buat anak Instagram yang kebanyakan suka yang pendek-pendek. Uhuy.

Gue Banget

Siapa sih yang nggak suka tempat nongkrongnya disinggung dan disebut? Nggak ada.... kecuali dia menyebutkan fitnahan terkait tempat nongkrongnya. Ini yang diincar @tempatbercakap. Ketika dibahas tentang UI, anak-anak UI ngumpul semua. Ketika Tebet disinggung, anak so-called bahasa Jaksel berkumpul. Kenapa? Tempat nongkrongnya dibahas sama orang yang ngerti banget keseharian anak Jaksel. Hahaha.

Radio juga begitu, "gue banget", coba lu dengerin Jak FM sama Swaragama FM, emang bahasannya sama? Orang Jogja suruh dengerin masalah macet di Ibukota lah piye toh mbak.

Gambar yang Mendukung

Karena dipegang orang videografer, tentu saja kualitas video cukup digarap oleh @tempatbercakap. Agak beda dengan akun Instagram radio-radio FM yang kurang dari sisi videografi. Sampai sini, tentu punahlah kesan Instagram hanya ajang orang pamer muka, panjat social. Kebanyakan yang ngumpul di akun Tempat Bercakap juga mereka yang bosan dengan "golongan ngartis" di Instagram. Iya nggak mbak?

Drama yang Mendukung

Perhatikan baik-baik semua konten Tempat Bercakap. Ada dramanya. Iya! Gue agak kurang suka dengan drama-drama begitu sejujurnya, tapi pasti lebih banyak yang suka. Nah, Tempat Bercakap sadar bahwa banyak sisi kehidupan sehari-hari yang tidak terlihat di dunia ini. Dibawalah dalam percakapan, jadilah seperti drama radio.

Beberapa segmen radio di Ibukota gue amati menggunakan pattern serupa. Terutama siaran-siaran malam yang banyak menjual cerita kelelahan pekerja Ibukota sampai kisah cinta. Kalau siaran pagi mah......

Tiga poin utama itu yang sangat menjual Tempat Bercakap dan menaikkan popularitasnya di Instagram. Tertarik menyaingi?

Salah satu teman gue, sesama pengamat media, bilang begini Makanya itu alasannya knp saya bilang cm brand yg mati tp mediumnya ga mat...

0 comments: