Trax FM dan Loyalitas Fanbase

1/07/2019 02:23:00 AM Saelz 0 Comments


Nggak ada radio di Ibukota yang punya fans garis keras seperti penyiar-penyiar Trax FM saat ini. Dulu memang ada, yaitu Prambors dengan The Dandees dan Gen FM dengan TJ. Saat ini, gue rasa engagement acara mereka dengan para fans nggak sekuat Trax.

Definisi Fans Garis Keras

Ngefans sama penyiar itu biasa banget. Gue rasa radio-radio selain Trax juga punya fans, apalagi Prambors dengan beberapa penyiar yang langsung ngartis karena kuatnya jaringan Prambors di daerah (gue akan kaji di tulisan tersendiri). Lihat Kenny Djafar, Nadya Julia, Kresna Julio, antara mereka belum masuk sama udah masuk. Gue bedakan dengan yang punya fans dari siaran pertamanya kayak Desta, Gina, dan Narendra Pawaka (Eda). Atau di lingkaran radio MRA lain seperti Iwet Ramadhan, Ian Saybani yang merupakan hasil kaderisasi di radio tersebut.

Namun untuk Trax, gue menemukan kasus unik. Apa mungkin karena radio anak muda dan memang target pasarnya adalah orang yang nggak terlalu banyak pikiran karena belum nikah, hampir semua pengisi suara di sini punya banyak fans garis keras.

Bayangin, sudah hampir 10 tahun gue dengar Trax, selalu ada cerita fans yang datang ke Lantai 8 dan memberikan hadiah atau sekadar makanan. Memang pengamatan gue di Lantai 8 Sarinah sampai lift (gue mau masuk sungkan), keluar masuk radio ini agak bebas. Hal ini mempermudah tamu keluar masuk, mulai yang cuma ambil hadiah sampai fans.

Itu definisi garis keras. Bukan cuma follow Instagram, interaksi dengan penyiarnya kayak di radio lain. Berani datang ke studio radio adalah suatu kegilaan. Mau yang siaran udah artis ataupun masih manusia biasa, sama aja.

Level lebih gila lagi dilakukan fansnya Dmust Will dan Surya Molan. Fanbase nya sampai reunian, jalan-jalan bareng (untuk Clubsky jujur gue pun diajakin), untuk kasus Dmust dan Will, fans malah membantu trio "3 Buaya" buat bisa tetap eksis meskipun beda-beda radio. Di radio lain, yang sudah setingkat ini baru fansnya The Dandees, memang lebih gila sih sampai jualan merchandise.

Ada di Hampir Semua Trax Troopers

Hal yang menarik, sistem fanbase ini ada di hampir semua Trax Troopers. Bahkan Cia Wardhana, Akbarry, dan yang baru masuk seperti Cindy Lauw aja banyak yang ngefans, kebanyakan dari orang yang mobilitasnya tinggi di siang hari.

Bayangin, gue ketemu akun Instagram fans Akbarry yang memang baru sedikit followersnya. Namun, semua kegiatan ngartis Akbarry ditaruh di situ! Salah satu bukti banyaknya fans garis keras adalah nomor WA pribadi Akbarry yang menyebar waktu drama Surya Molan. (Sepertinya bukan cuma nomor CP dia yangyan Instagram) Dari mana lagi selain dari fansnya? Belum beberapa waktu gue sempat dengar ada Anak Trax yang mau menemani dia siaran siang.

Itu baru yang siarannya sendirian, di mana umumnya di radio selain Prambors dan Trax mereka terlupakan. Ada kajiannya sendiri, tapi gue kasitau sedikit: kebanyakan pendengar dua radio ini adalah golongan yang bisa mendengarkan radio di siang bolong jam kantor, ditambah mereka mendengar radio emang cari penyiar.

Gimana mereka yang siarannya keroyokan apalagi yang punya fans garis keras dari zaman batu kayak Surya sama Molan, Gita Bhebhita?

Kuncinya adalah Kekeluargaan

Sewaktu diwawancara salah satu media massa, fans Surya Molan emang pernah bilang tentang kekeluargaan yang ada di antara pendengar dan penyiar.

Hal ini sangat dimainkan penyiar-penyiar Trax dari dulu, sehingga di antara radio MRA, menurut gue radio ini paling jarang bongkar pasang penyiar. Hal ini dicoba diadopsi juga ke beberapa radio saudaranya, makanya acara Gofar banyak yang dengerin dan dia langgeng di Hard Rock. Sama halnya dengan acara curhat malem-malem Indra The Rain.

Radio mana yang penyiarnya ngajak bolang bareng tanpa syarat ribet? Dengan mudahnya kasih kontak person (gue punya Line salah satu Troopers dan aktif!)? Radio yang biarpun mereka udah jadi artis tapi mereka nggak sok ngartis dan masih tetap mau ngopi dengan pendengar yang cuma buruh pabrik?

Di kasus Trax FM, mereka memiliki pendengar, bukan cuma menarik pendengar. Simpel. Ini kunci acara radio langgeng sekalipun konten yang dijual mungkin kurang bagus ketimbang pesaing. Gimanapun kualitas konten mereka, namun mereka bersahabat dengan pendengar, mau kehabisan waktu sampai bokek untuk pendengar, ya bakal dicintai pendengar sampai ditangisi ketika pergi.

Ini jarang bahkan nyaris nggak pernah terjadi ketika acara televisi bubar. Atau butuh lebih dari 5 tahun seperti Berpacu dalam Melodi, Tukang Bubur Naik Haji. Kalau acara televisi cuma setahun, kayak ya udah, siapa yang inget? Apalagi sebulan.

Sementara sejumlah acara radio lain yang nggak sampai setahun seperti Coki Muslim di Oz, Dagienkz waktu di Indika sangat dirindukan kehadirannya. Ini juga terjadi di Trax untuk acara Trax Weekend Live, ketika acara itu bubar gara-gara Dillo Putra resign.

Ketika radio lain cuma punya 1-2 penyiar seperti itu bahkan nggak ada (gue akan buat kajian tersendiri), di Trax bisa dikatakan hampir semua punya massa militan. Kekuatan banget dong buat radio kuning hitam ini. Radio lain kebanyakan seperti cuek dengan pendengarnya - kadang karena pendengarnya juga cuek. Ini juga akan dikaji lagi, banyak alasan pendengar cuek seperti tujuan mendengar radio hanya buat musik, umur, mobilitas, dan lain-lain.

Nah Trax nggak, malah kayak sahabatan. Surya Molan bisa dimarahin pendengar ketika mengurangi talktime. Kan gila.

Toh sekali lagi, sifat radio adalah sebagai sahabat yang paling setia kedua setelah Tuhan kan? (Menurut gue kurang relevan bilang radio adalah sahabat tak terlihat ketika lu bisa lihat wujud penyiarnya lewat media lain).

Ketika ada masalah keluarga, keluarga tentu sedang nggak bisa dijadikan sahabat untuk menenangkan hati. Ketika seluruh orang di dunia ini membenci lo pun, setidaknya radio bisa jadi sahabat yang menanyakan kabar lo dan membuat tertawa sejenak, asal nggak salah channel.

Nggak ada radio di Ibukota yang punya fans garis keras seperti penyiar-penyiar Trax FM saat ini. Dulu memang ada, yaitu Prambors dengan T...

0 comments: